FIWS: Bukan Masalah Antisemit tapi Masalah Penjajahan

 FIWS: Bukan Masalah Antisemit tapi Masalah Penjajahan

MediaUmat Pernyataan Rabi Yehuda Kaploun, utusan khusus Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk memerangi antisemitisme, yang intinya mengaku ‘mengubah narasi antisemitisme di berbagai negara termasuk mengubah buku-buku bacaan dan pendidikan di Indonesia dan dunia digital’ dinilai keliru karena masalah yang terjadi sejatinya bukan antisemit (anti-Yahudi) melainkan anti-penjajahan yang dilakukan entitas penjajah Zionis Yahudi.

“Perlu ditegaskan, masalah ini sejatinya bukanlah masalah antisemit tetapi sesungguhnya masalah penjajahan,” ujar Direktur Forum on Islamic World Studies (FIWS) Farid Wadjdi kepada media-umat.com, Rabu (24/12/2025).

Menurut Farid, itulah kontranarasi yang harus dibangun melawan narasi bohong antisemit. “Itulah kontranarasi yang harus kita bangun. Dibangun bukan atas dasar kebohongan, tetapi atas dasar fakta yang objektif bahwa yang terjadi sekarang itu adalah penjajahan [terhadap Palestina],” ujarnya.

Maka, jelasnya, yang harus dilakukan umat Islam itu bukan sekadar memberikan bantuan kemanusiaan kepada korban penjajahan yakni Muslim Palestina. Namun juga harus mengerahkan pasukan untuk mengenyahkan entitas penjajah Zionis Yahudi dari bumi Palestina dengan jihad fisabilillah.

“Karena itu apa yang harus dilakukan umat Islam? Tidak sekadar memberikan bantuan kemanusiaan atau semacam seruan-seruan damai yang justru itu mengokohkan eksistensi entitas penjajah Yahudi. Jadi, yang harus diserukan adalah seruan jihad fisabilillah oleh tentara-tentara kaum Muslim,” tegasnya.

Jadi, tegasnya, kaum Muslim harus menolak propaganda yang disebut memerangi antisemit. Jelas, ini propaganda yang bukan netral tapi propaganda yang menjadi instrumen ideologis Zionis Barat.

“Untuk apa? Untuk membungkam kritik terhadap penjajahan Palestina karena menyamakan kritik terhadap penjajahan yang dilakukan Israel itu sebagai kebencian terhadap Yahudi (antisemit). Inilah yang disebut penyimpangan makna (taḥrīf al-mafāhīm),” ujarnya.

Menurut Farid, setidaknya ada tiga target dari penyimpangan makna tersebut. Pertama, untuk menutup-nutupi apa yang terjadi di Palestina berupa genosida. Kedua, untuk mengalihkan persoalan dari penjajahan yang itu benar-benar nyata ke persoalan antisemit. Ketiga, untuk membungkam perjuangan umat Islam untuk membebaskan tanah Palestina.

Perang Pemikiran

Pernyataan Kaploun termasuk melakukan pengubahan narasi melalui buku pelajaran di Indonesia, menurut Farid mengonfirmasi ghazwul fikri (perang pemikiran) nyata dan tengah terjadi.

Perang pemikiran ini, ungkapnya, penting dilakukan karena pemikiran inilah yang nanti akan mengubah sikap, mengubah persepsi, mengubah penilaian terhadap segala sesuatu.

“Karena itu mereka merasa sangat penting untuk melakukan perang pemikiran. Karena itu, umat Islam juga harus sadar persis bahwa ghazwul fikri, termasuk juga ghazwul tsaqafi (perang ide dan nilai), adalah suatu perang yang nyata,” terangnya.

Instrumen yang paling memberikan pengaruh besar, tegas Farid, adalah instrumen pendidikan. Karena pendidikan itu dilakukan secara sistemik. Apalagi itu menjadi kurikulum negara. Seperti yang ditengarai terjadi di beberapa negara Timur Tengah, dengan menghilangkan terminologi jihad fisabilillah, atau menghilangkan penjelasan ayat-ayat Al-Qur’an tentang orang-orang Yahudi.

“Artinya apa? Dengan pendidikan yang terus menerus, kalaupun tidak ada dukungan terhadap Zionis, tetapi paling tidak normalisasi terhadap keberadaan entita penjajah Yahudi. Jadi, seolah-olah mereka itu layak [eksis sebagai negara di atas tanah kharajiah kaum Muslim],” terangnya.

Oleh karena itu, sebutnya, untuk merespons perang pemikiran, kekuatan pertama umat Islam adalah akidah. Akidah inilah yang harus menjadi dasar. Yang kedua, umat harus memiliki kesadaran politik (al-wa‘yu as-siyāsī). Tanpa kesadaran politik yang tinggi, umat Islam akan mudah terjebak propaganda seperti ini.

“Jika kita berbicara tentang al-wa‘yu as-siyāsī, maka pilarnya ada dua. Pertama, cara pandang global (naẓratun ilā al-‘ālam). Kedua, cara pandang khusus (min zāwiyah khāṣṣah), yaitu dari sudut pandang akidah Islam,” terangnya.

Karena itu, jelas Farid, umat Islam harus punya sudut pandang global. Ketika melihat yang dilakukan oleh Amerika tidak bisa dilihat secara parsial tapi harus dilihat secara global. Demikian juga ini menegaskan sistem pendidikan itu harus dibangun berdasarkan akidah Islam.

“Karena inilah yang akan membentengi itu,” pungkas Farid.[] Joko Prasetyo

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini:

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *