MediaUmat – Direktur Forum on Islamic World Studies (FIWS) Farid Wadjdi menyayangkan pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang mengaku sebagai pengagum Perdana Menteri India Narendra Modi, mengingat Indonesia merupakan negara dengan mayoritas penduduk Muslim terbesar di dunia.
“Sebagai negeri dengan mayoritas penduduk Muslim, tentu kita sangat menyayangkan pernyataan Presiden Prabowo tersebut,” ujarnya kepada media-umat.com, Kamis (9/7/2026).
Tanggapan ini mencuat setelah Presiden Prabowo menyampaikan kekagumannya saat berpidato di hadapan diaspora India dalam acara Indian Community Reception di Jakarta International Convention Center (JICC), Selasa (7/7/2026). Acara tersebut menjadi malam penutup rangkaian kunjungan kenegaraan PM Modi selama tiga hari di Jakarta.
Farid menilai sikap ramah tersebut kontradiktif dengan rekam jejak Narendra Modi dan partainya, Bharatiya Janata Party (BJP), yang kerap menjalankan politik Hindutva atau nasionalisme Hindu yang mendiskriminasi kaum Muslim.
“Kebijakan tersebut mencakup pencabutan status khusus Kashmir, pengesahan Citizenship Amendment Act (CAA), hingga pembiaran kekerasan terhadap minoritas Muslim di India,” terangnya.
Bahkan, Farid menyoroti laporan Human Rights Watch yang menyebut pidato kampanye Modi pada Pemilu India 2024 sebagai ujaran kebencian (hate speech) karena menuding umat Islam sebagai “penyusup” yang akan merebut kekayaan negara.
“Sejak BJP berkuasa pada 2014, kehidupan sekitar 200 juta umat Islam di India mengalami berbagai tekanan, mulai dari persekusi oleh kelompok yang main hakim sendiri hingga peningkatan eskalasi Islamofobia,” lanjut Farid.
Teladan Pemimpin Islam
Menurut Farid, kunjungan kenegaraan PM Modi seharusnya menjadi momentum bagi Presiden Indonesia untuk menyuarakan pembelaan terhadap nasib umat Islam di India, bukan justru memberikan sanjungan.
Ia kemudian mencontohkan ketegasan Rasulullah SAW saat membela kehormatan Muslimah yang dilecehkan oleh Yahudi Bani Qainuqa’, serta tindakan Khalifah Al-Mu’tashim Billah yang memobilisasi pasukan besar demi menyelamatkan seorang Muslimah di Kota Ammuriyah.
“Inilah sikap yang seharusnya diambil oleh seorang penguasa Muslim, bukan malah bersahabat dan menjadikan penguasa yang memiliki rekam jejak kebijakan yang merugikan umat Islam sebagai idola,” tegas Farid.
Terakhir, Farid pun menyitir Al-Qur’an surah Hud ayat 113 yang melarang umat Islam memberi dukungan kepada orang-orang zalim.
“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim sehingga kamu disentuh api neraka.” Para ulama tafsir menegaskan ayat ini sebagai larangan memberikan dukungan atau simpati kepada orang-orang zalim. Termasuk melarang kaum mukmin mendukung, membantu, atau meridhai kezaliman.” pungkasnya.[] Zainul Krian
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat