Farid Wadjdi: Perjanjian Nuklir AS-Saudi Perkuat Dominasi AS

MediaUmat Perjanjian kerja sama energi nuklir sipil antara Amerika Serikat dan Arab Saudi dinilai bukan sekadar kerja sama energi biasa, melainkan instrumen politik untuk memperkuat dominasi Washington di kawasan Timur Tengah.

“Perjanjian energi nuklir ini bukanlah perjanjian murni tentang energi, tapi adalah keinginan Amerika untuk lebih memperkuat dominasinya di Timur Tengah,” ujar Direktur Forum on Islamic World Studies (FIWS) Farid Wadjdi dalam acara Membongkar Isu (Mbois): Kesepakatan Nuklir AS-Arab Saudi: Amerika Untung, ZIO-N1S Senang! di kanal YouTube Tabloid Media Umat, Rabu (29/7/2026).

Pernyataan tersebut merespons kesepakatan nuklir sipil bernilai puluhan miliar dolar pada Rabu (22/7/2026), yang disusul penegasan Presiden Donald Trump pada Kamis (23/7/2026) agar Arab Saudi bergabung dalam Abraham Accords untuk normalisasi hubungan dengan Israel.

Persyaratan ini dinilai Farid memperlihatkan sikap tebang pilih Washington. Menurutnya, AS terkesan membuka ruang teknologi nuklir bagi Arab Saudi, sementara di sisi lain menekan keras kemampuan pengayaan uranium Iran.

Farid menilai, skema Abraham Accords hanyalah dalih yang berujung menguntungkan Israel. Normalisasi tersebut dinilai sama saja dengan mengakui eksistensi penjajah sekaligus membenarkan tindakan kejahatan dan genosida terhadap Palestina, dengan alasan keliru bahwa entitas tersebut adalah negara berdaulat yang terancam.

Selain itu, ia menegaskan, AS menerapkan standar ganda dalam rezim non-proliferasi nuklir hanya sebagai alat kendali geopolitik demi membendung pengaruh rival global seperti Rusia dan Cina.

Perspektif Politik Islam

Melihat kuatnya jebakan ketergantungan geopolitik tersebut, Farid menyoroti pentingnya negara-negara Muslim beralih pada perspektif politik Islam.

“Umat Islam harus beralih pada perspektif politik Islam dan mengembangkan teknologi strategis secara mandiri demi menjaga kedaulatan,” tegasnya.

Prinsip kemandirian ini berlandaskan Al-Qur’an surah al-Anfal ayat 60 yang memerintahkan umat Islam menyiapkan kekuatan pertahanan untuk menggentarkan musuh. Selain itu, surah an-Nisa ayat 141 secara tegas melarang pemberian jalan atau celah bagi pihak luar untuk menguasai kaum Muslim.

Dengan demikian, sambungnya, paling tidak ada dua syarat utama yang harus dipenuhi umat Islam saat mengembangkan teknologi strategis ini, yaitu penguasaan mutlak atas teknologi nuklir itu sendiri dan jaminan bahwa penguasaannya tidak sedikit pun memberi celah bagi negara imperialis untuk mengendalikan umat.

“Memang bukan perkara yang mudah pada saat sekarang ini, tapi umat Islam harus terus mencoba untuk melakukan itu,” pungkasnya.[] Zainul Krian

apatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini: