Fakta Penyiraman Air Keras kepada Aktivis Kontras

MediaUmat Membahas tentang fakta-fakta terkait penyiraman air keras terhadap aktivis Kontras Andri Yunus yang dilakukan oleh anggota Badan Intelijen Strategis (Bais) TNI, Direktur Indonesia Justice Monitor (IJM) Agung Wisnuwardana melihat ada beberapa spekulasi.

“Saya belum bicara spekulasi ini fakta. Nah, dari sekian fakta tadi menimbulkan beberapa persoalan spekulasi ya, dugaan-dugaan,” ujarnya dalam Membongkar Isu (Mbois): Kritik Dibalas Air Keras, Sabtu (4/4/2026) di kanal YouTube Tabloid Media Umat.

Fakta

Berbicara terkait fakta yang terjadi, Agung menilai konferensi pers yang dilakukan oleh TNI dan setelah itu juga dilakukan oleh Polri sangat unik. Sebab TNI menyebutkan empat pelaku, sementara polisi menyebutkan dua pelaku.

“Sedangkan investigasi dari tim advokasi untuk demokrasi yang terdiri dari masyarakat sipil malah mendeteksi ada kurang lebih 13 pelaku yang melakukan aktivitas di sana saat itu,” sebutnya.

Fakta berikutnya, kata Agung, pelaku walaupun menyebut dirinya adalah anggota dari Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI, tapi yang unik adalah pelaku itu menampakkan dirinya dan tidak takut dengan adanya CCTV di sekitar situ.

“Padahal CCTV sangat bisa membaca, dan sebagai anggota intelijen tentu pelaku sangat paham sekali bahwa di sekitar wilayah Salemba itu banyak sekali CCTV dan sangat mudah untuk ditangkap oleh CCTV,” bebernya.

Spekulasi

Sehingga berdasarkan fakta-fakta tersebut, Agung mengatakan, ada beberapa dugaan atau spekulasi terkait peristiwa ini.

Pertama, ini operasi resmi dari BAIS TNI. Ia memandang, operasi yang dilakukan lewat Komando Badan Intelijen Strategis ini diduga kuat karena kritik yang dilakukan oleh Andri Yunus terhadap pengesahan Undang-Undang TNI. Dan saat ini Andri Yunus sedang melakukan judicial review terhadap Undang-Undang TNI.

Kedua, operasi ini mustahil dilakukan oleh BAIS. Agung menyebut dugaan kedua ini muncul karena biasanya operasi intelijen itu harus memenuhi apa yang disebut dengan sekresi, kerahasiaan. Namanya kerahasiaan tentu harus ada upaya sedemikian rupa dengan apa yang disebut covered operation.

“Jadi, jangan sampai operasi itu terlihat, jangan sampai operasi itu terbaca. Kalau melihat dari keterbukaan yang dilakukan oleh pelaku anggota Bais ini yang tidak pakai helm sehingga nampak mukanya, ini menunjukkan sesuatu yang tidak selayaknya sebagai operasi intelijen,” jelasnya.

Ketiga, ini adalah operasi merah atau dalam bahasa lain disebut dengan false flag operation atau operasi yang terselubung. Agung menduga, ada perintah di luar komando yang ada di dalam tubuh Bais atau tubuh TNI. Hal ini seperti yang pernah terjadi pada kasus G30S PKI, yakni ada keretakan di tubuh Angkatan Darat, kemudian ada kelompok Angkatan Darat yang melakukan operasi di luar perintah.

“Hal ini berarti menunjukkan keretakan rantai komando dari militer itu sendiri,” terangnya.

Keempat, kambing hitam. Agung mengungkapkan, operasi ini sengaja dirancang untuk terungkap demikian rupa dan dilanjut lagi dengan false flag operation. Kambing hitam ini sengaja dirancang, terungkap, terbuka sedemikian rupa untuk merusak citra dari rezim yang ada.

“Sehingga rezim Prabowo di tengah situasi ekonomi yang berat seperti ini, di tengah problem-problem yang ada bisa menambah buruk wajah rezim Prabowo dan ujungnya bisa untuk melengserkan Prabowo,” terangnya.

Kelima, operasi itu dilakukan rezim ini sendiri. Agung memandang operasi ini sengaja dibuka demikian rupa terus nanti rezim tampil sebagai pahlawan dengan membuka ini semua dan kemudian membereskan ini semua.

“Lima dugaan ini yang kemungkinan spekulasi bisa terjadi terkait dengan kondisi yang ada ini,” pungkasnya.[] Agung Sumartono

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini: