Di Arab Saudi, kerumunan orang merayakan Hari Nasional dengan pengibaran bendera, parade, dan pertunjukan militer, di tengah meningkatnya ketegangan regional.
Dalam konteks ini, Dr. Faisal bin Abdulrahman Asrah, Atase Kebudayaan di Kedutaan Besar Saudi di Ankara, menulis sebuah artikel berjudul: “Hari Nasional ke-96 Kerajaan Arab Saudi … Akar yang Kokoh dan Identitas yang Tak Tergoyahkan”. Artikel tersebut menyatakan:
“Pembangunan dan pertumbuhan dengan bangga dan bermartabat, kemajuan dan perkembangan, pembangunan dan kemakmuran, keamanan dan ketenangan … unsur-unsur ini menonjol sebagai faktor utama yang telah membentuk ciri-ciri Kerajaan Arab Saudi sejak berdirinya negara besar dan kuat ini oleh sang Pendiri Raja Abdulaziz bin Abdul Rahman Al Saud. Seperti hari ini, tepatnya pada tahun 1932, setelah 32 tahun perjuangan dan usaha, sang Pendiri Raja Abdulaziz menyatakan penyatuan negara di bawah panji ‘Lā Ilāha Illallāh Muhammad Raslullāh, Tidak ada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah Rasul Allah’ dan menamai negeri itu dengan Kerajaan Arab Saudi. Selama proses ini, Raja Abdulaziz meletakkan fondasi yang kokoh bagi struktur negara besar ini berdasarkan Al-Quran dan Sunnah Nabi Muhammad (saw), mengikuti jejak leluhurnya, keluarga Al Saud.
Maka lahirlah sebuah negara muda yang membedakan dirinya dengan menerapkan hukum Islam dan menyebarkan ajaran toleransi dan nilai-nilai kemanusiaan ke seluruh dunia. Saat negara, pemerintah, dan warga negara merayakan Hari Nasional yang abadi ini, mereka menikmati kemakmuran negeri, potensi pembangunan, bangga akan kekuatannya, memuji prestasinya, dan memegang teguh harapan akan masa depan yang mewujudkan impian mereka dan bergerak maju dengan langkah mantap untuk generasi mendatang. Kemajuan menuju tujuan-tujuan ini dicapai di bawah kepemimpinan bijaksana yang telah mengangkat negeri ini ke tingkat negara-negara maju dan memobilisasi semua sumber daya untuk memastikan bahwa warga negara dan penduduk sama-sama hidup bermartabat, aman, dan stabil.”
Untuk lebih memahami ilusi dan fakta, ada baiknya kita menengok sekilas pemerintahan keluarga Al Saud di masa lalu:
Ketika membahas sejarah Arab Saudi, hal pertama yang terlintas dalam pikiran adalah Wahhabisme. Pendirinya adalah Muhammad bin Abdul Wahhab, seorang tokoh terkemuka dalam mazhab Hanbali dalam ilmu hukum Islam. Meskipun Wahhabisme adalah salah satu aliran pemikiran Islam, Inggris menggunakannya sebagai alat untuk memicu perselisihan sektarian di dalam Negara Khilafah Utsmani dan untuk menyerang jantung kekuasaannya. Namun, para pengikut aliran ini tidak menyadari hal tersebut, dan Muhammad bin Abdul Wahhab sama sekali tidak memiliki hubungan dengan Inggris. Namun yang memiliki hubungan sangat kuat dengan Inggris adalah Muhammad bin Saud dan putranya. Faktanya bahwa kaum Wahhabi jelas berada di dalam negara Islam di bawah kepemimpinan Muhammad bin Saud, yang memerintah Diriyah, dan kemudian diteruskan putranya Abdul Aziz. Lebih jauh lagi, setelah berkenalan dengan Muhammad bin Abdul Wahhab dan menikahi putrinya, Muhammad bin Saud secara aktif mendukung penyebaran Wahhabisme. Dukungan ini sampai pada invasi ke negeri-negeri yang berada di bawah kekuasaan Khilafah. Bahkan mereka mengangkat pedang melawan Khalifah Utsmani, dan bentrok dengan Tentara Islam dan tentara Khalifah. Faktanya bahwa Muhammad bin Abdul Wahhab ingin merampas tanah Islam dari Khalifah, lalu mengaturnya sesuai pandangannya, dan melenyapkan semua karya mazhab Islam lainnya dengan kekuatan pedang. Artinya, Saudi berupaya meraih kekuasaan politik dengan memanfaatkan pengaruh Muhammad bin Abdul Wahhab di kawasan tersebut.
Pada tahun 1800, pasukan Saudi telah tumbuh cukup kuat untuk melancarkan serangan ke Irak, yang penduduknya mayoritas Syiah. Setelah menjarah kota suci Syiah Karbala dan juga merebut kota-kota suci Makkah dan Madinah di Hijaz, Khalifah Mahmud II memutuskan untuk campur tangan (intervensi). Faktanya setelah intervensi ini, pemimpin Saudi, Abdullah bin Saud, dibawa ke hadapan Gerbang Agung pada tanggal 14 Desember 1818, dan dipenjara. Setelah diinterogasi tentang harta benda yang telah mereka rebut di Makkah dan Madinah, ia dieksekusi pada tanggal 17 Desember 1818. Dengan demikian berakhirlah inisiatif pertama Saud.
Pada tahun 1902, Abdul Aziz bin Saud, yang telah berada di pengasingan di Kuwait, kembali ke Riyadh dan melanjutkan upayanya untuk mencapai persatuan politik. Sebagai solusi atas situasi de facto ini, Negara Utsmani menunjuk Abdul Rahman, ayah Abdul Aziz, sebagai gubernur Riyadh. Selama Perang Balkan, Abdul Aziz bin Saud, Emir Najd dan Imam Wahhabi, memanfaatkan peluang, yaitu berkurangnya kehadiran pasukan Utsmani di wilayah tersebut. sehingga pada tahun 1913, ia merebut Al-Ahsa, yang sebelumnya merupakan pusat administrasi. Antara tahun 1921 dan 1926, ia memperluas wilayahnya dengan merebut Hail, Makkah, Jeddah, dan Asir. Kemudian ia diproklamasikan sebagai Raja Hijaz pada tahun 1926 dan Raja Arab Saudi pada tahun 1932. Sepanjang periode ini, Saudi tetap berkolaborasi dengan Inggris. Selanjutnya, demi masa depannya sendiri, maka ia menjadi alat Inggris yang anti-Islam di wilayah tersebut, dan mereka tidak ragu untuk mengkhianati Islam dan kekuasaannya.
Melihat kembali sejarah baru-baru ini, Amerika Serikat, yang telah lama berupaya untuk memberikan pengaruhnya di Arab Saudi, akhirnya berhasil melalui beberapa pangeran. Namun, pengaruh Inggris dan Amerika Serikat di kalangan keluarga kerajaan Saudi tetap sangat kompleks. Akibatnya, faksi dengan dukungan terkuatlah yang memegang kekuasaan nyata dalam memerintah kerajaan. Namun seiring berjalannya waktu, dan setelah kematian sekutu Inggris, Raja Abdullah, pada tahun 2015 dan naiknya sekutu Amerika Serikat, Salman dan putranya Muhammad, ke tampuk kekuasaan di Arab Saudi, Amerika Serikat memberikan pukulan telak dan fatal lainnya terhadap pengaruh Inggris di kawasan tersebut. Dengan demikian, yang tersisa bagi Inggris hanyalah negara-negara kecil di Teluk dan Yordania; semuanya adalah negara-negara kecil tanpa kekuatan atau kemampuan untuk melawan pengaruh Amerika Serikat atau bahkan mengganggunya! Akibatnya, Amerika Serikat menjadi satu-satunya kekuatan dominan de facto di kawasan tersebut.
Setelah peristiwa bersejarah ini, rezim Saudi menjadi sepenuhnya tunduk kepada Amerika Serikat. Ada banyak bukti ketergantungan ini, termasuk perang Gaza, yang dengan jelas mengungkap pengkhianatan rezim Saudi terhadap Islam dan kaum Muslim. Rezim Saudi tunduk pada perintah Amerika Serikat, gagal membela rakyat Gaza dan malah berdiam diri ketika entitas Yahudi tanpa ampun membunuh, membuat kelaparan, menghancurkan rumah, sekolah, serta rumah sakit, dan menggusur mereka. Semua rasa malu ini belum cukup. Pada tahun 2025, rezim Saudi menyambut rencana Trump untuk mengakhiri perang di Gaza, meskipun rencana ini mencakup tuntutan entitas Yahudi, seperti melucuti senjata perlawanan dan menyerahkan kendali keamanan di Gaza kepada entitas Yahudi, dan rencana ini menutupi kejahatan entitas Yahudi dan menyebabkan kejahatan-kejahatan tersebut dilupakan. Sekali lagi, rezim Saudi menyatakan dukungannya kepada Amerika Serikat selama kunjungan Trump ke Riyadh pada Mei 2025, dan memberinya dukungan finansial melebihi 600 miliar dolar AS untuk mendukung ekonomi Amerika, proyek-proyek militernya, dan pengembangan senjata serta rudal. Sebagian dari dana tersebut juga mengalir ke entitas Yahudi sebagai biaya senjata yang dikirim untuk membunuh kaum Muslim di Gaza. Contoh terbaru dari kepatuhan rezim Saudi kepada Amerika Serikat adalah aliansi yang dibentuknya dengan Turki dan Pakistan di Makkah untuk melayani proyek-proyek Amerika Serikat di kawasan tersebut, khususnya untuk mengendalikan dan menahan Iran, serta untuk menyelamatkan Trump dari kesulitan yang dihadapinya, termasuk kesulitan yang dihadapinya dalam pemilihan mendatang.
Berdasarkan semua narasi fakta, Dr. Faisal bin Abdulrahman Asrah, atase kebudayaan di kedutaan Saudi di Ankara, yang menggambarkan Kerajaan sebagai negara yang menerapkan hukum Islam, yang sebenarnya hanyalah ilusi. Lebih buruk lagi, perayaan Hari Nasional rezim Saudi dengan pengibaran bendera, demonstrasi, dan parade militer merupakan penghinaan terhadap rakyat Muslim Saudi khususnya, dan terhadap semua Muslim pada umumnya. Kami ingin mengingatkan semua penulis, khususnya atase kebudayaan kedutaan Kerajaan Saudi di Ankara, mereka yang menyembunyikan kebenaran untuk menutupi pengkhianatan rezim Saudi, dengan firman Allah SWT:
﴿إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِن بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَئِكَ يَلعَنُهُمُ اللهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ﴾
“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk, setelah Kami jelaskan kepada manusia dalam Kitab (Al-Qur’an), mereka itulah yang dilaknat Allah dan dilaknat (pula) oleh mereka yang melaknat.” (TQS. Al-Baqarah [2] : 159). [] Ramadhan Abu Furqan
Sumber: hizb-ut-tahrir.info, 26/9/2026.
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat