Bergabungnya RI ke BoP Tidak Realistis dan Tidak Maslahat bagi Gaza

MediaUmat Klaim pembenaran sejumlah ormas Islam terkait keikutsertaan Indonesia dalam Dewan Perdamaian (Board of Peace/BoP) untuk Gaza bentukan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang intinya menyebut ‘tindakan RI realistis dan pragmatis’, dinilai secara realistis dan secara pragmatis pun justru tidak realistis dan tidak memberikan kemaslahatan untuk penduduk Palestina khususnya di Gaza.

“Kami melihat bahwasanya apa yang disampaikan sebagai sebuah alasan untuk membenarkan tindakan Indonesia bergabung di dalam BoP sesuatu yang secara realistis dan secara pragmatis justru sesuatu yang tidak realistis lagi dan tidak memberikan kemaslahatan untuk saudara kita di Palestina khususnya di Gaza,” ujar Direktur Siyasah Institute Iwan Januar dalam video Mengapa Board of Peace Tidak Realistis dan Tidak Maslahat? di akun Tiktok iwanjanuar, Selasa (3/2/2026).

Menurutnya, BoP tidak bisa diandalkan dan tidak bisa dijadikan sebagai sebuah lembaga internasional, yang bisa memberikan kebaikan apalagi untuk memberikan kemerdekaan kepada Palestina.

“Bayangkan, satu lembaga internasional saja yang sudah lama lebih lama dari BoP, itu PBB. Sudah berkali-kali dipecundangi oleh Israel dan juga AS, PBB sejak 48 sudah mengeluarkan hampir 200 resolusi yang mengecam kekejaman Zionis dan meminta gencatan senjata, penarikan pasukan dan menegur adanya pemukiman ilegal, tapi semua diabaikan oleh negara Zionis, dan juga sejumlah resolusi itu dibatalkan oleh hak veto dari Amerika Serikat,” bebernya.

Jadi, himbaunya, di Dewan Keamanan PBB, Amerika Serikatlah negara yang paling getol dan paling aktif memberikan veto, membatalkan resolusi yang akan ditujukan kepada entitas Yahudi. Sementara di Dewan Keamanan PBB ada sejumlah negara besar seperti Rusia, Inggris, Prancis, dan Cina, tidak lagi berarti ketika sudah dijatuhkan veto oleh AS.

“Ini menunjukkan bahwa lembaga yang lebih tua dan anggotanya lebih banyak, bahkan juga diisi oleh negara-negara besar yang berseberangan dengan AS, tidak berkutik untuk menjatuhkan resolusi, menjatuhkan sanksi kepada entitas Yahudi yang telah terang-terangan melakukan banyak pembantaian dan banyak melakukan pengusiran kepada penduduk Palestina khususnya Gaza,” tuturnya.

Maka, menurutnya, BoP ini tidak bisa diharapkan, kalau lembaga yang jumlah anggotanya lebih banyak dibandingkan dengan BoP saja tidak berkutik, apalagi dengan BoP yang langsung dipimpin oleh Amerika Serikat.

“Dan saya yakin para kiai, para alim ulama juga paham bahwa Uncle Sam (AS) adalah negara yang terdepan di dalam membela kepentingan entitas Yahudi. Setiap tahun AS memberikan aliran dana 3,8 miliar dolar per tahun untuk kepentingan pertahanan dan militer entitas Yahudi. Bahkan sepanjang perang, sepanjang kemudian konflik atau sepanjang genosida yang dilakukan oleh entitas Yahudi kepada muslim gaza berikan tambahan 17,9 miliar dolar untuk mendukung operasi militer di Gaza,” bebernya.

Jadi, tegasnya, AS adalah negara yang justru terdepan membela mendukung bahkan juga menyokong senjata untuk melakukan pembantaian di Gaza.

“Selanjutnya, sudah berkali-kali juga negara entitas Yahudi melanggar dan mengkhianati berbagai macam perjanjian yang sudah dilakukan antara mereka dengan pihak Palestina,” bebernya.

Menyakitkan

Maka, lanjut Iwan, keputusan bergabungnya Indonesia di BoP sangat menyakitkan dan tidak sesuai dengan realitas yang dihadapi oleh saudara di Palestina dan di Gaza.

“Semestinya kita kaum Muslimin punya agenda sendiri menghimpun kekuatan sendiri, kemudian menyatukan kekuatan di bawah satu kepemimpinan yaitu khilafah islamiah. Mengirim pasukan untuk mengusir total entitas penjajah di Palestina,” pungkasnya.[] Setiyawan Dwi

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini: