AS, China, dan Peradaban Palsu yang Menantikan Kehancurannya

Pada hari Rabu, 23 September 2026, Presiden AS Trump menyambut Presiden China Xi Jinping di sebuah pangkalan udara dekat Washington, DC, pada awal kunjungan resmi tiga hari Presiden China.

Awalnya, China adalah salah satu negara termiskin di dunia pada tahun 1970-an, tetapi negara ini bertransformasi menjadi ekonomi terbesar kedua di dunia, dan dikenal sebagai “pabrik dunia”. Transformasi ini bukanlah suatu kebetulan, melainkan hasil dari visi jangka panjang, rencana yang matang, dan kesabaran strategis. Jalan ini dimulai ketika Deng Xiaoping mengambil alih kepemimpinan Partai Komunis China pada tahun 1978, dengan memprioritaskan ekonomi di atas ideologi. Ia menciptakan model ekonomi berdasarkan upah rendah dan ekspor tinggi, membuka pintu bagi investor asing, dan mendirikan Kawasan Ekonomi Khusus, Special Economic Zone (SEZ) di kota-kota China bagian timur pada tahun 1979. Dan sejak tahun 2010, China telah menjadi ekonomi terkuat kedua di dunia.

Dari perspektif militer, China sedang berupaya mengubah kekuatan ekonominya menjadi kekuatan militer, dengan meningkatkan pengeluaran militernya setiap tahun. China mengumumkan keinginannya untuk “meningkatkan anggaran pertahanan nasional untuk tahun 2025 sebesar 7,2%, menandai tahun kesepuluh berturut-turut pertumbuhan satu digit dalam anggaran pertahanan, dan pengeluaran pertahanan yang direncanakan negara akan mencapai 1,784665 triliun yuan (sekitar 249 miliar dolar) tahun ini…” Bahkan kemampuan militer konvensional dan nuklir China juga berkembang; sebuah laporan Departemen Pertahanan AS kepada Kongres pada hari Rabu menyatakan bahwa pada pertengahan tahun 2024 China memiliki lebih dari 600 hulu ledak nuklir, dan pada tahun 2030 jumlah itu akan melebihi 1.000. China memamerkan senjata canggihnya dalam parade militer pada tanggal 3 September 2025.

Oleh karena itu, China saat ini bukanlah China di tahun tujuh puluhan atau sebelumnya, sehingga negosiasi dengannya tidak akan seperti sebelumnya; AS saat ini menghadapi kekuatan militer yang tangguh yang tidak dapat diremehkan, serta kekuatan ekonomi raksasa yang harus diperhitungkan ribuan kali lipat, dan hal ini terlihat jelas dalam cara pemerintahan AS menanganinya, terutama pemerintahan Trump.

Dalam Jawab Soal yang dikeluarkan oleh Al-Ālim Al-Jalīl Atha’ bin Khalil Abu Rasytah, pemimpin Hizbut Tahrir, berjudul: “China dan Pembebasannya dari Perspektif Regional yang Terbatas”, tertanggal 22/11/2025 M, dinyatakan: “Amerika Serikat telah berupaya – dan masih berupaya – sesuai dengan strategi Asia-nya, untuk mencegah kebangkitan China dan membendungnya; terkadang dengan memindahkan tentara dan peralatannya dari Eropa ke wilayah Pasifik, terkadang dengan mengeksploitasi krisis Taiwan, terkadang dengan menggunakan India, terkadang dengan membentuk aliansi militer dengan negara-negara regional seperti “Australia, Inggris Raya, dan Amerika Serikat” dan “Quad” (Amerika Serikat, Australia, India, dan Jepang), dan terkadang dengan melancarkan perang dagang terhadap perusahaan-perusahaan China seperti “Huawei”. Meskipun perang di Irak dan Afghanistan telah menunda dan memperlambat konfliknya dengan China, namun setelah perang-perang tersebut AS sedang memfokuskan seluruh tujuannya pada China, terutama melalui perang dagang.”

Sekarang, terkait topik yang dibahas dan dinegosiasikan, apakah KTT ini dapat berhasil seperti yang dipromosikan Trump?!

Pernyataan Trump, sebagaimana dilaporkan oleh media, termasuk bahwa Trump dan mitranya dari China, Xi Jinping, telah mencapai “kemajuan luar biasa” selama kunjungan kenegaraan presiden China ke Washington, dan kedua pihak mengungkapkan bahwa mereka membahas perang dengan Iran dan kemungkinan mengadakan dua pertemuan lagi sebelum akhir tahun (bbc.com, 25/9/2026), mencerminkan informasi yang salah dan kekhawatiran yang sebenarnya, jadi semua itu bukan pernyataan yang benar, karena beberapa alasan:

Isu pemilu: Upaya Trump untuk meyakinkan publik Amerika, khususnya para petani, bahwa kemajuan nyata telah dicapai dalam pertemuan tersebut.

Krisis politik dan ekonomi: Krisis yang dialaminya dalam perang dengan Iran dan dampak politik serta pengaruh negatif yang ditimbulkannya terhadap ekonomi global, termasuk ekonomi Amerika, serta tingginya harga minyak di Amerika Serikat.

Tekanan dalam dan luar negeri: Krisis yang dialaminya di dalam Partai Republik serta perpecahan politik di Amerika Serikat; oleh karena itu, Amerika Serikat terus mengepung China dengan musuh dan menuntut agar mereka mencabut pembatasan dan meningkatkan pengeluaran militer, serta menuntut agar negara-negara Eropa meningkatkan pengeluaran untuk NATO.

Adapun topik yang diangkat sangat banyak dan membutuhkan perhatian pada setiap poinnya. Misalnya, isu kecerdasan buatan tampaknya tidak memiliki komitmen nyata, meskipun Xi menyatakan bahwa Washington dan Beijing memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan dan mengelola kecerdasan buatan dengan cara yang melayani kepentingan publik, dengan menjelaskan: “Kita memiliki kemampuan dan tanggung jawab bersama untuk mengembangkan dan mengelola kecerdasan buatan dengan cara yang melayani kepentingan publik, dan untuk memastikan bahwa pengembangannya selalu tetap berada di bawah kendali manusia.”

Berbagai media mengutip The New York Times yang mengatakan, “Trump menunjukkan sedikit kepedulian terhadap risiko dan tidak memperhatikan regulasi alat baru ini; yang terpenting baginya hanyalah kemenangan Amerika Serikat atas China di bidang kecerdasan buatan, terlepas dari standar keselamatan.” Artikel tersebut menyatakan bahwa, secara realistis, tidak ada satu pertemuan pun yang mungkin mencapai kemajuan signifikan pada isu-isu paling sensitif, tetapi Amerika Serikat dan China bukan hanya saingan dalam pengaruh internasional; keduanya juga memiliki kepentingan bersama dalam stabilitas global.

Mengenai isu mineral vital, China menyadari pentingnya dan sensitivitasnya, dan telah menggunakannya sebagai senjata melawan Amerika Serikat untuk mendapatkan konsesi dalam perang dagangnya, meskipun itu sebagai tindakan balasan China. Cullen Hendrix, seorang peneliti senior di Peterson Institute for International Economics (PIIE), mengatakan kepada Alhurra TV bahwa China menyadari dapat menggunakan pembatasan ekspor bahan-bahan ini untuk mengganggu rantai pasokan industri dan pertahanan para pesaingnya. Ryan Hass, yang sekarang menjadi peneliti senior di Brookings Institution, mengatakan bahwa pemutusan pasokan mineral ini ke Amerika Serikat akan memiliki konsekuensi yang luas bagi perekonomian AS.

Bukti lebih lanjut tentang keberhasilan terbatas pertemuan tersebut adalah hilangnya kepercayaan terhadap keberlanjutan ekspor. Perwakilan Perdagangan AS Jamieson Greer mengatakan bahwa Amerika Serikat perlu terus menekan China untuk memastikan kepatuhannya terhadap perjanjian terkait mineral vital, setelah para pejabat AS mengatakan bahwa pasokan China belum mencapai tingkat yang dibutuhkan. Hal yang juga mengindikasikan terbatasnya keberhasilan pertemuan tersebut adalah perpanjangan gencatan senjata perdagangan yang hanya berlaku selama dua bulan. Pada hari Rabu (23/9), Menteri Keuangan AS Scott Besent mengumumkan bahwa Amerika Serikat dan China setuju untuk memperpanjang gencatan senjata perdagangan di antara mereka selama dua bulan, dari tanggal berakhirnya pada 10 November hingga 10 Januari 2027, menurut apa yang dilaporkan Reuters (reuters.com, 23/9/2026).

Saya akhiri artikel ini dengan kata-kata yang sama seperti yang digunakan untuk mengakhiri Jawab Soal yang disebutkan sebelumnya:

Kesimpulannya, negara-negara ini, baik Amerika Serikat, China, atau keduanya, bersaing di dunia ini dengan sesuatu yang tidak ada kebaikannya sama sekali, justru keduanya dan dan para pengikutnya hanya dikelilingi kejahatan, serta peradaban palsu yang rakyatnya belum berhasil … Adapun apa yang tampak bagi mereka saat ini dalam hal ketinggian di atas bumi, maka itu disebabkan oleh ketiadaan negara yang menyebarkan kebaikan ke seluruh dunia, menghilangkan kejahatan mereka dan menghancurkan struktur mereka. Dan negara itu akan kembali, insya Allah; Khilafah Rasyidah, yang akan menyingkirkan mereka sebagaimana telah menyingkirkan orang-orang seperti mereka sebelumnya; Persia dan Romawi. Umat ​​Islam adalah umat yang hidup dan aktif, dan umat ini dengan cepat kembali ke jalan asalnya yang telah ditetapkan Allah baginya.

﴿كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ﴾

“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia (selama) kamu menyuruh (berbuat) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (TQS. Ali Imran [3] : 110).

Kemudian ada di tengah umat suatu partai (kelompok) yang ikhlas kepada Allah SWT, percaya ​​kepada Rasul-Nya SAW, yang sedang menempuh jalan kebenaran siang dan malam, sampai janji Allah SWT dan dan kabar gembira (busyra) dari Rasul-Nya SAW terwujudkan di tangannya. Mereka sama sekali tidak takut—demi berjuang di jalan Allah—akan celaan orang yang mencela dan menyalahkannya, bahkan insya Allah, langkan mereka tidak akan melunak dan tekadnya tidak akan melemah, sampai janji Allah SWT terwujudkan di tangannya, dan Khilafah Rasyidah, janji Allah SWT dan kabar gembira (busyra) dari Rasul-Nya SAW tegak kembali, serta menaklukkan Roma dengan kekuatan kaum Muslim, seperti halnya dahulu Konstantinopel ditaklukkan.

Ahmad meriwayatkan dalam Musnad-nya, berdasarkan riwayat dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash, yang berkata: Ketika kami berada di sekitar Rasulullah SAW sedang menulis, Rasulullah SAW ditanya tentang dua kota, manakah yang lebih dahulu ditaklukkan: “Kostantinopel atau Rama?” Maka Rasulullah SAW pun menjawab: “Kota yang lebih dahulu dibuka adalah kota Heraklius  (Konstantinopel).”

«مَدِينَةُ هِرَقْلَ تُفْتَحُ أَوَّلاً يَعْنِي قُسْطَنْطِينِيَّةَ«

“Kota yang lebih dahulu ditaklukkan adalah kota Heraklius (Kostantinopel).” [] Ustadz Hassan Hamdan

Sumber: alaraiah.net, 30/9/2026.

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini: