Junta Militer Myanmar Klaim Bersikap Lunak terhadap Aung San Suu Kyi di Tengah Upaya Mendapatkan Pengakuan Internasional

Dalam sebuah wawancara dengan Majalah Time, pemimpin sipil Myanmar, Min Aung Hlaing, mengklaim telah bersikap “sangat lunak” terhadap mantan pemimpin pro-demokrasi Aung San Suu Kyi, yang telah digulingkan dan dipenjara sejak kudeta militer tahun 2021.

Hlaing menyatakan bahwa pihak militer telah melakukan berbagai upaya untuk mencegah eskalasi situasi dan mengisyaratkan bahwa kemungkinan pemberian pengampunan bagi Suu Kyi bergantung pada tindakan Suu Kyi sendiri. Pemindahan Suu Kyi dari penjara ke tahanan rumah di Naypyidaw serta dipublikasikannya foto-foto pertemuan dirinya dengan pejabat Palang Merah merupakan contoh dari klaim adanya kelonggaran tersebut.

Para pengamat menilai langkah-langkah ini sebagai bagian dari strategi diplomatik Min Aung Hlaing untuk mengakhiri status Myanmar sebagai negara yang terisolasi di kancah internasional. Setelah pensiun dari kepemimpinan militer dan menjabat sebagai presiden sipil menyusul pemilihan umum yang dikontrol ketat oleh junta militer, Min Aung Hlaing berupaya keras untuk memulihkan pengakuan diplomatik global.

Nasib Suu Kyi telah dijadikan alat tawar-menawar untuk menarik keterlibatan pihak asing, bahkan di saat pemerintahannya sendiri menghadapi perang saudara yang meluas serta tentangan keras dari kelompok-kelompok hak asasi manusia, yang menganggap rezim barunya tak lebih dari sekadar perpanjangan tangan militer (hizb-ut-tahrir.info, 29/9/2026).

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini: