Apakah Organisasi Kerja Sama Shanghai Didirikan untuk Menghadapi Islam?
Pada tanggal 1 September, KTT Organisasi Kerjasama Shanghai, Shanghai Cooperation Organisation (SCO) diadakan di Bishkek, dengan agenda utama membahas prospek pengembangan organisasi pada tahap selanjutnya. Pada akhir KTT, Deklarasi Bishkek ditandatangani dalam rangka peringatan dua puluh lima tahun peluncuran jalur organisasi tersebut, bersama dengan 28 dokumen yang bertujuan untuk memperkuat kerja sama multilateral dan mengembangkan mekanisme kerjanya.
Karena peristiwa ini menarik perhatian opini publik global, maka perlu untuk memahami tujuan dan realitas sebenarnya dari organisasi tersebut, dan membacanya dari perspektif Islam.
Organisasi ini memulai perjalanannya sebagai Shanghai Five pada tahun 1996 dengan partisipasi China, Rusia, Kazakhstan, Kirgizstan, dan Tajikistan, yang menandatangani perjanjian untuk mengurangi kekuatan bersenjata di daerah perbatasan dan bekerja sama dalam memerangi terorisme. Pada tahun 2001, Uzbekistan bergabung, dan nama organisasi berubah menjadi nama yang sekarang.
Dengan diluncurkannya Inisiatif Sabuk dan Jalan, Belt and Road Initiative (BRI) oleh Presiden China Xi Jinping pada tahun 2013, China mulai aktif memanfaatkan organisasi tersebut untuk mendukung proyek-proyeknya. Sejak tahun 2015, aliansi ini telah berkembang dengan bergabungnya India, Pakistan, Iran, dan Belarus, sehingga keanggotaannya saat ini berjumlah sepuluh negara.
Negara-negara anggota organisasi tersebut menyumbang sekitar 35% dari PDB global (setara dengan 20 triliun dolar), wilayah mereka mencakup dua pertiga dari luas Eurasia, dan mereka melakukan latihan militer gabungan hampir setiap tahun.
KTT yang diadakan di Bishkek ini berlangsung pada saat posisi China semakin menguat, sementara posisi Rusia melemah akibat perang di Ukraina dan konflik yang sedang berlangsung dengan Iran. Sejak serangan AS dan entitas Yahudi terhadap Iran pada 28 Februari tahun ini, Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) belum mampu berbuat lebih dari sekadar mengeluarkan pernyataan formal. Hal ini disebabkan oleh ketidakmampuan negara-negara anggota untuk mengadopsi sikap yang bersatu.
India, misalnya, mempertahankan hubungan dekat dengan Barat dan entitas Yahudi. Sementara itu, Pakistan berupaya memajukan kepentingan Amerika Serikat dengan memainkan peran mediasi dalam krisis Iran. Di sisi lain, Rusia, China, dan negara-negara Asia Tengah tidak memiliki tujuan apapun selain untuk mempertahankan hubungan perdagangan mereka dengan Iran.
Negara-negara anggota juga memiliki posisi yang berbeda mengenai krisis Ukraina; mayoritas menyerukan pelestarian integritas teritorial dan resolusi damai, seperti yang ditunjukkan dalam seruan Perdana Menteri India Narendra Modi kepada Presiden Rusia Putin selama pertemuan mereka di sela-sela pertemuan organisasi tersebut. Hal ini semakin diperumit oleh sengketa perbatasan yang berulang antara Pakistan dan India, serta antara China dan India.
Namun, ada satu tujuan dan ancaman umum yang menyatukan semua negara anggota organisasi ini, yaitu umat Islam yang terus berkembang dan Khilafah Rasyidah kedua ‘ala minhājin nubuwah, yang sedang diperjuangkan umat untuk ditegakkannya kembali. Dari perspektif ini, negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) ini melancarkan perang tanpa henti di wilayah mereka sendiri melawan persatuan kaum Muslim dan pemahaman mereka tentang Islam. Sebagai contoh, China telah mengubah Turkestan Timur menjadi penjara terbuka bagi jutaan Muslim Uighur, Kazakhtan, dan Kirgistan. Pria yang shalat dan memelihara janggut dianiaya, sedang wanita Muslim yang berpuasa dan mengenakan jilbab ditahan di kamp-kamp pendidikan ulang (kamp-kamp reedukasi). Kampanye yang sepenuhnya bertujuan untuk memisahkan generasi muda dari Islam dan budaya nasional mereka terus berlanjut. China membenarkan semua tindakan ini sebagai tindakan balasan terhadap ekstremisme, separatisme, dan terorisme.
Penganiayaan terhadap kaum Muslim oleh rezim nasionalis Hindu di India, khususnya di Kashmir yang diduduki, tidak kalah parahnya dengan penganiayaan yang dilakukan oleh rezim China dan entitas Yahudi. Insiden sering terjadi di mana para penjahat yang melakukannya dipengaruhi oleh kampanye propaganda rezim, membunuh dan menyerang kaum Muslim saat mereka sedang melaksanakan shalat. Lebih jauh lagi, pengkhianatan dan sikap lemah pemerintah Pakistan mendorong rezim India untuk memberlakukan dan menerapkan undang-undang yang menganiaya kaum Muslim di Kashmir yang diduduki.
Di Rusia, kaum Muslim juga menghadapi kesulitan serupa. Rusia menggunakan dalih terorisme sebagai cara utama untuk menekan kaum Muslim di Kaukasus. Imigran dari negara-negara mayoritas Muslim menjadi sasaran pengawasan dan pelecehan intensif oleh dinas keamanan. Selain itu, beberapa interpretasi Al-Qur’an dan kitab-kitab Hadits oleh ulama tertentu telah diklasifikasikan sebagai materi ekstremis.
Adapun para pemimpin negara-negara Asia Tengah, mereka mulai meniru China dan Rusia untuk mempertahankan kekuasaan mereka, dengan memenuhi penjara dengan kaum Muslim dengan dalih memerangi ekstremisme dan terorisme. Sesuai dengan persyaratan Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO), rezim di kawasan ini memperketat undang-undang yang menentang nilai-nilai Islam dan upaya penyebaran agama, serta membangun mekanisme untuk memantau dan mengawasi kaum Muslim.
Dengan demikian, yang mempersatukan negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO), terlepas dari perbedaan sikap politik mereka, adalah permusuhan mereka terhadap Islam dan kaum Muslim. Oleh karena itu, kita sebagai kaum Muslim tidak boleh membiarkan kekuatan-kekuatan kafir tersebut mendominasi tanah kita dan mengambil alih kepemimpinan atas kita, juga kita tidak boleh membiarkan penguasa boneka terus melayani kepentingan kekuatan-kekuatan tersebut, karena Allah SWT telah berfirman:
﴿وَلَن يَجْعَلَ اللهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلاً﴾
“Allah tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk mengalahkan orang-orang mukmin.” (TQS. An-Nisa’ [4] : 141).
Artinya, tidak diperbolehkan membiarkan penjajah kafir mendominasi negeri-negeri Islam dan tanah kaum Muslim, juga tidak diperbolehkan menyerahkan perekonomian, keamanan, dan kedaulatan kaum Muslim kepada orang-orang kafir tersebut. [] Ustadz Aqil Bek Ishaqov
Sumber: alraiah.net, 16/9/2026.
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat