Apa yang terjadi di Iran bukanlah sandiwara yang diatur melalui kesepakatan antara rezim Iran, AS, dan entitas Yahudi, seperti yang dibayangkan sebagian orang. Anggapan bahwa itu sandiwara adalah pandangan dangkal yang kurang memiliki unsur-unsur dasar pemikiran dan analisis politik, serta pemahaman yang benar tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi.
Jadi bagaimana mungkin rezim seperti Iran mengorbankan simbol dan pemimpinnya di ring pertama dan kedua, serta sebagian dari ring ketiga, juga apa yang telah hilang dari partainya di Lebanon dalam hal simbol dan pemimpin bersejarah di ring pertama dan kedua, serta sebagian dari ring ketiga?
Adapun terkait tingkat material dan persenjataan, maka lebih baik tidak banyak bicara!! Apakah semua ini hanya agar rezim Iran bisa ikut serta dalam panggung sandiwara?!
Presiden Iran mengatakan: “Sangat disayangkan bahwa orang-orang yang bekerja dalam tugas resmi dan dengan tujuan menjaga kepentingan nasional menghadapi tuduhan pengkhianatan,” kemudian ia menambahkan: “Semua faksi di dalam negeri harus mematuhi keputusan yang didasarkan pada pendapat Pemimpin Tertinggi Revolusi, Mojtaba Khamenei.” (Al Jazeera, 14/6/2026).
Pernyataan-pernyataan ini mengungkapkan konflik antara dua faksi di Iran; satu faksi ingin mencapai kesepakatan dengan Amerika Serikat dan menerima peran baru (sebagai negara dependen), berdasarkan pelestarian pencapaian lokal, yang oleh Bazkashian disebut: “melestarikan kepentingan nasional.”
Kelompok kedua, yang terdiri dari Garda Revolusi dan kelompok garis keras yang setia kepada rezim Iran (wilāyah al-faqīh), tidak ingin melepaskan pencapaian regional yang telah diperoleh rezim Iran di kawasan tersebut selama lima dekade. Mereka melihat pencapaian ini sebagai kekuatan yang melindungi Iran dari disintegrasi internal dan garis pertahanan pertama bagi rezim, bahkan mereka menuduh kelompok pertama melakukan pengkhianatan.
Tidak menutup kemungkinan bahwa Mojtaba Khamenei berada di bawah tekanan dari kelompok ini dan mencegahnya dari mendukung tindakan kelompok pertama, tentu hal ini jika dia benar-benar tidak berdaya sepenuhnya dan tanpa kekuatan apa pun, karena jika dia adalah pengambil keputusan yang diwakili oleh kelompok kedua (Garda Revolusioner), tentu kelompok pertama tidak akan menemukan ruang untuk bergerak!
Sebaliknya, konfrontasi ini memiliki aspek negatif bagi Amerika Serikat dan entitas Yahudi, yang tercermin dalam keberaniannya untuk mengebom entitas tersebut dan pangkalan-pangkalan Amerika Serikat, serta melemahnya prestise Amerika Serikat dan kekebalan entitas Yahudi. Apakah semua ini hanya sandiwara?!
Jadi, apa yang terjadi bukanlah sandiwara, melainkan operasi bedah yang sulit dan rumit untuk menemukan kelas politik yang puas dengan kepatuhan total seperti negara-negara Teluk dan sejenisnya, sehingga rezim meninggalkan upaya mengekspor revolusi dan strategi konfrontasi ke luar Iran dan tunduk pada perintah Amerika Serikat 100%.
Inilah yang dinyatakan oleh Trump yang arogan: bahwa dia tidak akan menerima 95%, tetapi 100%. Selama ada peluang untuk mencapai hal ini tanpa menghancurkan Iran sepenuhnya, untuk menghindari Iran benar-benar lepas kendali dan konsekuensi yang menyertainya yang bertentangan dengan kepentingan Amerika Serikat di kawasan itu, maka pilihannya adalah negosiasi dengan serangan terbatas, untuk memberi kelompok pertama kesempatan agar membuktikan keberadaannya dan memengaruhi opini publik Iran. [] Muhammad Said Abdullah – Wilayah Irak
Sumber: hizb-ut-tahrir.info, 16/6/2026.
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat