Ancam Cabut Kewarganegaraan Sutradara Film NAZA, Israel Tolak Kebenaran

 Ancam Cabut Kewarganegaraan Sutradara Film NAZA, Israel Tolak Kebenaran

MediaUmat – Ancaman pencabutan kewarganegaraan oleh Menteri Kebudayaan Israel (Miki Zohar) dan Menteri Keamanan Nasional (Itamar Ben-Gvir) kepada Yuval Abraham dan Rachel Szor, dua warga Israel yang menjadi sutradara film berjudul NAZA, yakni film dokumenter tentang kebrutalan Zionis di Jalur Gaza Palestina dinilai adalah bentuk penolakan kebenaran dan kesombongan

“Ancaman pencabutan warga negara adalah bentuk penolakan kebenaran dan kesombongan,” ujar Pengamat Hubungan Internasional Budi Mulyana kepada media-umat.com, Selasa (15/9/2026).

Menurut Budi, keputusan politisi ekstremis seperti Ben-Gvir yang menyuruh para pembuat film tersebut pergi dan bergabung dengan Hamas menunjukkan gaya kepemimpinan yang menolak kebenaran dan menindas siapa saja yang mengungkap kejahatannya.

“Rezim Zionis tidak hanya menduduki tanah Palestina secara ilegal, tetapi juga memaksakan ketundukan mutlak dari rakyatnya sendiri terhadap proyek genosida tersebut,” ungkap Budi.

Budi juga memandang, ancaman tersebut merupakan bukti fasad (kerusakan) dan standar ganda demokrasi sekuler.

Fenomena ini, kata Budi, menelanjangi narasi “demokrasi dan kebebasan berpendapat” yang selama ini diagungkan rezim Zionis.

“Ketika narasi internal mereka membocorkan kejahatan sistemis militer Zionis di Gaza lewat kesaksian 24 perwira intelijen Zionis sendiri dalam film NAZA, maka rezim tersebut langsung beralih ke tindakan represif,” jelasnya.

Selain itu, Budi melihat, tindakan histeris rezim Zionis yang mengancam membuang warganya sendiri membuktikan adanya keretakan ideologis dan moral di internal mereka. Kebenaran (al-haqq) mengenai genosida dan penggunaan AI dalam pembantaian rakyat Palestina di Gaza kini dibongkar dari dalam.

“Islam memandang, ini sebagai pemenuhan janji Allah SWT bahwa kebatilan pada akhirnya akan saling menghancurkan dan runtuh oleh kerapuhannya sendiri,” bebernya.

Terakhir, Budi mengingatkan, karya seperti film NAZA hanyalah alat pembuka mata dunia (istibshar), namun solusi hakiki tidak terletak pada sekadar kritik film atau simpati media Barat. Pengakuan di Festival Film Venesia atau standing ovation sepanjang apa pun tidak akan menghentikan agresi secara fisik jika tidak ada kekuatan militer (quwwah) yang menghentikannya.

Budi menegaskan, pendudukan Palestina dan kekejaman rezim Zionis hanya dapat diakhiri secara permanen melalui mobilisasi militer dan persatuan negeri-negeri Muslim di bawah satu kepemimpinan politik Islam yang berani menghadapi penjajahan secara langsung, bukan sekadar bergantung pada opini publik global.

“Itulah urgensi keberadaan Khilafah sebagai pelindung negeri-negeri Muslim, termasuk Palestina,” pungkasnya.[] Agung Sumartono

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini:

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *