MediaUmat – Aktivis Kemanusiaan Bambang Suherman mengungkap, bantuan kemanusiaan untuk warga Gaza hingga kini masih banyak yang tidak sampai ke wilayah sasaran akibat kuatnya hambatan politik dan militer di lapangan, terutama di perbatasan Mesir–Gaza.
“Secara faktual bantuan kemanusiaan yang kita kirim hari ini itu tidak masuk ke Gaza. Bantuan-bantuan tersebut tertahan dan dibatasi oleh kekuatan politik dan militer,” ujarnya dalam diskusi Integritas: Realita Bantuan Kemanusiaan Di Gaza: Dari Euforia Sosial Media Hingga Hambatan Di Lapangan, Jumat (23/1/2026) di kanal YouTube Novel Baswedan Official.
Realitas ini, jelas Bambang, menunjukkan adanya kesenjangan serius antara kampanye bantuan yang masif di ruang publik dengan kondisi faktual distribusi bantuan di lapangan.
Menurutnya, konflik Gaza tidak bisa dilihat semata sebagai isu kemanusiaan, melainkan medan benturan langsung antara operasi militer dan operasi kemanusiaan. Selama agresi militer masih berlangsung, tidak ada jaminan keamanan maupun kelancaran bagi bantuan yang berbasis nilai-nilai kemanusiaan.
“Ini konflik yang tidak fair. Bantuan masuk dengan skema nilai kemanusiaan, sementara operasi militer berjalan dengan kekuatan senjata. Dalam situasi seperti itu, sangat sulit menuntut kenyamanan dan keamanan bantuan,” tegas Bambang.
Menurutnya, perang di Gaza sejatinya belum pernah benar-benar berhenti. Meski intensitas serangan menurun, operasi militer tetap berjalan, sementara perhatian dunia internasional semakin beralih ke konflik geopolitik lain, membuat penderitaan warga Gaza kian tersembunyi.
“Kalau informasi langsung dari jaringan-jaringan yang ada di dalam, perang belum berakhir dan operasi militer berjalan setiap saat. Hanya intensitas yang sedikit turun,” tuturnya.
“Mungkin juga karena kepentingan secara politik tidak lagi terlalu besar untuk mendorong perhatian dunia internasional atau bahkan karena secara politik memang ada yang disembunyikan agar tidak diperhatikan oleh dunia internasional,” imbuhnya.
Bambang juga menyoroti peran Mesir yang menjadi gerbang utama bantuan ke Gaza. Ia menyebut, aparat Mesir memberlakukan standar ganda kemanusiaan karena keterikatan kerja sama politik dan militer dengan Israel, sehingga seluruh bantuan diperlakukan sama tanpa pengecualian.
“Semua bantuan kemanusiaan dianggap sama, dibatasi dengan mekanisme politik-militer yang sangat ketat. Bahkan untuk bantuan medis dan pangan pun tidak ada kemudahan,” katanya.
Dalam praktiknya, beber Bambang, sebagian besar lembaga kemanusiaan Indonesia tidak mengirim barang langsung dari Tanah Air, melainkan membawa dana dan berbelanja logistik di Mesir. Namun, mekanisme ini pun tidak menjamin bantuan bisa segera masuk ke Gaza.
“Yang kita bawa itu uang, lalu belanja di Mesir. Tapi masuknya bantuan tetap bergantung pada jaringan dan negosiasi yang sangat tidak transparan. Kadang satu truk masuk, kadang tidak sama sekali,” tandasnya.[] Lukman Indra Bayu
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat