MUI Pertanyakan Peran Ulama Masa Kini
MediaUmat – Wakil Ketua Dewan Pertimbangan MUI Pusat KH Muhyiddin Junaidi mempertanyakan, apakah bisa ulama sekarang memainkan perannya seperti para ulama terdahulu.
“Bagaimana sekarang? Apakah bisa ulama sekarang memainkan perannya seperti para ulama terdahulu?” tanyanya dalam Fokus: Resolusi Jihad, Relevansi Kini, Ahad (25/10/2026) di Kanal YouTube UIY Official.
Menurutnya, tentu bisa asalkan ulama yang tidak terkontaminasi oleh kepentingan-kepentingan sesaat.
“Saya pikir bisa, dengan syarat ulamanya ulama yang terseleksi. Ulama-ulama yang tidak berada di bawah ketiak partai-partai politik atau tidak mereka datang ke penguasa mencium tangan penguasa,” kritiknya.
Jadi, tegasnya, posisi ulama harus bersih. Bukan sebaliknya.
“Saat ini adalah datang ke kantor para penguasa lalu menyodorkan proposal untuk membangun sekolah dan pesantren mereka. Ya ini namanya degradasi,” paparnya.
Namun, jelasnya, kalau ulamanya independensi secara ekonomi, pasti bisa melakukan amar makruf nahi mungkar.
“Bukan hanya amar ma’ruf, tinggalkan nahi mungkar. Kenapa? Karena Kalau amar ma’ruf tidak ada risiko, apalagi sifatnya memuja, memuji. Sedangkan, nahi mungkar resikonya besar,” ujarnya.
Sehingga, harapnya, rakyat harus mendorong agar ulama itu bukan hanya memiliki ilmu pengetahuan, memahami ilmu-ilmu agama, tetapi juga menguasai berpolitikan berpolitik regional dan internasional.
Jangan sampai, tandasnya, para ulama itu dengan mudah dipolitisasi.
“Kita tidak mau ulama tidak dihargai. Kita mau ulama dihormati,” ucapnya.
Menurutnya, ulama cash adalah ulama yang merusak tatanan sosial, yang merusak perjuangan umat Islam dalam sejarah.
“Jika calon pemimpin bertanya, berapa harga Anda? Jadilah dia ulama cash yang merusak,” ucapnya.
Menurutnya, Indonesia dengan jumlah penduduk yang besar, mengalami krisis ulama.
Namun, lanjutnya, permasalahannya, ulama-ulama yang mustaqim tidak diberikan peran.
Mari, sarannya, umat Islam jadikan keresahan ini common enemy (musuh bersama). Karena ulama sebagai sasaran target oligarki busuk.
“Mereka kelompok tank-tank. Siapa? Ya penguasa dan penguasa. Semua tatanan bernegara negeri ini dirusak. Ekonominya dihancurkan, politik dihancurkan, sosial budayanya dihancurkan,” bebernya.
Dalam kesempatan tersebut, ia menjelaskan bagaimana perjuangan ulama terdahulu dari Indonesia sampai ke Maroko, berada di garis terdepan untuk membebaskan negara Indonesia dari kolonialis asing. Kemudian, pembebasan sebuah wilayah di negara Afrika Utara atau Al-Magribi al-Arabi, yaitu dari Mesir, Libya, Tunisia, Aljazair, Maroko, dan Mauritania. Semua ulama berada di garis terdepan, bukan para nasionalis, bukan tokoh-tokoh dari partai politik, dan para pedagang.[] Novita Ratnasari
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat