HILMI: Ijazah Tak Boleh Menggantikan Kompetensi
MediaUmat – Terkait orientasi pendidikan Indonesia yang cenderung menitikberatkan pada pencapaian gelar, Perhimpunan Intelektual Muslim Indonesia (HILMI) menegaskan, ijazah tetap diperlukan sebagai instrumen pengakuan kompetensi, tetapi tidak boleh menjadi pengganti kompetensi itu sendiri.
“Ijazah tetap diperlukan sebagai instrumen pengakuan kompetensi. Namun, ijazah tidak boleh menjadi pengganti kompetensi itu sendiri,” jelasnya kepada media-umat.com, Ahad (18/10/2026).
HILMI menilai, Indonesia menghadapi paradoks pendidikan. Setiap tahun jutaan pelajar menyelesaikan sekolah dan ribuan sarjana diwisuda, sehingga gelar akademik semakin mudah ditemukan.
Namun, jelasnya, bertambahnya jumlah ijazah belum tentu sejalan dengan peningkatan ilmu, kecerdasan, integritas, dan kepedulian sosial. Pendidikan seharusnya tidak berhenti pada perolehan gelar akademik, tetapi membentuk manusia berilmu, beradab, kreatif, amanah, dan bermanfaat bagi masyarakat.
“Pendidikan sejati bukan perlombaan mengumpulkan gelar, melainkan perjalanan membentuk manusia yang berilmu, beradab, kreatif, amanah, dan bermanfaat bagi masyarakat,” tegas HILMI.
Menurut HILMI, keberhasilan pendidikan tidak semestinya hanya diukur dari banyaknya lulusan atau gelar yang diperoleh. Pendidikan harus mampu melahirkan manusia yang dapat menerapkan ilmu untuk menyelesaikan persoalan, mengembangkan kreativitas, serta memberikan kontribusi nyata bagi kehidupan masyarakat.
“Negara yang maju bukanlah negara dengan ijazah terbanyak, melainkan negara yang mampu mengubah ilmu menjadi kemajuan, kekuasaan menjadi pelayanan, dan kecerdasan menjadi kemaslahatan,” ungkap HILMI.
HILMI juga menekankan pentingnya membentuk lulusan yang memiliki kemampuan berpikir kritis, bukan sekadar menguasai materi untuk menjawab soal. Lulusan pendidikan harus mampu menciptakan solusi, bukan hanya mencari pekerjaan, serta memiliki integritas untuk menjalankan pengetahuan dan menaati aturan yang berlaku.
“Kita membutuhkan lulusan yang bukan hanya mampu menjawab soal, tetapi juga mengajukan pertanyaan kritis; bukan hanya memperoleh pekerjaan, tetapi menciptakan solusi; bukan hanya memahami hukum, tetapi memiliki rasa malu untuk melanggarnya,” papar HILMI.
Karena itu, HILMI menjelaskan bahwa tantangan pendidikan Indonesia bukan sekadar memperluas akses sekolah atau meningkatkan jumlah lulusan, melainkan memastikan proses pendidikan benar-benar menghasilkan manusia terdidik. Ijazah harus tetap memiliki fungsi sebagai bukti formal pencapaian pendidikan, tetapi pengakuan administratif tersebut perlu ditopang kemampuan nyata, karakter, dan tanggung jawab sosial.
“Indonesia tidak kekurangan orang yang bersekolah. Yang harus dipastikan adalah apakah sekolah benar-benar menghasilkan manusia terdidik,” jelas HILMI.
Dalam perspektif Islam, HILMI menerangkan pendidikan tidak hanya berorientasi pada gelar akademik, Islam menempatkan ilmu dalam kedudukan tinggi tetapi juga harus membentuk manusia yang berilmu, beriman, berakhlak, dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Islam menempatkan ilmu dalam kedudukan tinggi, tetapi tak memisahkan dari iman, akhlak, dan amal,” tegasnya.
HILMI menjelaskan, kedudukan ilmu dalam Islam ditegaskan melalui firman Allah SWT dalam QS al-Mujadilah ayat 11, yang menyebutkan bahwa Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu. Selain itu, QS Al-Qashash ayat 26 mengajarkan pentingnya kemampuan dan sifat dapat dipercaya dalam mengemban pekerjaan.
“Keduanya menunjukkan bahwa ilmu dan amanah harus berjalan bersama,” ungkap HILMI.
Menurut HILMI, pendidikan Islam tidak semestinya berhenti pada penguasaan pengetahuan agama ataupun keterampilan ekonomi. Pendidikan harus membentuk manusia yang memahami tujuan kehidupannya, mampu berpikir rasional, menguasai ilmu yang diperlukan, dan bertanggung jawab atas tindakannya.
HILMI juga menilai, keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari tingginya penghasilan alumni, banyaknya gelar, ataupun jabatan yang berhasil diperoleh. Ukuran yang lebih mendasar ialah manfaat ilmu bagi kehidupan serta perannya dalam mencegah kerusakan.
“Yang lebih penting adalah bagaimana ilmu itu menghadirkan kemaslahatan & mencegah kerusakan,” tandasnya.[] Lukman Indra Bayu
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat