Arab Saudi Tolak Kemungkinan Gencatan Senjata dengan Houthi dalam Waktu Dekat Pakistan Mengkonfirmasi Pengerahan Pasukannya

 Arab Saudi Tolak Kemungkinan Gencatan Senjata dengan Houthi dalam Waktu Dekat Pakistan Mengkonfirmasi Pengerahan Pasukannya

Al-Arabiya, 9 Oktober 2026 – Sebagai indikasi jelas sejauh mana manipulasi Amerika Serikat, bersama dengan pendukung Saudi-nya, di Yaman dan konflik di sana, Arab Saudi telah menolak kemungkinan gencatan senjata dengan Houthi yang didukung Iran sebelum apa yang disebutnya sebagai pemerintah Yaman, yang didukung oleh Riyadh, merebut kembali wilayah yang hilang dari mereka dalam beberapa minggu terakhir. Hal ini dilaporkan oleh Agence France-Presse (AFP), dengan mengutip dari sumber regional yang disebutnya berpengetahuan luas.

Gencatan senjata yang ditengahi pada tahun 2022 antara Houthi dan pemerintah yang didukung oleh koalisi militer pimpinan Saudi runtuh pada bulan Juli setelah Houthi menuduh Riyadh membom bandara Sanaa yang mereka kuasai untuk mencegah pesawat Iran mendarat.

Mereka kemudian mengumumkan blokade laut terhadap Riyadh sebagai tanggapan terhadap blokade udara koalisi. Mereka melanjutkan penargetan terhadap kapal tanker dan fasilitas minyak Saudi.

Dengan bantuan Amerika yang tersembunyi, Houthi memperluas wilayah kendali mereka pada bulan September, dengan mengorbankan pemerintah yang diakui secara internasional, hingga mencakup seluruh pantai barat yang menghadap ke Laut Merah, termasuk wilayah Selat Bab al-Mandab yang strategis, yang semakin penting bagi Riyadh untuk mengekspor minyaknya setelah penutupan Selat Hormuz.

Para penguasa Saudi, yang merupakan agen Amerika, tidak peduli menjadikan seluruh Yaman, bahkan bandara-bandaranya, sebagai alat untuk mencapai tujuan Amerika, sebagaimana diumumkan oleh Otoritas Penerbangan Sipil Umum Saudi pada hari Jumat (9/10) tentang tewasnya tiga orang, sebagai akibat dari dua serangan yang menargetkan bandara dan sebuah pesawat milik Saudi Airlines.

Di sisi lain, Pakistan, yang menandatangani perjanjian pertahanan bersama dengan Turki dan Arab Saudi, mengkonfirmasi pada hari Jumat (9/10) bahwa pasukannya akan dikerahkan dan ditempatkan di Arab Saudi di tengah meningkatnya konflik dengan Houthi, serta menekankan bahwa misi mereka semata-mata bersifat defensif.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Pakistan, Sajjad Haider Khan, mengatakan kepada wartawan, “Kami sudah memiliki sejumlah besar pasukan dan sumber daya dari Pakistan yang saat ini ditempatkan di Riyadh.” Ia menambahkan bahwa personel militer Pakistan di Kerajaan “tidak akan menyeberangi perbatasan untuk menyerang Houthi, tetapi mereka hanya untuk membela wilayah Kerajaan.”

Perlu disebutkan bahwa pasukan Pakistan telah hadir di Arab Saudi bahkan sebelum penandatanganan Perjanjian Makkah, tetapi kehadiran mereka sesuai dengan rencana dan arahan Amerika Serikat, sebab pasukan ini, terlepas dari kekuatan tentara Pakistan, sama sekali tidak menanggapi kejahatan entitas Yahudi terhadap Palestina, kejahatan yang mengguncang hati nurani seluruh dunia, kecuali para penguasa boneka yang hati nuraninya tidak terguncang! (hizb-ut-tahrir.info, 11/10/2026).

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini:

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *