Penyebab Pertumbuhan Ekonomi RI Tertinggal dari Vietnam
MediaUmat – Menyoroti pertumbuhan ekonomi Vietnam pada kuartal III 2026 yang hampir dua kali lipat dibandingkan Indonesia pada kuartal II, Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS) Anthony Budiawan menilai ketergantungan Indonesia pada komoditas dan lemahnya industrialisasi manufaktur menjadi penyebab utama ketertinggalan ekonomi nasional.
“Vietnam memilih manufaktur berorientasi ekspor, dan hasilnya nyata: pertumbuhan mendekati 10 persen. Indonesia memilih bertahan pada komoditas dan retorika, dan hasilnya stagnasi,” ujarnya kepada media-umat.com, Rabu (14/10/2026).
Anthony menyebut perbedaan strategi pembangunan ekonomi kedua negara tercermin dari kinerja ekspor dan struktur industri. Selama Januari–Agustus 2026, ekspor Vietnam mencapai US$374,84 miliar, sedangkan Indonesia sebesar US$193,64 miliar.
Menurutnya, dominasi produk manufaktur dalam ekspor Vietnam menjadi salah satu faktor yang mendorong pertumbuhan ekonomi negara tersebut.
“Vietnam menjual produk manufaktur. Indonesia masih menjual komoditas dan turunannya,” ujar Anthony.
Ia menambahkan, ekspor manufaktur Vietnam mencapai 90,2 persen dari total ekspor, sementara Indonesia masih bergantung pada komoditas dan produk turunannya. Kondisi tersebut, menurut Anthony, menunjukkan perbedaan orientasi pembangunan industri kedua negara.
Lebih lanjut, Anthony juga menyoroti tingginya tingkat kemiskinan di Indonesia dibandingkan Vietnam. Berdasarkan garis kemiskinan internasional sebesar US$8,30 per hari dengan (Purchasing Power Parity 2021), proporsi penduduk miskin Indonesia pada 2025 mencapai 64,1 persen, sedangkan Vietnam sebesar 18,7 persen.
“Pertumbuhan yang bertumpu pada konsumsi dan komoditas tidak membangun industri, tidak menciptakan lapangan kerja bergaji layak, dan tidak mengangkat rakyat dari kemiskinan,” jelasnya.
Ia memperingatkan ketergantungan pada komoditas dan fokus pada angka pertumbuhan semata akan membuat Indonesia semakin tertinggal dari negara-negara tetangga.
“Selama kebijakan ekonomi hanya memuja angka pertumbuhan dan hilirisasi sempit, Indonesia akan terus disalip negara tetangga,” pungkasnya. [] Ikbal
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat