Opini Dakwah Harus Mampu Bongkar Persoalan dan Uji Pemikiran
MediaUmat – Jurnalis Joko Prasetyo menilai penulisan opini dakwah sepatutnya tidak sebatas menyampaikan pendapat suatu persoalan yang dilengkapi cuplikan dalil, melainkan harus mampu membongkar akar masalah serta menguji pemikiran dan asumsi di baliknya.
“Opini dakwah bukan sekadar pendapat tentang suatu persoalan yang diberi dalil. Tulisan harus mampu membongkar persoalan dan menguji pemikiran di baliknya,” ujar jurnalis yang akrab disapa Om Joy tersebut kepada media-umat.com, Senin (12/10/2026).
Ia menegaskan, ketajaman analisis merupakan syarat mutlak dalam menyusun tulisan dakwah. “Bukan sekadar mengungkap gejala, tetapi membongkar akar persoalan, asumsi keliru, kontradiksi, dan ideologi di baliknya,” ungkapnya.
Dan yang terpenting, pesan Islam harus hadir secara substantif di dalam keseluruhan gagasan. “Kritik tidak boleh berhenti pada individu jika persoalannya juga menyangkut sistem. Islam harus hadir dalam argumentasi dan solusi, bukan sekadar menjadi kutipan di akhir tulisan,” tandasnya.
Lima Fondasi Penulisan Opini Dakwah
Untuk menghasilkan opini yang berbobot dan berdampak kuat, Om Joy memaparkan lima fondasi utama yang wajib diperhatikan para penulis.
Pertama, mengenai karakter tulisan, opini dakwah berciri Islam ideologis, tajam, argumentatif, dan berpijak pada wahyu. “Ketajaman itu harus tetap proporsional dan faktual. Kritik ditujukan pada hal yang dapat dipertanggungjawabkan, bukan pada fakta rekaan atau serangan pribadi,” jelas Om Joy.
Kedua, alur argumentasi hendaknya disusun secara logis. Penulis dapat memulainya dari pembuka yang menarik, pembongkaran masalah, benturan ideologis, penyajian fakta dan dalil relevan, hingga diakhiri dengan penutup yang tegas dan mendalam.
Ketiga, terkait pilihan bahasa, tulisan sebaiknya menggunakan bahasa Indonesia yang alami, lugas, konkret, dan mudah dipahami pembaca awam dengan paragraf pendek agar nyaman dibaca di layar ponsel.
“Retorika, analogi, dan contoh digunakan untuk memperkuat penjelasan, bukan menutupi kelemahan argumen. Penekanan diberikan secukupnya agar gagasan utama lebih mudah ditangkap,” tambahnya.
Keempat, ketegasan ideologis harus dihadirkan secara nyata. Om Joy mengingatkan bahwa kritik harus berani menyasar aspek sistemik.
“Jika relevan, penerapan syariat Islam secara kaffah dan khilafah harus dibahas secara substantif, bukan dipaksakan masuk ke setiap isu,” paparnya.
Kelima, amanah terhadap bahan menjadi pijakan krusial agar ketajaman kritik tidak merusak akurasi. Penulis wajib membedakan fakta, opini, dan interpretasi; tidak memelintir konteks data maupun dalil; serta memastikan seluruh sumber berita, kutipan, data, dan dokumen dapat dipertanggungjawabkan.
Selain itu, tulisan sebaiknya disusun secara mengalir dan tidak sekadar kaku mengikuti kerangka baku. Tegasnya, seluruh fondasi tersebut merupakan acuan mendasar agar tulisan opini yang dihasilkan memiliki bobot serta daya dobrak yang kuat.
“Tujuannya bukan sekadar menghasilkan tulisan yang terdengar keras, melainkan tulisan yang kuat secara fakta, tajam secara argumentasi, tegas secara ideologis, dan menghunjam pada kesimpulan,” pungkasnya.[] Zainul Krian
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat