HILMI: Sistem Sumber Listrik Indonesia Paradoksal
MediaUmat – Menyoroti terkait sumber pasokan listrik Indonesia yang masih mendominasi energi fosil, Perhimpunan Intelektual Muslim Indonesia (HILMI) menilai sumber listrik Indonesia paradoksal.
“Indonesia memiliki situasi yang cukup paradoksal,” ujarnya kepada media-umat.com, Kamis (8/10/2026).
Sebab, jelas HILMI, Indonesia mempunyai potensi energi terbarukan yang sangat besar, tetapi sistem listrik nasional masih didominasi bahan bakar fosil.
“Akibatnya, Indonesia menghadapi paradoks. Kita merupakan salah satu negara dengan cadangan panas bumi terbesar dunia, memiliki ribuan sungai, sinar matahari sepanjang tahun, ribuan kilometer garis pantai, serta berbagai wilayah yang potensial untuk angin dan energi laut. Namun pemanfaatannya masih jauh lebih kecil dibanding potensinya,” bebernya.
Sedangkan, lanjutnya, dalam statistik energi pemerintah menunjukkan batu bara tetap menjadi sumber terbesar pembangkitan listrik Indonesia.
“Produksi batu bara nasional pada 2024 bahkan mencapai sekitar 836 juta ton, jauh di atas kebutuhan domestik; sekitar 233 juta ton dialokasikan melalui skema Domestic Market Obligation,” ujarnya.
Dominasi tersebut, lanjutnya, tidak sepenuhnya terjadi karena batu bara merupakan pilihan teknologi terbaik. Banyak pembangkit sudah dibangun melalui investasi jangka panjang, kontrak pasokan telah terbentuk, industri pertambangan berkembang besar, dan jaringan listrik berkembang berdasarkan struktur pembangkitan yang sudah ada.
“Muncullah apa yang dalam ekonomi energi disebut carbon lock-in: suatu keadaan ketika sistem ekonomi, infrastruktur, kontrak, dan kepentingan bisnis membuat teknologi lama sulit ditinggalkan sekalipun alternatif yang lebih baik telah tersedia,” bebernya.
Eropa
HILMI melihat infografik bauran listrik negara-negara Eropa memberi pelajaran yang menarik yaitu, tidak ada satu resep energi yang berlaku untuk semua negara.
“Norwegia hidup dengan tenaga air, Prancis bertumpu pada nuklir, Denmark pada angin, Austria pada hidro, Islandia pada hidro dan panas bumi, sedangkan Polandia, Siprus, dan Malta masih sangat bergantung pada bahan bakar fosil,” bebernya.
Peta energi itu, lanjutnya, sesungguhnya adalah peta geografi, sejarah industri, kemampuan teknologi, sekaligus pilihan politik.
“Karena itu, ketika Indonesia berbicara tentang transisi energi, pertanyaannya bukan sekadar: kapan kita tinggalkan batu bara? Pertanyaan yang lebih mendasar adalah bagaimana kita memanfaatkan seluruh kekayaan energinya secara adil, berdaulat, efisien, dan tidak merusak lingkungan?” ujarnya.
Islam
Melihat potensi sumber listrik yang banyak, sebagaimana dicontohkan sejumlah negara Eropa, HILMI menilai hal tersebut relevan jika dilihat dari perspektif Islam. Karena Islam tidak memerintahkan satu jenis teknologi energi tertentu, tetapi memberikan prinsip bagaimana sumber daya harus dimiliki, dikelola, didistribusikan, dan dipertanggungjawabkan.
“Dalam Islam terdapat hadits yang sangat terkenal: “Kaum Muslim berserikat dalam tiga perkara: air, padang rumput, dan api.” Hadits ini diriwayatkan antara lain oleh Abu Dawud dan Ibn Majah,” jelasnya.
Kata api (an-nār), lanjutnya, tentu muncul dalam konteks masyarakat abad ketujuh. Namun secara prinsip, banyak ulama menggunakan hadits tersebut untuk membahas sumber daya yang menjadi kebutuhan bersama masyarakat.
“Dalam perspektif fikih siyasah, terutama seperti dielaborasi Taqiyuddin an-Nabhani, sumber daya alam yang sifatnya besar dan menjadi kebutuhan umum termasuk kategori kepemilikan umum,” pungkasnya.[] Setiyawan Dwi
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat