Ichsanudin Noorsy: Berhentilah Menerima Paham-Paham Neoliberal
MediaUmat – Ekonom Dr. Ichsanudin Noorsy menyerukan agar Indonesia berhenti menerima paham-paham neoliberal yang dinilainya membuat bangsa ini terus berada dalam posisi lemah.
“Berhentilah menerima paham-paham neoliberal. Itu saja,” tegasnya dalam diskusi mengenai buku seri The New Confessions of an Economic Hit Man karya John Perkins yang tayang di kanal YouTube Bincang Perubahan (Official), Kamis (8/10/2026).
Menurut Noorsy, buku-buku Perkins menggambarkan empat pendekatan yang digunakan dalam pola dominasi, yakni utang, ketakutan, kerentanan terhadap kelangkaan, terutama energi dan pangan, serta politik pecah belah.
“Yang pertama adalah pendekatan utang. Untuk pembangunan infrastruktur, di sinilah perangkap utang dimulai. Yang kedua adalah pendekatan ketakutan. Yang ketiga adalah kerentanan terhadap kelangkaan, terutama energi dan pangan. Yang keempat adalah pendekatan pecah belah dan kuasai,” jelasnya.
Menurut Noorsy, pola tersebut telah digunakan World Bank dan Amerika Serikat terhadap berbagai negara sejak 1970-an dan berlangsung hampir dua generasi. Bahkan, menurut Perkins, pola tersebut kini mulai diterapkan ke dalam negeri.
“Menurut Perkins, model itu sejak tahun 1970-an telah digunakan oleh World Bank dan Amerika terhadap berbagai negara selama hampir dua generasi. Model itu berhasil,” ungkapnya.
Noorsy menilai pola tersebut bukan sekadar hegemoni, melainkan telah berkembang menjadi dominasi kekuatan modal yang bekerja untuk mendikte dunia.
“Saya sebenarnya menyebut ini bukan sekadar hegemoni, tetapi dominasi. Dominasi kekuatan modal. Kekuatan modal bekerja untuk mendikte seluruh dunia,” tegasnya.
Ia mencontohkan pengalaman saat pandemi Covid-19. Menurutnya, masyarakat ketika itu mengalami ketakutan, terbebani utang, dibuat cemas terhadap energi dan pangan, kemudian dipecah dan diadu satu sama lain.
“Ketika Covid, kita dicekoki ketakutan industri, kita dibebani hutang, kemudian dibuat cemas mengenai energi dan pangan. Setelah itu kita dipecah dan diadu satu sama lain,” katanya.
Negara Berkembang Menjadi Korban
Noorsy menyebut pesan utama buku ketiga Perkins adalah negara-negara berkembang menjadi korban dari pola tersebut. Bahkan, menurutnya, Perkins secara eksplisit menunjuk Indonesia.
“Yang ingin disampaikan Perkins adalah bahwa negara-negara berkembang adalah korban. Perkins bahkan secara eksplisit menunjuk Indonesia,” ujarnya.
Ia juga menyoroti sejarah perkembangan Amerika yang menurutnya tidak dapat dilepaskan dari penindasan, perampasan tanah, dan pembantaian suku-suku Indian.
“Amerika tumbuh dan berkembang melalui penindasan, melalui perampasan tanah, dan melalui pembantaian suku-suku Indian. Mereka tumbuh dan berkembang melalui kekerasan dan pembantaian,” ungkapnya.
Karena itu, Noorsy mengingatkan masyarakat agar tidak larut dalam industri ketakutan. Menurutnya, generasi muda justru harus membangun kemampuan untuk bersatu dan menumbuhkan optimisme.
“Berhenti menikmati industri ketakutan. Dalam bahasa sederhana, dalam istilah kekinian, generasi muda harus berhenti menikmati perang saudara. Kita tidak perlu menggunakan kata-kata seperti ‘kepalamu’. Kita tidak perlu menggunakan kata-kata seperti ‘idiot’. Kita tidak perlu menggunakan istilah seperti ‘Belanda hitam’. Sebaliknya, kita harus menunjukkan kemampuan untuk membangkitkan kapasitas anak bangsa untuk bersatu. Ada optimisme ke depan,” tegasnya.
Bangkit dari Kekuatan, Bukan Ketergantungan
Dalam menghadapi persoalan utang, Noorsy menekankan perlunya membedakan utang yang tidak bersih dan utang yang halal. Menurutnya, utang merupakan alat yang sangat kuat untuk mendikte pihak lain.
“Kita harus bisa membedakan utang yang tidak bersih dan utang yang halal untuk kemudian menyatakan bahwa kita berhenti berutang. Karena utang adalah alat yang sangat kuat untuk mendikte orang lain,” tegasnya.
Ia juga menilai Indonesia tidak perlu terus-menerus dicekam kekhawatiran mengenai energi dan pangan karena negeri ini memiliki sumber daya yang besar. Masyarakat, menurutnya, perlu didorong untuk kreatif dalam mengembangkan potensi tersebut.
“Indonesia kaya energi, selama rakyatnya diajarkan untuk kreatif. Terbukti beberapa desa sudah mampu membangun sumber energi melalui limbah, baik limbah plastik maupun limbah lainnya,” tuturnya.
Karena itu, Noorsy menegaskan Indonesia tidak seharusnya memulai dari posisi lemah. Bangsa ini, menurutnya, memiliki kekayaan sumber daya dan berbagai potensi yang dapat menjadi modal untuk membangun kepercayaan diri.
“Negara ini terlalu kaya untuk mengkhawatirkan sumber daya. Yang tersisa adalah bagaimana kita tidak memulai dari posisi lemah, tetapi menyadari bahwa kita memulai dari kekuatan. Berhentilah menerima paham-paham neoliberal,” tandasnya.
Menurut Noorsy, kekuatan tersebut juga harus dibangun melalui pendidikan. Ia mengkritik kondisi pendidikan Indonesia yang menurutnya masih “didikte” dan “terjajah”. Pendidikan, katanya, perlu dibenahi agar mampu membangun optimisme yang berlandaskan iman dan pengetahuan.
“Kita perlu membenahi apa yang saya sebut keadaan pendidikan yang didikte di Indonesia, keadaan pendidikan yang terjajah di Indonesia, agar kita memiliki optimisme yang berlandaskan iman dan pengetahuan,” ujarnya.
Dengan optimisme yang berlandaskan iman dan pengetahuan, Noorsy berharap masyarakat tidak mudah diarahkan ke jalan yang keliru. Ia juga mengingatkan agar politik divide et impera tidak dibiarkan memecah persatuan bangsa.
“Kalau kita memiliki optimisme yang berlandaskan iman dan pengetahuan, percayalah, kita tidak akan terjebak di jalan yang keliru,” katanya.
Menurutnya, politik divide et impera merupakan pola lama yang perlu segera diatasi. Karena itu, selain revolusi pendidikan yang berbasis martabat bangsa, Indonesia membutuhkan kepemimpinan yang memberikan keteladanan serta keberanian untuk membangun model yang baik.
“Untuk mengatasi divide et impera, selain melakukan revolusi pendidikan yang berbasis pada martabat bangsa, kita membutuhkan kepemimpinan yang memberikan keteladanan. Kita memang membutuhkan keberanian kepemimpinan sekaligus model yang baik,” katanya.
Noorsy menambahkan, sistem yang dibangun juga harus mampu memberikan imunitas terhadap sistem dan ideologi yang dapat membawa bangsa ke jalan yang keliru.
“Our system harus membangun imunitas terhadap sistem dan ideologi yang membuat kita gagal, yang menyesatkan kita,” tegasnya.
Noorsy pun menekankan pentingnya menjaga keberanian dan optimisme karena Indonesia sebenarnya memiliki berbagai potensi. Ia juga mengingatkan agar bangsa ini tidak kehilangan harga diri dan tidak membiarkan diri diadu satu sama lain.
“Keberanian dan optimisme kita harus dipertahankan karena sebenarnya kita memiliki semuanya. Jangan mau kehilangan harga diri. Kita memiliki harga diri dan jangan membiarkan diri kita diadu satu sama lain,” pungkasnya.[] Zainard
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat