AS Turun Tangan untuk Menyelamatkan Yen Jepang dari Keruntuhan
Pada tanggal 4 Agustus 2026, AS dan Jepang mengumumkan bahwa mereka telah melakukan intervensi di pasar mata uang pada akhir pekan sebelumnya, dan itu pertama kalinya dalam 28 tahun untuk mendukung yen Jepang, yang telah jatuh ke level terendah dalam empat dekade. AS menyatakan kesediaannya untuk melakukan intervensi lagi jika diperlukan.
Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama mengatakan: “Jepang dan Amerika Serikat telah melakukan intervensi terkoordinasi untuk membeli yen di pasar valuta asing, dan tindakan bersama ini memungkinkan kami untuk menahan volatilitas yang berlebihan dan pergerakan yen yang tidak terkendali dalam beberapa bulan terakhir.”
Yen jatuh ke level terendah sejak 1986, mencapai 164 yen terhadap dolar. Setelah intervensi, nilai tukarnya pulih ke 160 yen per dolar.
Intervensi ini kurang bermanfaat bagi Jepang dibandingkan bagi Amerika Serikat. Jepang menunjukkan niat untuk menjual obligasi Treasury (Treasury bonds) AS guna menghasilkan likuiditas. Jepang memegang sejumlah besar obligasi ini, yang berjumlah 1,14 triliun dolar menurut data Departemen Keuangan AS dari Mei 2026. Ini mewakili sekitar 12,2% dari total obligasi Treasury AS yang dipegang oleh warga asing, yang berjumlah sekitar 9,37 triliun dolar, dan sekitar 2,9% dari total utang nasional AS sebesar 39,5 triliun dolar.
Laporan menunjukkan bahwa jika Jepang menjual sebagian obligasi ini untuk menyediakan likuiditas mata uang keras guna mendukung mata uangnya, yen, hal ini akan merugikan perekonomian AS, memukul pasar keuangannya, menyebabkan harga obligasi ini turun, dan meningkatkan biaya pinjaman AS yang akan dibiayai pemerintah di masa mendatang dengan obligasi baru. Selain itu, biaya pinjaman hipotek, pinjaman perusahaan, pinjaman mobil, dan pinjaman pribadi untuk individu akan meningkat karena bank terpaksa menaikkan suku bunga, dan bahkan konsumen Amerika pun akan dirugikan.
Jika biaya pinjaman meningkat, itu berarti individu dan investor akan enggan meminjam, yang akan menyebabkan perlambatan ekonomi, investasi yang lemah, kehilangan pekerjaan, tingkat pengangguran yang lebih tinggi, dan penurunan permintaan pasar. Dampak dari semua ini akan dirasakan oleh rumah tangga Amerika.
Oleh karena itu, hal ini akan memengaruhi para pemilih Amerika dan peluang keberhasilan Partai Republik Trump dalam pemilihan kongres AS pada bulan November mendatang.
Di sisi lain, depresiasi yen terhadap dolar membuat barang impor dari AS dan negara lain menjadi lebih mahal, sehingga memperlebar surplus perdagangan yang merugikan AS. Data dari Kantor Perwakilan Perdagangan AS menunjukkan bahwa defisit perdagangan dengan Jepang mencapai 63,9 miliar dolar pada tahun 2025. Ekspor AS ke Jepang berjumlah 82,1 miliar dolar, sementara total impor barang AS dari Jepang mencapai 146 miliar dolar.
Oleh karena itu, intervensi AS bukanlah karena cinta kepada Jepang, juga bukan dimaksudkan untuk membantu Jepang; melainkan semata-mata untuk keuntungan dan kepentingan diri sendiri. AS tidak akan mengambil langkah apa pun di bidang apa pun—politik, ekonomi, atau lainnya—kecuali untuk mencapai kepentingannya sendiri terlebih dahulu dan terutama, seperti yang dinyatakan dalam semboyannya: “America First (Amerika yang Pertama).” Amerika hanya memikirkan negara lain sejauh negara tersebut melayani kepentingan, pengaruh, dan dominasinya (hizb-ut-tahrir.info, 6/8/2026).
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat