FoCUS: Negara Banyak Luput Atasi Kerusakan Institusi Keluarga

 FoCUS: Negara Banyak Luput Atasi Kerusakan Institusi Keluarga

MediaUmat – Peneliti Forum of Contemporary Ummah Studies (FoCUS) Iwan Januar menilai kerusakan pada institusi keluarga menjadi kelemahan utama yang hingga kini masih luput dari perhatian negara/pemangku kebijakan.

“Ada satu kelemahan yang nyatanya masih banyak luput dari para pemangku kebijakan kita dan bahkan kita sendiri sebagai manusia yaitu kerusakan pada institusi keluarga,” tegasnya kepada media-umat.com, Jumat (31/7/2026).

Pernyataan tersebut melatarbelakangi keprihatinan Iwan atas fenomena krisis eksistensi manusia modern, ketika kemajuan teknologi dan ekonomi justru diiringi oleh meningkatnya krisis kesehatan mental, lonjakan angka kesepian, hingga ancaman penyusutan populasi di berbagai belahan dunia.

Secara faktual, ketidakberfungsian keluarga akibat krisis pengasuhan memberikan dampak domino yang nyata, mulai dari lahirnya individu bermasalah hingga penurunan angka kelahiran (Total Fertility Rate/TFR) yang signifikan. Hal ini terlihat dari fenomena 1.57 Shock di Jepang hingga merosotnya TFR di Korea Selatan dan negara-negara Eropa, yang berada jauh di bawah batas ideal penggantian populasi (replacement level) sebesar 2,1.

Menanggapi fenomena tersebut, Iwan melihat rapuhnya fondasi keluarga modern tidak lepas dari gempuran hegemoni materialisme dan sistem ekonomi kapitalisme yang menuntut sumber pendapatan ganda.

“Kondisi ini secara sadar ataupun tidak, banyak ‘memaksa’ para Ibu meninggalkan peran mereka sebagai madrasah pertama bagi anak-anaknya. Hal yang sama terjadi juga kepada para Ayah yang pada akhirnya hanya sekadar menjadi pencari nafkah, bukan sebagai Ayah yang seutuhnya bagi anak-anaknya,” jelasnya.

Ia menambahkan, rekayasa ekonomi sekuler dan pengeluaran anggaran negara bernilai triliunan rupiah terbukti gagal mendongkrak angka kelahiran maupun menyelamatkan institusi keluarga tanpa adanya arah serta pandangan hidup yang mendasar.

Untuk itu, Iwan menekankan pentingnya mengembalikan peran keluarga sebagai pondasi tatanan sosial melalui cara pandang hidup (worldview) Islam, yang memandang keluarga bukan sekadar tempat pemenuhan kebutuhan biologis, melainkan institusi ideologis untuk menanamkan akidah dan membentuk kepribadian Islam (syakhshiyyah islamiyyah).

Guna mendukung peran ideal tersebut, ia menegaskan perlunya keterlibatan negara dalam menjamin kesejahteraan rakyat secara struktural agar beban pengasuhan di rumah dapat berjalan optimal.

“Perbaikan infrastruktur dan regulasi yang hanya menyentuh hal-hal bersifat fisik dan materi tidak akan pernah mampu menjadi solusi selama kita membiarkan institusi keluarga dirusak oleh hegemoni sekularisme dan kapitalismenya,” ujar Iwan.

Atas dasar itulah, ia mengusung hadirnya gerakan “Rumah Peradaban” sebagai upaya akademis berbasis worldview Islam untuk memosisikan kembali keluarga sebagai episentrum peradaban sekaligus menjembatani persoalan keluarga modern.

“Sebagai bagian dari usaha dalam memperjuangkan keluarga pada perannya yang hakiki dalam kerangka Islam agar terwujudnya peradaban yang rahmatan lil-’alamin,” pungkasnya.[] Zainul Krian

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini:

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *