Terobosan Chip AI China: Strategi Pembendungan AS Jadi Bumerang
China telah mulai memproduksi mesin litografi Deep Ultraviolet (DUV) yang dikembangkan di dalam negeri, peralatan presisi yang selama ini didominasi oleh perusahaan Belanda, ASML (Advanced Semiconductor Materials Lithography), dengan target produksi awal yaitu lima unit pada tahun 2026, dan dua puluh unit pada tahun 2027. Shanghai Aishengna Electronic Technology Group, perusahaan milik negara China yang memimpin upaya produksi mesin litografi DUV (Deep Ultraviolet) domestik untuk melawan blokade teknologi AS, menandai terobosan besar dalam manufaktur semikonduktor.
Pasar global bereaksi tajam, dengan saham perusahaan Nvidia jatuh lima persen pada 27 Juli dan saham perusahaan chip Korea Selatan anjlok hampir 15 persen. Huawei telah memimpin pengurangan ketergantungan China pada chip AI asing dari 90 persen pada tahun 2021 menjadi kurang dari 60 persen pada tahun 2025, dengan desain yang lebih baru diproyeksikan akan menurunkan angka tersebut menjadi 25 persen selama setengah dekade berikutnya.
Wakil Perdana Menteri Ding Xuexiang, orang kepercayaan Presiden Xi, mengadopsi pendekatan habis-habisan yang dimodelkan pada program nuklir dan satelit China tahun 1960-an, memperingatkan bahwa siapa pun yang menolak adopsi chip domestik adalah pengkhianat.
Wakil Ketua Dewan Direksi dan Ketua Bergilir (Rotating Chairman) Huawei, Eric Xu, mengakui bahwa tanpa tekanan AS, perkembangan pesat seperti itu tidak akan pernah terjadi. Jadi, strategi AS berupa kontrol ekspor dan pembatasan teknologi justru menghasilkan apa yang ingin dicegahnya: percepatan swasembada China dalam teknologi semikonduktor vital. Adapun upaya Barat untuk mempertahankan hegemoninya melalui penyangkalan, maka upayanya itu justru telah memicu persaingan yang mereka takuti (hizb-ut-tahrir.info, 29/7/2026).
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat