Penguasa Baru Suriah Kini Menormalisasi Hubungan dengan NATO!
Setelah Menormalisasi Hubungan dengan Penguasa Kriminal Arab, Entitas Yahudi, Pasukan Koalisi Internasional, dan “Perang Melawan Terorisme”, Penguasa Baru Suriah Kini Menormalisasi Hubungan dengan NATO!
Presiden Suriah Ahmad Al-Syara’ tiba di Ankara pada hari Rabu (8/7), di mana ia dijadwalkan bertemu dengan Presiden AS Donald Trump di sela-sela KTT NATO. KTT aliansi militer, yang berakhir pada hari Rabu (8/7), mempertemukan 36 kepala negara, selain beberapa perwakilan dari negara-negara Teluk. Al-Syara’ menerima undangan dari Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Trump, yang telah lama membanggakan hubungan dekatnya dengan Erdogan, menggambarkan rekan sejawatnya dari Suriah sebagai sosok yang “tegas”.
Presiden AS mengatakan kepada wartawan pada hari Selasa (7/7), “Berkat Presiden Erdogan, kami memiliki hubungan yang sangat baik dengan pemimpin Suriah yang baru.” Ia (Trump) menambahkan, “Ia (Al-Syara’) telah melakukan pekerjaan yang fantastis dalam satu setengah tahun, dan telah berhasil menyatukan negara. Saya memiliki hubungan yang sangat baik dengannya.”
Trump melanjutkan: “Seseorang mengatakan bahwa ia (Al-Syara’) sangat tegas … Saya menyetujuinya bersama Presiden (Erdogan). Kami berdua sangat antusias dengan pencapaiannya. Ia melakukan pekerjaan dengan baik, memobilisasi semua upaya. Itu tidak mudah. Perang selama tiga belas tahun telah menyebabkan kehancuran besar di Suriah, yang memerlukan dukungan internasional untuk rekonstruksi dan masih menghadapi banyak ancaman.”
Pada hari Selasa, 18 orang terluka dalam dua serangan bom di Damaskus, dekat sebuah hotel tempat Presiden Prancis Emmanuel Macron menginap. Al-Syara’ mengunjungi Washington pada November tahun lalu untuk mencari dukungan keuangan bagi Suriah. Namun bulan lalu ia menolak seruan dari Trump untuk melakukan intervensi militer di negara tetangga Lebanon melawan Hizbullah, yang terlibat dalam konflik terbuka dengan (Israel). Dalam sebuah wawancara bulan lalu, ia mengatakan: “Kami mencari jalur ekonomi antara Lebanon dan Suriah, bukan jalur militer.”
Trump bersikeras untuk terus-menerus menghina Ahmad Al-Syara’ dengan mengatakan “Saya menyetujuinya” atau “Saya yang membawanya masuk”, dan sebagai balasannya, Al-Syara’ berterima kasih kepada Trump dan menyanjungnya seperti menyanjung seorang teman. Apakah Amerika Serikat, yang menyerang dan membunuh penduduk Gaza dan Iran, serta membunuh penduduk Irak dan Afghanistan serta menduduki negeri-negeri Islam, telah menjadi layak untuk diberi ucapan terima kasih dan sikap persahabatan?!
Amerika Serikat, yang selama beberapa dekade mengusung panji perang melawan terorisme untuk memerangi Islam melalui perang tersebut, dan yang telah mendukung rezim Basyar al-Asad, Sisi, Ibnu Salman, dan lainnya yang tidak tahu apa-apa selain menumpahkan darah kaum Muslim dan memerangi Islam siang dan malam—apakah para penguasa baru Suriah benar-benar setuju untuk bergabung dalam paduan suara itu? Dan apakah mereka telah mencapai tahap merekrut kaum Muslim untuk bekerja di bawah payung militer NATO, yang berarti bahwa kaum Muslim berperang di bawah panji-panji orang kafir di luar negeri, seperti panji NATO, sementara mereka dilarang membebaskan Suriah dan Palestina dari entitas Yahudi?!
Sumber: Al-Waie [Arab], Edisi 481 – Tahun ke-41, Safar 1448 H/Juli 2026 M.
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat