Pasokan Batu Bara ke PLN Berkurang, FAKKTA: Ironis
MediaUmat – Blackout (pemadaman listrik bergilir dalam skala luas) yang melanda sebagian besar wilayah Jawa, Madura, dan Bali akibat kurangnya pasokan batu bara ke PLN sehingga berdampak pada ribuan rumah tangga, industri hingga fasilitas publik dinilai sangat ironis karena Indonesia adalah salah satu produsen batu bara utama dunia.
“Ini sangat ironis, karena seperti tadi yang sudah disampaikan bahwa Indonesia adalah salah satu produsen utama batu bara dunia ya,” ujar Peneliti dari Forum Analisis dan Kajian Kebijakan untuk Transparansi Anggaran (FAKKTA) Muhammad Ishak dalam acara Mbois (Membongkar Isu): Rakyat inginnya Listrik Terang Terus, Mungkinkah PLN Terus Terang, Rabu (1/7/2026) di kanal YouTube Tabloid Media Umat.
Ishak membenarkan, yang terjadi saat ini memang akibat kelangkaan suplai batu bara ke PLN dan juga ada pembangkit yang bermasalah. Meskipun dua pembangkit besar yang bermasalah tersebut menurut dugaan investigasi sesungguhnya permasalahnya itu juga karena kekurangan suplai batu bara.
Ishak membeberkan, sekitar 50 persen produksi batu bara dunia itu berasal dari Indonesia. Indonesia mengekspor batu bara ke Cina, India dan Eropa. Namun ironisnya Indonesia sendiri malah kekurangan batu bara untuk menghidupi pembangkit milik PLN.
Ishak melihat, batu bara negeri ini yang begitu melimpah tersebut tidak sampai ke pembangkit PLN karena ternyata selama ini dikuasai oleh swasta. Sedangkan swasta untuk mendapatkan keuntungan yang besar lebih memilih menjual ke luar negeri dari pada menjual ke PLN karena harga batu bara dunia sedang naik, bahkan selisih harganya bisa sampai 400 USD /ton.
Artinya, kata Ishak, ini adalah cuan besar bagi produsen batu bara domestik karena biaya produksinya hanya 20 sampai 30 USD/ton, sehingga margin keuntungannya sangat luar biasa besar. Oleh karena itu mereka lebih memilih ekspor dan mengabaikan PLN yang akibatnya beberapa pembangkit besar kekurangan batu bara. Hal ini terjadi lagi berulang kali ketika harga batu bara dunia naik.
“Saya kira ini ada problem besar yang terjadi di negara kita gitu,” pungkasnya.[] Agung Sumartono
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat