AS Satukan Kekuatan di Libya untuk Memfasilitasi Operasi Perusahaan Minyaknya

 AS Satukan Kekuatan di Libya untuk Memfasilitasi Operasi Perusahaan Minyaknya

Pada 17 Juni 2026, Massad Boulos, penasihat presiden AS untuk urusan Timur Tengah dan Afrika, mengatakan kepada Financial Times bahwa “Amerika Serikat berupaya menengahi perjanjian pembagian kekuasaan antara dua pemerintahan yang bersaing di Libya timur dan barat,” untuk mengamankan penjarahan minyak Libya oleh perusahaan-perusahaan Amerika dengan kedok investasi.

Dia mengatakan, “Amerika Serikat sedang berupaya menyatukan lembaga-lembaga negara yang terfragmentasi di bawah satu otoritas tunggal sambil mendorong perusahaan minyak Amerika untuk berinvestasi. Rencana kami adalah membentuk pemerintahan yang bersatu dan mengkonsolidasikan semua lembaga.” Dia mencatat bahwa “ConocoPhillips dan Chevron telah menandatangani perjanjian dengan Libya, dengan demikian produksi Libya dapat berlipat ganda menjadi 3 juta barel per hari pada akhir dekade ini.”

Perlu dicatat bahwa Libya memiliki cadangan minyak terbukti terbesar di Afrika. Negara-negara Barat, khususnya Amerika Serikat, Prancis, dan Inggris, melakukan intervensi di bawah panji NATO, dengan dalih membantu rakyat Libya melawan klien mereka, Gaddafi, yang telah mengamankan kepentingan mereka dalam ekstraksi minyak. Perusahaan-perusahaan Barat, terutama perusahaan-perusahaan Eropa, adalah penambang utama minyak Libya, memegang pangsa pasar terbesar, sementara perusahaan-perusahaan Amerika berusaha untuk bersaing dengan mereka.

Ketika rakyat Libya memberontak pada tahun 2011 melawan rezim boneka Barat, kekuatan kolonial Barat campur tangan untuk mencegah kemerdekaan Libya dan mempertahankan penindasannya. Kekuatan-kekuatan ini kemudian mulai bersaing memperebutkan pengaruh di antara mereka sendiri melalui sekutu regional dan proksi lokal mereka.

Akhirnya, Amerika Serikat berhasil membawa agen-agennya di Libya ke tampuk kekuasaan dengan bantuan anteknya Erdogan dan membentuk pemerintahan Abdul Hamid Dbeibah di Tripoli pada tahun 2021, juga telah membawa agennya Haftar ke tampuk kekuasaan di Libya timur sejak tahun 2014. Sekarang Amerika Serikat berupaya membentuk pemerintahan dari mereka agar dapat merebut sebagian besar minyak milik kaum Muslim dan membuatnya tetap miskin dan kekurangan (hizb-ut-tahrir.info, 18/6/2026).

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini:

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *