Akar Konflik Pakistan-Afghanistan adalah Nasionalisme Sempit
MediaUmat – Kawasan Asia Selatan kembali memanas setelah Pakistan melancarkan serangan militer ke wilayah Afghanistan yang dilaporkan menewaskan sedikitnya 13 orang, menambah panjang konflik perbatasan yang tak kunjung usai, Pengamat Hubungan Internasional Budi Mulyana menilai bahwa peristiwa tersebut bukan sekadar persoalan teknis antarnegara, melainkan berakar pada konsep nasionalisme sempit warisan kolonial yang terus memicu ketegangan di antara kedua negara.
“Akar masalah konflik ini bukanlah murni sengketa teknis antar-tetangga, melainkan akibat dari konsep nasionalisme sempit (wathaniyyah) dan garis batas imajiner warisan kolonial,” ujarnya kepada media-umat.com, Selasa (16/6/2026).
Ia memaparkan, garis batas yang dikenal sebagai Durand Line merupakan peninggalan kolonial Inggris sejak tahun 1893.
Garis tersebut, menurutnya, sengaja diciptakan untuk memecah belah umat Islam di kawasan Asia Selatan dan menjadi bom waktu konflik berkepanjangan.
“Garis Durand (Durand Line) yang memisahkan Pakistan dan Afghanistan adalah bom waktu yang sengaja ditinggalkan imperialis Inggris pada tahun 1893 untuk memecah-belah kesatuan umat Islam di Asia Selatan,” tegasnya.
Menurutnya, ketika penguasa di Islamabad dan Kabul mengadopsi konsep nation-state ala Barat, keduanya terjebak dalam ilusi keamanan nasional yang sempit. Paradigma ini bertentangan dengan konsep keamanan dalam Islam yang bersifat komunal bagi seluruh umat, bukan dibatasi oleh garis geografis buatan penjajah.
“Dalam Islam, keamanan itu bersifat komunal bagi seluruh umat (keamanan umat), bukan tersekat oleh batas geografis buatan penjajah,” jelasnya.
Menurutnya, kondisi ini menjadi ironi besar ketika kekuatan militer kaum Muslim yang seharusnya melindungi justru digunakan untuk saling menyerang. Ia menilai tindakan tersebut sebagai penyimpangan serius dari ajaran Islam.
“Sungguh ironis dan berdosa besar ketika moncong senjata dan jet tempur kaum Muslim—yang seharusnya bersinergi melindungi darah umat—justru digunakan untuk saling membantai demi mempertahankan sekat buatan kafir imperialis,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa dalam Islam, pertumpahan darah sesama Muslim merupakan pelanggaran besar.
Ia mengutip hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh al-Bukhari, bahwa mencela seorang Muslim adalah kefasikan dan membunuhnya adalah kekufuran.
Lebih lanjut, ia menilai konflik ini akan terus berulang selama kedua negara masih mempertahankan ego nasionalisme dan tunduk pada kepentingan geopolitik global. Serta ketergantungan pada lembaga internasional seperti PBB yang dinilai tidak netral, konflik ini tidak pernah menemukan solusi yang hakiki.
“Selama kedua negeri masih menyandarkan pada ego nasionalistik, tunduk pada dikte geopolitik global, dan mencari solusi ke lembaga seperti PBB, konflik ini tidak akan pernah usai,” bebernya.
Sebagai solusi, Budi menawarkan pendekatan ideologis dengan menghapus batas kolonial, menghentikan intervensi asing, dan menyatukan kekuatan umat dalam satu kepemimpinan.
Ia meyakini, persatuan umat adalah satu-satunya jalan untuk menghentikan pertumpahan darah.
“Solusi ideologisnya hanya satu: hapus garis batas kolonial tersebut, putus intervensi asing, dan lebur kekuatan militer serta politik ke dalam satu komando kepemimpinan Islam,” tandasnya.[] Lukman Indra Bayu
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat
