Tuntutan kepada AS untuk Mengungkap Senjata Nuklir (Israel) … Kekhawatiran atas Kesalahan Perhitungan?
Ada kekhawatiran yang semakin meningkat tentang program nuklir (Israel), dan apa alasannya menggunakan senjata nuklir padahal tidak diserang dengan senjata pemusnah massal. Sungguh ini pertama kalinya, sejumlah anggota Partai Demokrat di Dewan Perwakilan Rakyat mendesak pemerintahan Presiden AS Donald Trump agar secara terbuka mengakui program nuklir (Israel) yang tidak diumumkan. Langkah ini akan mengungkap kebijakan Amerika selama beberapa dekade dan menambah ketegangan dalam hubungan antara Partai Demokrat dan (Israel).
Dalam surat yang ditujukan kepada Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio yang diperoleh oleh The Washington Post, lebih dari dua puluh anggota parlemen, yang dipimpin oleh Perwakilan Joaquin Castro (Texas), mengatakan bahwa kebungkaman Washington mengenai program nuklir (Israel) tidak dapat dibenarkan mengingat perang di Teheran dan ancaman eskalasi militer yang serius.
Para anggota parlemen menulis, “Risiko salah perhitungan, eskalasi, dan penggunaan senjata nuklir dalam lingkungan ini bukanlah hal yang teoritis. Kongres memiliki tanggung jawab konstitusional untuk sepenuhnya memahami keseimbangan nuklir di Timur Tengah, risiko eskalasi oleh pihak mana pun dalam konflik ini, dan perencanaan serta rencana darurat pemerintah untuk skenario tersebut.”
(Israel) tidak mengakui program senjata nuklirnya—yang dibangun secara rahasia sejak akhir tahun 1950-an—dan tidak memiliki doktrin yang dinyatakan secara publik tentang bagaimana mereka menggunakan senjata tersebut.
Surat tersebut merupakan tanda terbaru dari pergeseran pendekatan Partai Demokrat terhadap (Israel) di tengah meningkatnya frustrasi atas pembunuhan warga sipil di Gaza, Tepi Barat, dan Lebanon oleh (Israel), serta lobi-lobi tingkat tinggi mereka di Washington untuk perang di Iran.
“Dorongan untuk transparansi oleh Partai Demokrat mencerminkan introspeksi yang lebih dalam tentang (Israel) yang terjadi di dalam partai tersebut,” kata Jeremy Shapiro, mantan pejabat pemerintahan Obama.
Beberapa pejabat pemerintahan Trump, yang berbicara dengan syarat anonim untuk membahas masalah intelijen, menyatakan kekhawatiran tentang eskalasi nuklir, menunjukkan bahwa garis merah (Israel) mungkin belum cukup dipahami.
Seorang pejabat di pemerintahan AS mengatakan, “Ada keresahan yang meningkat tentang program nuklir (Israel) dan apa yang dapat memaksa mereka untuk menggunakan senjata nuklir selain menghadapi serangan senjata pemusnah massal.” Ia menambahkan, bahwa “masalah (Israel) menggunakan nuklir dalam menghadapi jumlah korban sipil yang luar biasa tinggi itu telah dibahas berulang kali.”
**** **** ****
Allah SWT berfirman:
﴿بَلْ مَتَّعْنَا هَؤُلَاء وَآبَاءهُمْ حَتَّى طَالَ عَلَيْهِمُ الْعُمُرُ أَفَلَا يَرَوْنَ أَنَّا نَأْتِي الْأَرْضَ نَنقُصُهَا مِنْ أَطْرَافِهَا أَفَهُمُ الْغَالِبُونَ﴾
“Sebenarnya Kami telah memberi mereka dan nenek moyang mereka kenikmatan (hidup di dunia) hingga panjang usia mereka. Maka, tidakkah mereka melihat bahwa Kami mendatangi negeri (yang berada di bawah kekuasaan orang kafir), lalu Kami kurangi luasnya dari ujung-ujungnya? Merekakah yang menang?” (TQS. Al-Anbiya [21] : 44).
Sumber: Al-Waie [Arab], Edisi 478, Tahun Ke-40, Dzul Qi’dah 1447 H./Mei 2026 M.
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat