Lari dari Kewajiban terhadap Islam dan Membuat Alasan
Salah satu musibah terbesar yang sedang menimpa umat Islam adalah melemahnya rasa tanggung jawab seorang Muslim terhadap agamanya. Sehingga hal tersebut menyebabkan mereka berpangku tangan dari kewajibannya, kemudian diikuti dengan pembuatan alasan untuk membenarkan sikapnya ini. Jadi, bukannya mengoreksi diri dan mengakui kekurangannya, justru mereka mencoba meyakinkan diri sendiri dan orang lain bahwa perilaku mereka itu normal dan tidak perlu dipermasalahkan.
Islam tidak menjadikan seorang Muslim sebagai individu yang hanya hidup untuk dirinya sendiri, tetapi menjadikannya memikul tanggung jawab terhadap agama, umat, dan masyarakatnya. Seorang Muslim diperintahkan untuk mendirikan salat, menyeru (berdakwah) kepada kebaikan, membela kebenaran, melakukan amar ma’ruf nahi munkar (memerintahkan kebaikan dan melarang keburukan), serta membela nilai-nilai dan akhlak Islam sebaik dan semaksimal mungkin.
Namun, sebagian besar kaum Muslim, ketika diminta untuk memenuhi salah satu kewajiban ini, berkata: “Zaman telah berubah, tidak ada yang menanggapi, saya tidak berdaya, agama ada di dalam hati, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang!” Mereka menggunakan kata-kata ini sebagai kedok untuk menyembunyikan kelemahan dan sikap berpangku tangan mereka. Sungguh, Islam telah memperingatkan terhadap pendekatan ini karena orang beriman sejati tidak mencari alasan, melainkan mencari keridhaan Allah. Sementara jiwa yang lemah cenderung mencari kemudahan, sehingga ketika dibebani tanggung jawab, ia mulai mencari pembenaran, mengarang alasan, berpegang teguh pada kesenangan duniawi, dan menghindari kewajiban yang untuknya Allah menciptakannya.
Allah SWT telah menceritakan kepada kita kisah Perang Tabuk, ketika sebagian orang berdiam diri dari mendukung Nabi Muhammad SAW, maka orang-orang munafik datang dengan alasan palsu untuk membenarkan sikap berdiam diri mereka, sementara orang-orang yang jujur mengakui kekurangan mereka dan bertaubat kepada Allah. Perbedaannya sangat jelas antara orang-orang yang lari dari kewajiban dengan membuat alasan dan orang-orang yang jujur kepada Allah SWT.
Lari dari kewajiban untuk menolong Islam tidak hanya terbatas pada meninggalkan peperangan atau hal-hal besar dalam agama. Namun hal itu dapat dimulai dengan tindakan yang tampaknya kecil, seperti berdiam diri terhadap kesalahan karena takut akan opini publik, mengabaikan ajakan kepada kebaikan karena kemalasan atau kesibukan dengan urusan duniawi, membatasi diri pada salat dan beberapa ibadah wajib, sementara isu-isu dan masalah-masalah kaum Muslim diabaikan, atau meninggalkan aktivitas keagamaan dengan dalih kesibukan dan pekerjaan duniawi. Seiring waktu, penghindaran ini akan menjadi kebiasaan, dan hati terbiasa mencari alasan hingga kehilangan rasa tanggung jawabnya.
Para sahabat Nabi Muhammad SAW merasa sedih dan menyesal ketika mereka melewatkan suatu perbuatan baik, karena mereka tahu bahwa hidup ini singkat dan seseorang akan berdiri di hadapan Allah untuk dimintai pertanggungjawaban atas agamanya, kewajibannya terhadapnya, dan apa yang telah dipersembahkan kepadanya. Namun, dewasa ini, banyak orang, ketika mereka lalai, maka mencari seseorang untuk membenarkan tindakannyan, bukan seseorang untuk mengingatkan mereka tentang tanggung jawabnya kelak di hadapan Allah SWT.
Ketahuilah bahwa umat tidak akan bangkit dan maju melalui orang-orang yang bermalas-malasan, juga kondisinya tidak akan berubah melalui banyaknya alasan. Sesungguhnya, umat itu akan bangkit dan maju melalui orang-orang yang tulus ikhlas dan memikul tanggung jawabnya, berjuang melawan keinginan pribadinya, dan berjuang untuk agamanya, meskipun hanya dalam hal-hal kecil. Allah SWT berfirman:
﴿وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ﴾
“Dan katakanlah: ‘Bekerjalah, karena Allah akan melihat amal perbuatanmu’.” (TQS. At-Taubah [9] : 105).
Marilah kita selalu bertanya pada diri sendiri: Apa yang telah kita persembahkan kepada Islam? Apakah kita bersama para pejuang yang tulus ikhlas atau bersama mereka yang mencari-cari alasan?
Tantangan paling serius yang dihadapi kaum muda umat kita saat ini bukanlah hanya banyaknya godaan, tetapi juga pemborosan hidup mereka dalam obrolan kosong, kegiatan yang tidak penting, dan terlalu terpaku pada hal-hal yang tidak berguna, hingga hari dan tahun berlalu tanpa dampak nyata pada keimanan atau kehidupan mereka. Berapa banyak anak muda yang telah menyia-nyiakan energi dan waktu mereka di balik pertemuan-pertemuan kosong, media sosial, dan mengikuti berita orang lain, sementara kewajiban mereka terhadap agama semakin melemah dari hari ke hari?
Kaum muda adalah kekuatan dan penopang umat. Jika mereka terlalu sibuk dengan hal-hal sepele, terbiasa dengan alasan, dan mengabaikan tugas-tugas keagamaan dan dakwah mereka, maka seluruh umat akan melemah. Ingatlah bahwa kehidupan yang telah berlalu tidak akan kembali, dan suatu hari seseorang akan berdiri di hadapan Allah Yang Maha Kuasa untuk ditanya tentang masa mudanya dan bagaimana ia menghabiskannya, serta tentang masa hidupnya dan bagaimana ia menghabiskannya.
Pemuda Muslim seharusnya tidak hanya menjadi penonton penderitaan umatnya, atau menjadi tawanan sikap puas diri dan penundaan. Sebaliknya, ia harus mendedikasikan masa mudanya untuk ketaatan dan pengabdian kepada Islam, meskipun hanya melalui kata-kata yang baik, mendukung kebenaran, dan membela kepentingan umat Islam. Allah SWT berfirman:
﴿أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثاً وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ﴾
“Apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kamu dengan sia-sia dan kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (TQS. Al-Mu’minun [23] : 115).
Berbahagialah orang yang menyadari nilai hidupnya sebelum berakhir, dan menjadikan hidupnya sebagai saksi kebaikannya, bukan sebagai saksi keburukannya, dan mengabdikan masa mudanya untuk apa yang membuat Allah ridha, serta bermanfaat bagi manusia, sebelum tiba saatnya penyesalan sudah tidak ada gunanya lagi.
Kami memohon kepada Allah SWT agar membangkitkan hati dari kelalaian, menjadikan kami termasuk golongan para pejuang yang jujur dalam membela agama-Nya, serta menganugerahkan kepada kami ketulusan dan keteguhan hati. [] Mu’nis Hamid – Wilayah Irak
Sumber: hizb-ut-tahrir.info, 15/5/2026.
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat