Punya Minyak Berkualitas, Indonesia Tetap Impor BBM, Ini Penjelasannya
MediaUmat – Pengamat Ekonomi dan Politik Indra Fajar Alamsyah, Ph.D. menilai Indonesia belum mampu mengolah minyak mentah secara optimal akibat keterbatasan teknologi dan rendahnya kapasitas kilang (NCI), sehingga masih bergantung pada impor BBM meski memiliki cadangan minyak berkualitas.
“Crude oil (minyak mentah) kita itu bagus, laku di pasaran, tapi kilang kita tidak bisa memproses sampai bensin siap pakai,” ujarnya dalam special interview Harga BBM Naik, Akibat Konflik Selat Hormuz? di laman YouTube Rayah TV, Ahad (26/4/2026).
Ia menjelaskan, rendahnya kapasitas kilang bukan disebabkan kualitas minyak, melainkan keterbatasan teknologi pengolahan yang belum mampu mencapai standar kompleksitas tinggi.
Kondisi ini, menurutnya, menyebabkan Indonesia belum dapat memaksimalkan nilai tambah dari sumber daya energi yang dimiliki.
“Singapura itu kan pelanggan tetap minyak mentah kita, Jadi Singapura beli minyak mentah dengan harga murah, kemudian mereka proses dan pasang harga mahal, dijual lagi ke Indonesia” ujarnya.
Menanggapi kondisi tersebut, Indra mengungkapkan, upaya peningkatan kapasitas kilang terkendala faktor waktu dan politik anggaran.
“Perbaikan kilang itu efeknya baru terasa sekitar 10 tahun, sementara siklus kekuasaan politik kita juga berakhir di 10 tahun, sehingga pemerintah cenderung memilih kebijakan jangka pendek yang langsung terlihat,” katanya.
Selain itu, prioritas anggaran yang lebih difokuskan pada program populis dinilai menghambat investasi jangka panjang di sektor energi, termasuk pengembangan teknologi eksplorasi dan pengolahan minyak.
“Prioritas anggaran Indonesia triliunan kan untuk makan siang, buat MBG, kalau yang lain itu untuk eksplorasi” imbuhnya.
Lebih lanjut, ia menyoroti bahwa keterbatasan teknologi membuat potensi cadangan minyak, khususnya di wilayah Indonesia timur, belum tergarap optimal.
“Kita belum sampai pada tahap eksplorasi presisi, sementara negara lain sudah bisa memprediksi cadangan dengan teknologi kuantum,” ujarnya.
Kondisi tersebut, menurutnya, memperkuat ketergantungan Indonesia terhadap impor energi, yang pada akhirnya membuat harga BBM dalam negeri rentan terhadap gejolak geopolitik global, termasuk konflik di kawasan strategis seperti Selat Hormuz.[] Ikbal
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat