UIY: Ketangguhan Negara Berakar pada Ideologi dan Kemandirian
MediaUmat – Cendekiawan Muslim Ustadz Muhammad Ismail Yusanto (UIY) menegaskan, ketangguhan sebuah negara dalam menghadapi tekanan global sangat bergantung pada basis ideologi yang kuat. Hal itu ia sampaikan saat membedah konsep kemandirian Iran dalam program Fokus: Membangun Kemandirian Negara, Belajar dari Iran, Bagaimana Indonesia? pada Ahad (19/4/2026) di kanal YouTube UIY Official.
UIY menilai keberhasilan Iran bertahan dari embargo selama 46 tahun bukan sekadar persoalan teknis ekonomi. Hal itu adalah buah keberanian mengubah hambatan menjadi peluang melalui prinsip ketahanan diri (self-reliance).
“Apa yang kita bisa lihat pada Iran itu adalah basis ideologi yang sangat kuat yang membuat akhirnya kohesi sosial itu juga luar biasa,” ujarnya.
Empat Resep Kemandirian
Lebih lanjut UIY memaparkan empat faktor utama yang membuat Iran mampu menunjukkan eksistensinya di kancah internasional. Pertama, kemampuan adaptasi. Tekanan eksternal memaksa Iran melakukan adaptasi cepat dengan mengurangi ketergantungan impor pada sektor pangan, energi, dan teknologi.
Ia menyebut Iran berhasil memanfaatkan diplomasi regional dan kerja sama strategis untuk mengurangi dampak isolasi.
Kedua, prioritas pada sektor strategis. Iran fokus menyisihkan anggaran untuk pertahanan dan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan dan teknologi. Ketiga, kepemimpinan yang terpusat dan kehadiran negara yang kuat. Keempat, ideologi sebagai perekat sosial dan politik.
“Ideologi Islam menjadi ruh yang memberikan arah ke mana negara melangkah dan alasan kuat bagi rakyat untuk bertahan,” urai UIY.
Bahkan, ia mengibaratkan embargo bagi Iran layaknya “anjing galak” yang memaksa mereka meloncat lebih tinggi. “Pilihannya hanya mati atau berjuang, dan mereka memilih berjuang,” tegasnya.
Kritik Kondisi Nasional
Membandingkan dengan kondisi dalam negeri, UIY menyoroti lemahnya aspek strong why atau alasan kuat Indonesia dalam bernegara.
Ia menilai Indonesia saat ini masih berada di “persimpangan jalan” yang tertutup kabut karena tidak adanya basis ideologi yang tegas dalam kebijakan.
“Masalah di negeri kita adalah visi politik yang tidak jelas. Di saat Iran sudah selesai dengan perdebatan ideologis dan melesat dengan teknologi supersonik, kita masih bergelut dengan cara pandang sekuler terhadap agama,” ungkapnya.
UIY juga mengkritik ketimpangan prioritas anggaran. Ia mencontohkan sektor-sektor konsumtif atau seremonial yang sering kali lebih diutamakan daripada riset dan pengembangan teknologi strategis.
Kembali ke Islam
UIY menekankan pentingnya mengembalikan Islam pada fungsinya yang utuh sebagai jalan kemandirian.
Menurutnya, Islam menyediakan jawaban fundamental mengapa bangsa harus melakukan riset dan pengorbanan.
Ia berharap Indonesia mampu menangkap inspirasi dari ketangguhan Iran untuk keluar dari subordinasi kepentingan global dan membangun kedaulatan yang berbasis pada nilai-nilai Islam.
“Iran memberikan pelajaran tentang ketangguhan dan keteladanan pemimpin. Mereka meletakkan Islam pada titik sentral. Sementara kita, ekonominya kapitalis, budayanya hedonis, dan politiknya transaksional,” pungkasnya.[] Zainul Krian
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat