Ketika Rasulullah Berkeliling Mendatangi Berbagai Suku: Mencari Dukungan dan Membangun Negara

 Ketika Rasulullah Berkeliling Mendatangi Berbagai Suku: Mencari Dukungan dan Membangun Negara

Serial Ramadhan: Momen-Momen Gemilang dalam Sejarah Islam (Episode 6)

Upaya Nabi mencari dukungan (thalabun nushrah) bukanlah sekadar tindakan dakwah yang sesaat, melainkan usaha sadar untuk beralih dari keadaan lemah ke keadaan berdaya melalui pencarian sistematis akan entitas yang akan melindungi dan memungkinkan penyebaran Islam. Setelah meninggalnya Abu Thalib dan Khadijah radhiyallahu ‘anha, penganiayaan dari Quraisy semakin intensif, dan Makkah menjadi terlalu membatasi bagi gerakan Islam yang baru lahir. Komunikasi saja tidak lagi cukup; menegakkan Islam dalam kehidupan masyarakat membutuhkan kekuatan untuk melindunginya dan otoritas untuk mendukungnya. Pada titik inilah dimulai tindakan politik yang disadari, yang dikenal dalam kitab-kitab sīrah sebagai “mencari dukungan (thalabun nushrah)”.

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam pergi ke Tha’if untuk meminta bantuan dari suku Tsaqif. Di sini Beliau tidak meminta harta benda atau status, melainkan meminta agar mereka melindunginya sebagaimana mereka melindungi diri mereka sendiri, istri-istri mereka, dan anak-anak mereka, sehingga beliau dapat menyampaikan risalah Tuhannya. Namun, mereka menanggapi dengan kasar dan menghasut kaum laki-laki mereka yang bodoh untuk melawannya. Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam kembali ke Makkah, tetapi misinya tidak berakhir di situ. Selama musim haji, beliau mulai menampakkan diri kepada suku-suku Arab, mengunjungi rumah dan tenda mereka, mengajak mereka masuk Islam, dan meminta dukungan serta perlindungan mereka.

Catatan sīrah menyebutkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam mendatangi lebih dari dua puluh suku, termasuk: Banu Amir ibn Sha’sha’ah, Banu Syaiban, Banu Bakar bin Wa’il, Kindah, Banu Hanifah, Banu Murrah, Banu ‘Abs, dan lainnya. Kedatangan beliau kepada mereka bukan sekadar ajakan spiritual, tetapi tawaran yang jelas dan spesifik: beriman kepada Allah semata, meninggalkan penyembahan berhala, dan jaminan perlindungan kepada beliau shallallahu alaihi wa sallam untuk menyampaikan risalah dan menyebarkan Islam.

Salah satu momen paling terkenal adalah apa yang terjadi dengan Bani Amir bin Sha’sha’ah. Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam duduk bersama mereka dan menyeru mereka kepada Allah ‘Azza wa Jalla, serta meminta dukungan mereka. Seorang pria di antara mereka, bernama Buhairah bin Firas, mengajukan pertanyaan langsung kepada beliau: “Bagaimana jika kami berbaiat kepada Anda dalam perkara Anda, dan kemudian Allah menjadikan Anda pemenang atas orang-orang yang menentang Anda, akankah perkara itu menjadi milik kami setelah Anda?” Pertanyaan tentang suksesi setelah Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bukanlah pertanyaan yang tidak adil, karena konsekuensi dari jalan tersebut sangat besar. Jawaban Nabi sangat tegas: “Masalah ini berada di tangan Allah; Dia memberikannya ke siapa yang Dia kehendaki.” Ketika mereka menyadari bahwa mendukung Nabi bukanlah jalan untuk mewarisi kekuasaan, maka mereka menolaknya. Mereka menginginkan kesepakatan politik, sementara Nabi shallallahu alaihi wa sallam hanya meminta dukungan murni untuk agama, tanpa motif tersembunyi.

Pada momen yang lain, Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam menemui Bani Syaiban bin Tsa’labah, di antaranya Al-Mutsanna bin Haritsah dan Hani’ bin Qubaishah. Mereka terkesan dengan kata-kata beliau dan mengatakan bahwa mereka adalah kaum yang kuat dan berpengaruh, tetapi mereka terikat oleh perjanjian dengan Kisra (kaisar Persia) dan tidak ingin melanggarnya. Mereka menyarankan bahwa mereka akan mendukung beliau dari arah Semenanjung Arab tanpa terlibat dalam konfrontasi langsung dengan Persia. Maka Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam menjelaskan kepada mereka bahwa agama ini tidak dapat dipisahkan, bahwa dukungan yang dibutuhkan bersifat menyeluruh dan bukan sebagian, dan siapa pun yang mendukungnya harus menanggung semua konsekuensi dari konfrontasi. Kemudian mereka menolak dengan sopan, dan dukungan itu pun tidak didapatkan.

Demikian pula, Bani Hanifa sangat menentang, sampai-sampai beberapa penulis sīrah menggambarkan mereka sebagai salah satu suku yang paling keras menolak Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Meskipun demikian, beliau melanjutkan aktivitas mendatangi dan mengajak tahun demi tahun, tanpa putus asa atau berkompromi tenhadap inti proyek yang sedang diperjuangkan.

Kemudian tibalah momen Aqabah. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bertemu dengan sekelompok kaum Khazraj, mereka mendengarkan dan beriman. Kemudian mereka kembali pada tahun berikutnya dengan membawa yang lain, hingga momen Baiah Aqabah Kedua terlaksana, di mana kaum Anshar berjanji untuk mendengarkan dan menaati, serta melindungi beliau sebagaimana mereka melindungi diri mereka sendiri, istri-istri mereka dan anak-anak mereka. Di sinilah kemenangan yang telah diidamkan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam selama bertahun-tahun tercapai. Mereka tidak menanyakan tentang siapa yang akan berkuasa setelahnya, dan mereka juga tidak menetapkan batasan geografis untuk dukungannya, melainkan mereka membaiatnya untuk melindungi dakwah sepenuhnya dan siap menanggung konsekuensi konflik dengan bangsa Arab dan non-Arab.

Di sinilah serangkaian pelajaran politik yang mendalam terungkap: Pertama, membangun agama dalam masyarakat membutuhkan kekuatan untuk melindunginya, dan kepuasan pemikiran semata tidak cukup jika tanpa kekuasaan. Kedua, dukungan bukanlah aliansi kepentingan, melainkan komitmen ideologis yang komprehensif. Ketiga, perjuangan untuk mendirikan negara melalui tahapan yang jelas dan berbeda: dakwah pemikiran, kemudian interaksi dengan masyarakat, berjalan seiring dengan percarian dukungan (thalabun nushrah) dari mereka yang memiliki kekuasaan dan pengaruh, yang semuanya berpuncak pada pembentukan entitas nyata di Madinah.

Ketika hal ini diterapkan pada kenyataan saat ini, kita menemukan bahwa banyak gerakan atau proyek reformasi yang gagal karena mereka membatasi diri pada dakwah tanpa berupaya untuk membangun kehadiran entitas yang akan melindungi ide-ide mereka, atau mereka terlibat dalam kesepakatan yang mengeluarkan proyek mereka dari substansinya. Lebih jauh lagi, beberapa kekuatan memperlakukan agama sebagai alat untuk mendapatkan kekuasaan, bukan sebagai sistem lengkap yang harus diimplementasikan, dan mereka meminta—seperti yang dilakukan Banu Amir bin Sha’sha’ah—bagian kekuasaan mereka sebelum membuktikan ketulusan mereka dalam mendukungnya.

Upaya Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dalam mencari dukungan (thalabun nushrah) bukanlah luapan emosi, melainkan sebuah kewajiban dan tindakan politik yang disadari serta dipandu oleh wahyu ilahi, menyeimbangkan keteguhan pada ideologi dengan fleksibilitas dalam cara, tanpa mengkompromikan esensi proyek tersebut. Beliau berkeliling di antara suku-suku selama bertahun-tahun, menghadapi penolakan demi penolakan, namun beliau tidak pernah melunakkan visi dakwahnya, dan beliau juga tidak menerima dukungan bersyarat yang akan menghilangkan kesempurnaan ajaran Islam.

Dengan demikian, memahami tahapan ini mengubah pandangan kita tentang isu perubahan: dakwah membutuhkan inkubator untuk melindunginya, proyek membutuhkan kekuatan untuk mendukungnya, dan dukungan bukanlah slogan tetapi komitmen untuk menanggung konsekuensi pihak yang menawarkannya. Siapa pun yang merenungi kunjungan Nabi shallallahu alaihi wa sallam ke rumah-rumah Arab akan menyadari bahwa pembangunan negara bukanlah hasil dari suatu momen sesaat, melainkan buah dari kesabaran yang panjang, kejelasan visi, dan keteguhan terhadap ideologi hingga tercipta lingkungan yang tulus, yang berkata: “Untuk apa kami harus berbaiat kepada Anda?” Ketika mereka mengetahui harganya, mereka berkata: “Transaksi ini sungguh menguntungkan, tentu kami tidak akan menolak atau mengundurkan diri.” []

Kantor Media Hizbut Tahrir

Di Wilayah Mesir

Sumber: hizb-ut-tahrir.info, 26/2/2026.

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini:

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *