Pembicaraan Iran-Amerika Dimulai untuk Kesepakatan Nuklir (-5+1)
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan di platform X, pada 3 Februari 2026, “Dengan mempertimbangkan tuntutan negara-negara sahabat di kawasan untuk menanggapi usulan Presiden Amerika untuk melakukan pembicaraan, saya telah menginstruksikan Menteri Luar Negeri untuk menciptakan kondisi bagi negosiasi yang adil dan setara, dengan syarat terciptanya lingkungan yang sesuai dan bebas ancaman, serta mengesampingkan aspirasi ilegal dan irasional.”
Sementara Trump mengatakan kepada wartawan di Gedung Putih bahwa “Amerika sedang bernegosiasi dengan Iran sekarang.”
Pada tanggal 2 Februari 2026, situs berita Amerika “Axios” melaporkan bahwa “Utusan khusus Trump untuk Timur Tengah, Steve Wittkopf, akan bertemu dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi di Istanbul pada hari Jumat, 6 Februari 2026, untuk membahas kemungkinan tercapainya kesepakatan nuklir.” Namun, pada tanggal 4 Februari 2026, situs web yang sama mengutip sumber Arab yang mengatakan bahwa “AS telah menyetujui permintaan Iran untuk memindahkan pembicaraan dari Istanbul ke Oman.”
Pada tanggal 3 Februari 2026, Ali Syamkhani, penasihat Pemimpin Tertinggi Iran, menyatakan dalam pernyataan yang disiarkan televisi bahwa “Jumlah uranium yang diperkaya masih belum diketahui. Persediaan tersebut terkubur di bawah reruntuhan, dan belum ada inisiatif untuk mengekstraknya karena dampak bahayanya.” Pernyataannya menyiratkan bahwa Iran siap untuk melepaskan persediaan uraniumnya, tetapi karena terkubur di bawah reruntuhan, Amerika Serikat meminta agar uranium tersebut diekstraksinya.
Amerika Serikat mengecualikan trio Eropa (Inggris, Prancis, dan Jerman), yang merupakan pihak dalam perjanjian nuklir 2015, serta Rusia dan China, dari negosiasi dengan Iran. Ini adalah strategi yang disengaja yang digunakan oleh AS ketika menarik diri dari perjanjian tersebut pada tahun 2018, dengan tujuan untuk menegosiasikan perjanjian baru dengan Iran secara sepihak. Perjanjian baru ini, yang sebelumnya disebut sebagai Perjanjian (5+1), kemudian berganti nama menjadi Perjanjian (-5+1).
Oleh karena itu, Amerika menciptakan keadaan perang dengan Iran dan menyatakan akan menyerangnya jika Iran tidak menandatangani perjanjian, sehingga Amerika memiliki pembenaran, monopoli perjanjian dan menyeret kelima negara itu ke dalam drama internasional yang besar, serta mencegah negara-negara tersebut terus mendapatkan manfaat dari perjanjian ini, juga menjadi pembenaran bagi para penguasa Iran untuk memberikan konsesi kepada Amerika, yang selalu mereka berikan kepadanya, di Afghanistan, Irak, Suriah, Yaman, dan Lebanon sebagai imbalan atas tercapainya beberapa kepentingan mereka di negeri-negeri ini (hizb-ut-tahrir.info, 5/2/2026).
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat