Yanwar Rizky Sebut Indikator Ekonomi Indonesia Sedang Tertekan

MediaUmat Pengamat Ekonomi Yanwar Rizky menyatakan sejumlah indikator yang menunjukkan ekonomi Indonesia saat ini sedang tertekan.

“Sejumlah indikator menunjukkan ekonomi Indonesia sedang tertekan, mulai dari penurunan penerimaan negara hingga naiknya beban utang, yang membuat lembaga global menilai kondisi fiskal tidak dalam keadaan baik,” ujarnya dalam siniar Ekonomi 2026 Makin Lesu, Indonesia Potensi Bakal Jatuh ke Jurang Krisis Lebih Parah dari 98? di kanal YouTube Hendri Satrio Official dan Rujak Politik Channel, Jumat (5/12/2025).

Menurut Yanwar, situasi itu menjadi alasan lembaga rating dan investor internasional melakukan rebalancing dan menempatkan Indonesia dalam posisi short, yakni memprediksi pasar berada dalam tren pelemahan. Sinyal tekanan pertama terlihat pada Maret 2025 ketika JP Morgan menilai Indonesia mengalami pelemahan fiskal akibat merosotnya penerimaan pajak dan cukai. Pada saat yang sama, jadwal pembayaran utang meningkat sehingga belanja rutin pemerintah ikut naik.

“Dalam posisi pendapatan turun dan belanja naik, fiskal kita jelas tertekan. Ini yang membuat investor global membaca risiko Indonesia meningkat,” katanya.

MSCI kemudian mengambil langkah serupa dengan melakukan rebalancing terhadap indeks Indonesia dan menempatkan posisinya menjadi short. Yanwar menilai, keputusan itu turut dipengaruhi persepsi pasar terkait keterlambatan pengumuman APBN pada Maret lalu, yang dinilai sebagai sinyal kepanikan pemerintah.

Selain itu, Yanwar menyoroti kritik MSCI mengenai kondisi free float pasar saham Indonesia yang dianggap tidak sehat karena terlalu banyak saham dikuasai pemodal besar atau bandar. Ia menilai kasus hilangnya sekitar Rp5 triliun kekayaan Prajogo Pangestu menggambarkan risiko dari struktur pasar dengan free float rendah.

Dari sisi fundamental, Yanwar menilai kenaikan IHSG belakangan ini tidak mencerminkan kondisi ekonomi riil. Neraca pembayaran tercatat masih negatif, sementara penyaluran kredit perbankan ke sektor wholesale dan retail menurun, menunjukkan melemahnya daya beli masyarakat.

“Kita lihat NPL kartu kredit naik, NPL KPR untuk masyarakat berpendapatan rendah juga naik. Ini tanda konsumsi melemah dan banyak rumah tangga mulai kesulitan,” jelasnya.

Ia menambahkan, penguatan IHSG lebih dipicu faktor spekulasi ketimbang perbaikan ekonomi. Beberapa saham disebut menguat karena rumor dan sentimen pasar, termasuk saham di sektor transportasi daring.

“Itu bukan karena perbaikan bisnis atau peningkatan kesejahteraan pekerja, termasuk di sektor transportasi daring,” pungkas Yanwar.[] Fatih Solahuddin

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini: