Oleh: Maman Abdullah
Apa yang menimpa Venezuela hari ini bukan sekadar konflik politik regional. Ia adalah bab lanjutan dari sejarah panjang penjajahan modern yang terus berulang dengan wajah berbeda. Dari sudut pandang umat Islam, peristiwa ini harus dibaca secara ideologis, bukan sekadar politis. Sebab yang bekerja di baliknya bukan insiden, melainkan sistem.
Di bawah kepemimpinan Nicolás Maduro, Venezuela berada di bawah tekanan berat Amerika Serikat. Sanksi ekonomi, isolasi diplomatik, delegitimasi politik, hingga operasi militer—terbuka maupun terselubung—dilakukan dengan dalih demokrasi, hukum, dan keamanan global. Namun bagi rakyat Venezuela, yang nyata adalah penderitaan: ekonomi tercekik dan kedaulatan terancam. Yang perlu disadari umat adalah ini: Venezuela bukan yang pertama.
Panama: Narkoba sebagai Alasan Merampas Kedaulatan
Tahun 1989, Panama mengalami nasib serupa. Amerika Serikat melancarkan invasi militer bernama Operation Just Cause. Dalihnya adalah perang melawan narkoba dan penangkapan Presiden Panama saat itu, Manuel Noriega.
Hasilnya jelas: kedaulatan Panama dilanggar, ribuan warga sipil menjadi korban, dan Noriega diborgol lalu diadili dengan hukum Amerika. Terusan Panama—aset strategis dunia—tetap aman. Bagi umat Islam, ini menunjukkan bahwa dalih moral sering kali hanya topeng kepentingan.
Irak: Kebohongan Senjata Pemusnah Massal
Tahun 2003, Irak dihancurkan atas nama senjata pemusnah massal. Dunia diyakinkan bahwa Presiden Saddam Hussein adalah ancaman global. Faktanya, senjata itu tidak pernah ditemukan.
Namun perang telanjur terjadi. Negara runtuh, jutaan nyawa terdampak, konflik berkepanjangan lahir, dan sumber daya energi menjadi bagian dari kendali geopolitik. Ini bukti bahwa akal manusia tanpa wahyu mudah diperalat untuk melegitimasi kezaliman.
Libya: Intervensi Kemanusiaan yang Menghancurkan Negara
Tahun 2011, Libya diintervensi atas nama “perlindungan warga sipil”. Pemimpinnya, Muammar Gaddafi, tumbang. Namun yang menyusul adalah kehancuran negara. Hingga kini Libya belum pulih: milisi bersenjata, perdagangan manusia, dan instabilitas merajalela.
Sekali lagi, dalih kemanusiaan berakhir dengan negara gagal.
Pola yang Sama, Dalih yang Berganti
Panama dengan narkoba.
Irak dengan senjata pemusnah massal.
Libya dengan perlindungan warga sipil.
Venezuela dengan demokrasi dan keamanan.
Jika cara “damai” seperti sanksi, utang, dan pemaksaan aturan global tidak berhasil, maka kekuatan militer menjadi jalan. Inilah wajah kapitalisme global: eksploitatif, hierarkis, dan zalim. Bangsa lain dipandang bukan setara, tetapi objek kepentingan.
Islam sebagai Ideologi Alternatif yang Mensejahterakan
Islam hadir bukan hanya untuk mengkritik, tetapi memberi jalan keluar ideologis. Dalam Islam, bangsa-bangsa dipandang setara sebagai sesama manusia, bukan pasar, bukan pion geopolitik, dan bukan objek eksploitasi. Perbedaan bangsa adalah tanda kebesaran Allah untuk saling mengenal, bukan saling menaklukkan.
Islam menegaskan bahwa kekuasaan adalah amanah, bukan hak mutlak. Kekayaan alam adalah milik umat, wajib dikelola untuk kesejahteraan rakyatnya, bukan dirampas melalui sanksi atau invasi. Hubungan antarnegara harus dibangun di atas keadilan dan penghormatan kedaulatan, bukan dominasi.
Berbeda dengan kapitalisme yang membutuhkan penjajahan agar roda keuntungan berputar, Islam justru membatasi yang kuat dan melindungi yang lemah. Kesejahteraan tidak dibangun di atas penderitaan bangsa lain.
Venezuela hari ini—seperti Panama, Irak, dan Libya—adalah peringatan keras. Selama dunia tunduk pada ideologi kapitalisme, penjajahan akan terus berulang. Islam menawarkan tatanan alternatif: dunia yang adil, manusiawi, dan mensejahterakan—tanpa eksploitasi, tanpa standar ganda.[]