Umat Islam Mataraman: Hijrah Momentum Umat Tinggalkan Sistem Jahiliyah Menuju Sistem Khilafah

 Umat Islam Mataraman: Hijrah Momentum Umat Tinggalkan Sistem Jahiliyah Menuju Sistem Khilafah

Lebih dari 400 Umat Islam di wilayah ujung barat Jawa Timur atau yang lazim di sebut wilayah Mataraman berkumpul untuk menyambut pergantian tahun HIJRAH, dengan mengadakan acara Tabligh Akbar Menyambut Tahun Baru HIJRAH, pada hari Sabtu 29 Dzulhijah 1440 H atau bertepatan 31 Agustus 2019 M.

Pada kesempatan ini ilama,tokoh serta masyarakat dari berbagai kalangan, baik laki-laki atau perempuan hadir dengan semangat. Di antara yang hadir, nampak Ust.H. Soegito, KH Anas Kharim, Kyai Misno, Ust. Muhammad Amin, Kyai Baedhlowi, Ust Qutub, Ust Lani, Gus Munasir dan masih banyak lagi. Tabligh Akbar ini mengambil tema “HIJRAH DARI SISTEM JAHILIYAH MENUJU SISTEM ISLAM’.

Dalam sambutannya, Ust.H Soegito menyampaikan bahwa kondisi umat Islam saat ini sangat terpuruk. Di beberapa tempat di dunia Umat Islam di bantai, dijarah kekayaan alamnya dan dilecehkan bahkan dikriminalisasi ajarannya. Semua ini dikarenakan umat tidak mempunyai institusi pelindung sebagaimana khilafah di masa lalu. Karena itu beliau mengajak para hadirin bersama untuk HIJRAH dari sistem kufur menuju sistem Islam, yakni khilafah.

Pada kesempatan berikutnya Ust. Muhammad Amin menceritakan dahsyatnya HIJRAH nya Rassulullah SAW bersama Abu Bakar.

Rassulullah SAW sangat bersedih dikarenakan harus meninggalkan kampung halaman di mana semua kenangan bersama Bunda Khadijah dalam menghadapi berbagai tantangan dakwah terjadi.

Demikian pula besarnya pengorbanan para sahabat. Diawali dari Syaidina Ali yang menggantikan Rasulullah di tempat tidur beliau dengan taruhan nyawa.

Tidak kalah dengan itu adalah Sayaidina Abu Bakar. Beliau yang menemani Rasulullah hijrah. Sebelum memasuki Gua Taur untuk bersembunyi, beliau memeriksa untuk memastikan keamanan gua tsur sebelum dimasuki Rasulullah. Beliau tidak peduli dengan keselamatannya, asal Rasulullah tidak celaka.

Demikian pula pengorbanan Asma, anak perempuan Abu Bakar yang sedang hamil tua. Dia rela naik-turun bukit batu dimana Gua Taur berada guna mengirim makanan selama Rasulullah dan ayahnya tinggal di dalamnya.

Pemateri berikutnya Gus Munasir seorang ulama dari ponorogo ini menyampaikan mengapa Sayyidina Umar bin al-Khatthab menjadikan momentum Hijrah sebagai tahun baru Islam. Karena, momentum Hijrah adalah momentum yang sangat penting. Allah SWT mengizinkan Nabi Muhammad hijrah ke Madinah al-Munawwarah untuk memulai era baru dalam sejarah Islam.

Hijrah Nabi bukan karena melarikan diri, atau menyelamatkan diri sendiri. Nabi tidak hijrah ke Habasyah, dimana beliau bisa bebas menjalankan peribadatan tanpa gangguan.

Selain dahsyatnya kecintaan Abu Bakar kepada Rasulullah pada kisah Gua Tsur, hijrah adalah tonggak kelahiran negara baru. Negara yang oleh Allah disebut sebagi sultonan nashiro, kekuasaan yg dengannya semua konsep syariah dapat terwujud. Yang dengannya kerohnatan dapat dirasakan seluruh alam. Yang dengannya kedzaliman dapat dihilangkan. Yang dengannya peradaban mulia dapat dihasilkan.

Sebagai penutup Kyai Baedhowi mengajak para hadirin khususnya dan Umat Islam pada umumnya, bersama memperjuangkan peradaban mulia sebagaimana menjadi makna hijrah. Berjuang bersama mengembalikan khilafah, negara yang dulunya diwarisi oleh para Khulafaur Rasyidin. Negara yang dimulai dari peristiwa hijrah.
Dengan inilah maka makna hijrah akan dapat kita napaktilasi kembali.

Acara di tutup dengan pembacaan doa dan dilanjutkan dengan foto bersama. Tepat pukul 11.00 peserta Tabligh Akbar membubarkan diri dengan tertib.[]

Share artikel ini:

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *