UIY: Sudan Dipecah Belah Asing
MediaUmat – Merespons konflik bersenjata di Sudan yang telah menimbulkan krisis kemanusiaan yang kian mendalam, dengan korban jiwa diperkirakan mencapai 150.000 orang serta ancaman kelaparan massal yang terus menghantui, Cendekiawan Muslim Ustadz Muhammad Ismail Yusanto (UIY) menegaskan adanya skenario besar yang digerakkan kekuatan asing untuk memecah-belah Sudan, melemahkan kedaulatannya, dan menguasai sumber daya alam strategis negeri tersebut.
“Ini tidak bisa dilepaskan dari tangan-tangan asing yang ingin memang memisah-membelah Sudan itu,” tegas UIY dalam siniar Konflik Sudan, Siapa Bermain Api? di kanal YouTube UIY Official, Kamis (15/11/2025).
Menurut UIY, pemisahan Sudan Selatan membuat Sudan kehilangan wilayah yang menyimpan mayoritas cadangan minyaknya. “75% cadangan minyak itu ada di selatan, sementara seluruh infrastruktur produksi termasuk distribusi di utara,” jelas UIY.
Ia menekankan, kondisi ini terjadi bukan karena dinamika internal semata, melainkan terkait upaya yang sejak awal mengarah pada pelemahan Sudan.
UIY menambahkan, keterpisahan antara sumber minyak dan infrastruktur pengolahannya itu membuat produksi minyak Sudan menurun drastis.
Ia menyebut angka penurunan itu sebagai bukti nyata dari dampak langsung pemisahan tersebut. “Setelah pemisahan kemudian mengalami penurunan luar biasa… [yang biasanya bisa 500.000 barel per hari] sekarang hanya tinggal 60–50 ribu barel saja,” ungkapnya.
UIY menjelaskan, konflik antara militer Sudan (SAF) dan paramiliter (RSF) turut diperkuat oleh dukungan dari luar negeri.
Ia menunjukkan bahwa akses RSF terhadap tambang emas serta hubungan eksternal yang dimilikinya menjadi faktor penting dalam memperbesar kekuatan kelompok itu. “Pemimpin RSF itu ada di UEA dan mendapatkan pasokan senjata dari sana… karena emasnya sebagian besar diekspor ke sana,” paparnya.
UIY juga menilai, munculnya dua kekuatan bersenjata besar tersebut menunjukkan betapa terbelahnya struktur kekuatan di Sudan.
Ia menyebut pemisahan otoritas ini sebagai bagian dari realitas yang memperkeruh konflik. “Akibatnya kemudian muncullah dua kekuatan ini antara RSF dengan SAF,” ujarnya.
UIY mengungkap, terhentinya suplai logistik ke Al-Fasher selama setahun menjadi faktor penting yang membuat kota tersebut jatuh ke tangan RSF. Ia menilai kondisi itu mencerminkan adanya keputusan yang tidak wajar dalam penanganan wilayah strategis tersebut.
“Kenapa kemudian Al-Fasher ini dilepas… dan tidak disuplai selama setahun?… tampaknya ini semacam menjadi jalan kompromi,” ujar UIY.
Menurut UIY, situasi itu berkaitan dengan pertemuan sejumlah negara yang memiliki pengaruh terhadap arah politik Sudan.
Ia menyebut, hasil pertemuan tersebut membuka kemungkinan adanya pembagian wilayah antara RSF dan SAF. “RSF nanti mungkin dapat daerah Darfur, kemudian SAF sisanya… Nah, ini akan membelah lagi,” jelasnya.
UIY menegaskan, persoalan yang menimpa Sudan berakar pada tidak adanya pelindung yang menjaga umat dan wilayah mereka. Ketiadaan pelindung itu membuat negeri-negeri Islam mudah terpecah dan dimanfaatkan kekuatan asing.
“Jika pun ada rumah sudah enggak ada tuannya… enggak ada pelindung, enggak ada junnah… yang melindungi wilayah, melindungi warganya, umat, melindungi kekayaannya,” tegasnya.
UIY menambahkan, ambisi sebagian elite lokal semakin memperburuk keadaan.
Ia menunjukkan bagaimana dorongan untuk merebut kekuasaan membuka celah bagi intervensi asing.
“Di dalam tubuh umat Islam itu ada juga orang-orang yang punya nafsu untuk berkuasa… ketika tidak ada junnah lalu ada intervensi asing, jadilah,” jelasnya.
UIY mengingatkan, tindakan memecah-belah wilayah umat merupakan perbuatan yang dilarang syariat, terlebih bila dilakukan berlapis-lapis di atas perpecahan yang sudah ada.
“Pecah belah itu sudah haram. Apalagi pecah belah di atas pecah belah itu lebih haram lagi,” pungkasnya.[] Zainard
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat