UIY: Spirit Jihad fi Sabilillah Para Pahlawan, Sejarahnya Dikubur

Peringatan Hari Pahlawan mendapat sorotan tajam dari Cendekiawan Muslim Ustadz Muhammad Ismail Yusanto (UIY) yang menegaskan spirit jihad fi sabilillah para pahlawan kemerdekaan melawan penjajah sejarahnya sengaja dilupakan dan digantikan narasi nasionalisme sekuler.

“Bangsa ini merdeka karena perjuangan gigih para pahlawan. Dan mestinya kita jujur mengatakan bahwa perjuangan itu lahir dari rahim spirit jihad fisabilillah,” tegasnya dalam siniar Ketika Jihad Dihapus dari Sejarah yang ditayangkan di kanal YouTube UIY Official, Kamis (13/11/2025).

Pejuang besar seperti Sultan Agung, Sultan Hasanuddin, Tuanku Imam Bonjol, Laksamana Malahayati, Cut Nyak Dien, Teuku Nyak Arief, Teuku Cik Ditiro, dan Teuku Umar bukan hanya memperjuangkan tanah air, tetapi mengusung semangat dakwah untuk menegakkan panji Islam di seluruh Nusantara.

“Sultan Agung di Jawa berjuang mempersatukan negeri di bawah panji Islam. Sultan Hasanuddin di Sulawesi menolak tunduk pada penjajah. Begitu pun Tuanku Imam Bonjol di Sumatera Barat melawan Belanda dengan semangat dakwah yang menggelora,” jelas UIY.

Pangeran Diponegoro bangkit sebagai respons atas kezaliman penjajah dan pelecehan kehormatan rakyat, bukan karena sengketa tanah pekuburan seperti yang selama ini diajarkan. “Maka ia memimpin perang jihad bersama para ulama. Bahkan ada tercatat 15 syekh yang ikut berjuang di barisannya,” ungkap UIY.

Keyakinan para pejuang ini juga didasari sabda Nabi Muhammad ﷺ: “Man qutila duna malihi, man qutila duna ahlihi, man qutila duna dinihi fahuwa syahid,” yang menegaskan siapa pun yang terbunuh membela harta, keluarga, atau agamanya adalah syahid.

Namun, setelah kemerdekaan, spirit jihad dan keimanan mulai dipinggirkan. “Ada kesan kuat bahwa spirit Islam hendak dihapus, peran umat digeser, dan narasi perjuangan disederhanakan menjadi nasionalisme dalam arti sempit,” tegas UIY.

Hari Kebangkitan Nasional pun diperingati berdasarkan berdirinya Budi Utomo, padahal tiga tahun sebelumnya sudah ada Syarikat Dagang Islam yang kemudian menjadi Sarekat Islam, organisasi nasional yang menyatukan jutaan umat dari berbagai wilayah.

“Padahal tiga tahun sebelumnya sudah lahir Syarikat Dagang Islam yang kemudian menjadi Sarekat Islam. Organisasi ini betul-betul nasional, mempersatukan jutaan umat dari berbagai wilayah,” jelas UIY.

Kini, ironisnya, umat Islam yang membicarakan syariah dan jihad malah dicap radikal. “Padahal tanpa syariah dan jihad bangsa ini takkan pernah lahir,” tegas UIY.

“Kita bangga dengan kemerdekaan tapi lupa pada roh yang melahirkannya. Jika iman dahulu bisa melahirkan kemerdekaan, mengapa hari ini iman, Islam, syariah, dan jihad justru dianggap ancaman?” tutup UIY dengan pertanyaan menggugah.[] Zainard

 

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini: