UIY: Menggantungkan Keadilan pada Hukum Internasional Hanyalah Ilusi

MediaUmat Harapan dunia agar hukum internasional menindak tegas arogansi brutal Amerika Serikat atas penculikan Presiden Venezuela dinilai Cendekiawan Muslim Ustadz Muhammad Ismail Yusanto (UIY) sebagai upaya sia-sia.

“Selama dunia masih menggantungkan keadilan pada hukum internasional yang dikendalikan negara imperialis, pelanggaran seperti ini akan terus berulang,” ujar UIY dalam program Focus to the Point bertema Arogansi AS dan Sikap Dunia Islam yang ditayangkan kanal YouTube UIY Official, Rabu (21/1/2026).

Sebab, sebut UIY, hukum internasional tidak pernah benar-benar berdiri netral, melainkan dikendalikan negara-negara imperialis dan digunakan sebagai alat pembenaran kepentingan mereka.

Amerika Serikat, jelas UIY, selalu berupaya membungkus tindakan agresifnya dengan narasi legal formal agar tampak sah di hadapan dunia internasional, meskipun secara substansi jelas melanggar kedaulatan negara lain.

“Amerika selalu mencoba menampakkan diri di hadapan dunia internasional bahwa tindakan-tindakan yang mereka lakukan itu legal secara hukum,” katanya.

Ia menilai, pola tersebut telah berulang dalam berbagai kasus, mulai dari invasi ke Irak hingga penculikan Presiden Venezuela, dengan dalih penegakan hukum yang pada akhirnya terbukti manipulatif.

“Dulu invasi ke Irak juga dibungkus dengan alasan hukum—senjata pemusnah massal—tapi faktanya tidak pernah ditemukan,” tegas UIY.

Kondisi ini, lanjutnya, menunjukkan hukum internasional hanya diberlakukan kepada negara-negara lemah, sementara negara kuat kebal dari segala tuntutan dan pertanggungjawaban.

“Kalau pola yang sama diterapkan kepada Amerika, misalnya presidennya ditangkap oleh negara lain dengan tuduhan kriminal, mereka pasti tidak mau,” ujarnya.

Dalam tatanan global seperti itu, jelas UIY, hukum tidak lagi menjadi penentu keadilan, melainkan kekuatan. Realitas politik dunia hari ini sepenuhnya berjalan di atas prinsip might is right, mana yang berkuasa menentukan benar dan salah.

“Yang kuat itulah yang benar. Yang kuat itu boleh mengatakan apa pun,” kata UIY.

Karena itu, berharap keadilan lahir dari sistem hukum internasional yang dikendalikan negara-negara imperialis dinilai sebagai kesalahan fatal dalam membaca realitas geopolitik global.

“Mengandalkan integritas negara barbar seperti itu seperti pungguk merindukan bulan. Tidak akan pernah ada,” pungkasnya.[] Zainard

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini: