UIY: Kebahagiaan Terdalam Hadir Saat Kita Memberi
MediaUmat – Cendekiawan Muslim Ustadz Muhammad Ismail Yusanto (UIY) mengungkapkan, terdapat sumber kebahagiaan yang lebih dalam daripada sekadar mendapatkan harta benda, jabatan ataupun ketenaran, yaitu berbagi atau memberi kepada orang lain.
“Ada sumber bahagia yang justru sebenarnya akan memberikan kebahagiaan lebih dalam yaitu giving, memberi,” ujarnya dalam video pendek di kanal YouTube UIY Official, Jumat (5/12/2025).
Bukan tanpa dasar, UIY menyandarkan perkara ini kepada hadits Nabi SAW yang mengajarkan tentang keutamaan tangan di atas (memberi) dari pada di bawah (menerima).
“Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah,” demikian bunyi penggalan hadits muttafaq ‘alaih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim.
Memang, kata UIY lebih lanjut, saat memberi, seketika pemberian dimaksud mengurangi sebagian dari apa yang dimiliki. Namun sebagaimana termaktub di dalam QS Ali Imran: 92, seorang mukmin tidak bakalan sampai kepada derajat kebajikan sempurna sebelum menafkahkan sebagian harta yang dicintai.
“Artinya, kebajikan dan kebahagiaan datang saat kita berani memberi, bahkan dari hal yang paling kita cintai,” kata UIY memaknai kebajikan yang erat kaitannya dengan kebahagiaan karena notabene jalan atau praktik untuk mencapai kebahagiaan itu sendiri.
Persoalan Serius
Sebab, menurut UIY, akan menjadi persoalan serius ketika seseorang memperturutkan naluri kepemilikannya dalam menggapai apa yang dianggap sebagai sumber kebahagiaan dimaksud.
Bakal bertambah celaka, imbuhnya, ketika naluri getting ini mengarah pada obsesi terhadap kepemilikan, yang muncul justru perilaku tidak etis, ketidakpuasan, dan bahkan konflik sosial.
Dengan kata lain, jika tidak dikendalikan, getting yang juga bisa dimaknai sebagai nafsu untuk menguasai/memiliki, akan berpotensi menjadikan seseorang lupa batasan hingga memunculkan sifat tamak bahkan keinginan untuk menimbun harta benda atau kekuasaan yang cenderung bersifat negatif.
“Maka tak sedikit orang untuk mendapatkan lebih banyak dia melakukan taking, (mengambil dengan cara) menipu, korupsi, merampok, dsb.,” tandasnya.
Level Syukur Tertinggi
Tak ayal, sebagai salah satu bukti pengakuan bahwa segala sesuatu adalah titipan-Nya, aktivitas memberi atau bersedekah bisa disebut sebagai bentuk rasa syukur tertinggi kepada Allah SWT.
“Memberi adalah bentuk tinggi dari rasa syukur kita kepada Allah SWT,” lugasnya, yang berarti pula kebahagiaan bukan tentang seberapa banyak yang didapatkan (getting) tetapi seberapa besar ekspresi rasa terima kasih paling nyata dan berdampak yang diimplementasikan dengan cara berbagi (giving) kepada orang lain.
Dengan demikian, harta benda, jabatan, maupun pangkat memang bisa menjadi bagian dari kehidupan yang memuaskan, tetapi mereka hanyalah alat, bukan tujuan akhir kebahagiaan sejati.
Terlebih jika dilakukan hanya karena mengharap ridha Allah SWT. “Saat memberi dilakukan karena Allah, di situlah kebahagiaan sejati mulai tumbuh,” pungkasnya.[] Zainul Krian
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat