UIY: Islam Tak Menundukkan Seperti AS, tapi Membebaskan

 UIY: Islam Tak Menundukkan Seperti AS, tapi Membebaskan

MediaUmat Bukan penundukan ala Amerika Serikat, Islam ketika berkuasa bakal menawarkan kerangka kerja yang lebih holistik dan otentik untuk pembebasan manusia. Hal ini dipaparkan Cendekiawan Muslim Ustadz Muhammad Ismail Yusanto (UIY) dalam Fokus: Maduro Ditangkap, Hanya Soal Narkoba? di kanal YouTube UIY Official, Ahad (11/1/2026).

Menurutnya, ‘menundukkan’ secara umum membawa konotasi hubungan kekuasaan yang timpang, satu pihak (yang lebih kuat atau berkuasa) memaksa pihak lain (yang lebih lemah atau tidak berdaya) untuk patuh atau takluk.

Terlebih, upaya tersebut cenderung memaksakan pengaruh, mengamankan sumber daya, atau bahkan menumbangkan pemerintah yang tidak sejalan dengan kepentingannya sebagaimana AS secara de facto telah menggulingkan Nicolas Maduro dari kekuasaan pada awal Januari 2026 melalui Operasi Absolute Resolve di Caracas, Venezuela.

Kata UIY lebih lanjut, pembebasan dalam berbagai dimensi kehidupan manusia yang menjadi tujuan utama Islam ketika berkuasa, memiliki konsep yang berakar kuat dalam ajaran Al-Qur’an dan teladan Nabi Muhammad SAW, dan memandang kekuasaan sebagai amanah dari Allah SWT untuk menegakkan keadilan dan menghapus penindasan.

Tengoklah betapa Zaman Keemasan Andalusia dari abad ke-8 hingga ke-15 Masehi, tidak hanya menjadi puncak peradaban Islam di Eropa tetapi juga menjadi jembatan penting yang menghubungkan ilmu pengetahuan klasik dengan Renaisans Eropa, meninggalkan warisan abadi dalam sejarah dunia.

“Jangankan umat Islam, orang Yahudi pun juga menikmati the golden age seperti yang dibilang oleh Karen Armstrong itu, ‘The Jews enjoyed their golden age under Islam in Andalusia’,” ungkap UIY.

Lebih jauh lagi, konsep pembebasan ini sejalan dengan jawaban tegas dan lugas dari Rabi’ bin Amir ketika ditanya oleh Panglima Persia Rustum, tentang tujuan kedatangan kaum Muslim menjelang pertempuran besar di Qadisiyah pada musim panas 636 M.

Jawaban Rabi’ bin Amir yang terkenal adalah: “Allah mengutus kami untuk membebaskan siapa pun yang Dia kehendaki dari penyembahan hamba kepada penyembahan Allah semata, dari kesempitan dunia menuju kelapangan dunia dan akhirat, dan dari kezaliman agama-agama menuju keadilan Islam.”

Dengan kata lain, tegas UIY, yang pertama dan utama dilakukan untuk mewujudkan hal itu adalah menanamkan akidah berikut keimanan kepada Allah SWT, yang selanjutnya menjadi dasar dalam setiap langkah dakwah maupun jihad meninggikan kalimat tauhid.

Saat itu, sebut UIY, ketika syariat Islam diterapkan secara kaffah akan tercipta suatu tatanan masyarakat yang adil dan harmonis, di mana relasi kuasa yang bersifat menundukkan dan ditundukkan tidak lagi relevan. “Ketika orang itu mengakui atau mengimani, selesai, sudah tidak ada lagi antara yang menundukkan dan yang ditundukkan,” tegas UIY.

Singkatnya, jelas UIY, tidak pernah ada istilah menguasai dan dikuasai maupun menjajah dan dijajah dalam ajaran Islam. Kalaupun ada, itu baru belakangan dimunculkan oleh kafir penjajah di periode akhir dari Kekhilafahan Utsmani.

Pelajaran Penting

Itulah mengapa, sambung UIY, intervensi AS atas Venezuela maupun ke negara-negara lain, harus memberikan pelajaran penting tentang watak adikuasa Amerika jahiliah, yang tindakannya tidak membawa kebaikan atau keadilan bagi umat.

Di saat yang sama, ia juga mengingatkan perihal kaum Muslim yang secara kolektif memiliki potensi besar untuk mengembalikan kejayaan peradaban Islam, sebuah aspirasi yang berakar dari sejarah panjang kejayaan di masa lalu.

Salah satu di antaranya, potensi faktual dari segi jumlah demografi umat Islam berikut bermacam talenta di dalamnya, yang bahkan menurut Pew Research Center (rilis awal tahun 2025), mencapai lebih dari 2,04 milliar jiwa.

Belum lagi potensi sumber daya alam yang bisa menjadikan umat Islam memiliki daya saing kuat di tingkat global, semisal minyak dan gas bumi yang terkonsentrasi di kawasan Timur Tengah, yang merupakan pusat negara-negara mayoritas Muslim.

Makin menegaskan, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) yang didominasi negara-negara ini pun kini menguasai sebagian besar cadangan minyak mentah global.

Selain itu, wilayah-wilayah strategis seperti Terusan Suez, Samudra Pasifik, Samudra Indonesia juga menghiasi sekian banyak wilayah Islam. “Itu semua sesungguhnya merupakan bekal yang lebih dari cukup untuk dunia Islam kembali kepada kejayaannya,” tandasnya.

Dengan catatan, kejayaan dimaksud tak bisa tegak kecuali Islam menjelma menjadi adidaya seperti halnya Kekhilafahan Islam yang dahulu pernah terwujud. “Karena itu saya kira kita harus berpikir ke sana,” pungkasnya.[] Zainul Krian

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini:

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *