MediaUmat – Di tengah mencuatnya tekanan politik dan ancaman intervensi militer Amerika Serikat terhadap Venezuela, Cendekiawan Muslim Ustadz Muhammad Ismail Yusanto (UIY) mengingatkan bahwa invasi bersenjata bukanlah awal penjajahan, melainkan pukulan terakhir setelah ideologi, politik, dan ekonomi suatu negeri lebih dulu ditaklukkan.
“Intervensi militer itu pukulan terakhir. Sebelumnya ada intervensi ekonomi, intervensi politik, dan yang paling utama adalah intervensi ideologi,” tegasnya dalam Focus to the Point: Venezuela Diserang AS, Bagaimana Islam Cegah Intervensi Asing? di kanal YouTube UIY Official, Senin (5/1/2026).
UIY menegaskan, kekuatan asing memahami betul kaidah dasar penjajahan modern, yakni menaklukkan suatu negeri tidak cukup dengan kekerasan fisik, melainkan harus diawali dengan penguasaan cara berpikir penguasa dan rakyatnya.
“Manusia hanya bisa ditaklukkan jika pikirannya lebih dulu ditaklukkan. Ketika cara berpikir sudah dikuasai, intervensi apa pun akan berjalan tanpa perlu pemaksaan militer,” ujarnya.
Menurut UIY, perang ideologi (al-ghazwul fikri) merupakan garda terdepan intervensi asing. Ketika sebuah negeri menerima konsep kedaulatan selain hukum Allah, maka intervensi sejatinya telah berlangsung meski tanpa satu pun pasukan asing mendarat.
“Kalau pengaturan politik dan ekonomi sudah mengikuti kemauan mereka, maka sebenarnya intervensi sudah terjadi, meskipun mereka tidak pernah datang membawa senjata,” jelasnya.
Dalam perspektif politik Islam, UIY menekankan, ketahanan ideologi menjadi benteng utama untuk mencegah dominasi asing. Negara yang menjadikan Islam sebagai ideologi akan mengatur seluruh aspek kehidupan—politik, ekonomi, sosial, dan pendidikan—berdasarkan syariat.
“Ketahanan ideologi terbentuk ketika masyarakat memahami mengapa mereka diatur dengan Islam dan merasakan keadilan dari pengaturan itu,” ungkapnya.
UIY juga menyoroti pentingnya ketahanan politik guna mencegah lahirnya pemimpin boneka yang tunduk pada kepentingan global. Dalam Islam, pemimpin dipilih untuk melaksanakan kedaulatan syariah, bukan untuk melegitimasi agenda asing.
“Ketahanan politik menjaga agar negeri ini tidak dipimpin oleh figur-figur yang berpikir dan bertindak sebagai perpanjangan tangan kekuatan imperialis,” tegasnya.
Di bidang ekonomi, UIY menyebut ketergantungan finansial dan dominasi mata uang sebagai instrumen utama intervensi asing. Islam, menurutnya, menawarkan sistem ekonomi yang berdaulat, adil, dan bebas dari manipulasi.
“Ketika kebutuhan dasar rakyat terpenuhi secara adil dan berkah, negara tidak mudah ditekan oleh kekuatan asing,” kata UIY.
UIY menegaskan bahwa dalam sistem Islam, kedaulatan negara dijaga oleh ketakwaan penguasa dan rakyat, sementara kekuatan militer berfungsi sebagai pelengkap dalam mencegah segala bentuk intervensi asing.
“Ketakwaan itulah yang akan mencegah penyimpangan dan menutup jalan bagi intervensi asing dalam bentuk apa pun,” pungkasnya.[] Zainard
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat