UIY: Dunia Dikuasai Penguasa Jahat, Krisis Iran Bukti Kezaliman Tatanan Global
MediaUmat – Cendekiawan Muslim Ustadz Muhammad Ismail Yusanto (UIY) menegaskan, krisis yang melanda Iran bukan sekadar persoalan ekonomi domestik, melainkan cerminan tatanan global yang dikuasai penguasa jahat (ruling power) yang tidak tunduk pada aturan, namun memaksa dunia mengikuti kepentingannya.
“Dunia ini dikuasai oleh penguasa jahat. Dia tidak mengikuti aturan, tapi memaksa dunia mengikuti kemauannya,” tegas UIY dalam diskusi Krisis Iran, Intervensi atau Kegagalan Revolusi Islam? yang ditayangkan kanal YouTube UIY Official, Sabtu (31/1/2026).
UIY menjelaskan, tekanan ekonomi yang dialami Iran tidak bisa dilepaskan dari embargo dan sanksi panjang yang diberlakukan sejak Revolusi 1979. Sanksi tersebut membuat Iran tidak bebas menjual sumber daya alamnya yang melimpah ke pasar internasional, sehingga pertumbuhan ekonomi domestik terhambat dan sangat rentan terhadap guncangan.
“Iran itu mengalami embargo yang begitu rupa menyusul revolusi tahun 1979, dan kondisi ini membuat ekonomi domestik tidak tumbuh secara semestinya,” jelasnya.
Meski demikian, UIY menilai ketahanan Iran yang mampu bertahan puluhan tahun di bawah sanksi justru merupakan fakta penting yang kerap diabaikan dalam membaca krisis tersebut.
Menurutnya, tidak banyak negara yang sanggup bertahan di bawah tekanan global selama itu. “Kalau kita hitung, itu lebih dari 45 tahun. Satu negara yang bisa bertahan lebih dari 45 tahun dari sanksi embargo itu sudah poin tersendiri,” ujarnya.
UIY juga menolak anggapan bahwa krisis Iran merupakan bukti kegagalan Revolusi Islam.
Ia menegaskan bahwa revolusi tersebut tidak sepenuhnya menerapkan Islam secara menyeluruh, terutama dalam aspek ekonomi. “Kita tidak bisa mengatakan bahwa revolusi yang terjadi pada 1979 itu betul-betul Islam dalam arti yang sesungguhnya,” tegasnya.
Salah satu kelemahan mendasar, menurut UIY, adalah penggunaan sistem mata uang kertas yang sangat rentan terhadap inflasi dan tekanan global. Kondisi ini membuat daya beli masyarakat terus menurun ketika nilai tukar terdepresiasi.
“Uang kertas itu tidak menyimpan kekayaan secara real. Nilainya tetap, tapi daya belinya terus turun,” jelas UIY.
Dalam konteks global, UIY menegaskan, pasar internasional yang selama ini dipromosikan sebagai pasar bebas sejatinya tidak netral. Pasar tersebut dikendalikan oleh kekuatan tertentu yang menetapkan aturan sesuai kepentingan mereka.
“Pasar global itu bukan pasar netral. Ada aturan yang didikte,” katanya.
UIY juga mengkritik sikap negara-negara Muslim yang tidak menunjukkan solidaritas nyata terhadap Iran.
Menurutnya, ketakutan terhadap sanksi membuat negeri-negeri Muslim memilih tunduk, sehingga justru memperkuat dominasi penguasa global yang zalim.
“Andai negeri-negeri Muslim itu tidak mengikuti sanksi, mungkin akan lain ceritanya. Tapi faktanya tidak, karena negara-negara Muslim itu juga takut terhadap sanksi,” ungkapnya.
Kondisi tersebut, lanjut UIY, semakin diperparah oleh sistem negara-bangsa (nation state) yang memaksa setiap negara menghadapi tekanan global secara sendiri-sendiri, tanpa kekuatan kolektif umat.
“Ketika sanksi diberlakukan, mereka memilih menahan diri dan tidak mau terlibat, karena resikonya dianggap tidak bisa ditanggung,” tandas UIY.
UIY menegaskan, selama dunia Islam tetap tercerai-berai dalam sistem negara-bangsa dan tunduk pada tatanan global yang zalim, krisis seperti yang dialami Iran akan terus berulang di berbagai negeri Muslim.
Menurutnya, hanya dengan persatuan politik dunia Islam dalam sistem khilafah, umat memiliki kekuatan kolektif untuk menghadapi dan melawan dominasi penguasa global yang memaksakan kehendaknya.
“Dunia ini dipaksa tunduk oleh kekuatan yang tidak adil. Mereka membuat aturan, tapi mereka sendiri yang pertama kali melanggarnya,” tegas UIY.[] Zainard
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat