MediaUmat – Terkait pernyataan kalangan yang tak paham dan bahkan membenci Islam lalu menuduh bahwa Islam berlawanan dengan kebinekaan, Cendekiawan Muslim Ustadz Muhammad Ismail Yusanto (UIY) meluruskan, kegagalan merawat kebinekaan bukan disebabkan oleh syariah Islam, melainkan oleh sistem Barat kapitalisme sekuler dan sosialisme yang terbukti melahirkan penindasan atas nama pluralisme.
“Kegagalan merawat kebinekaan bukan disebabkan oleh syariah Islam, melainkan oleh sistem Barat kapitalisme sekuler dan sosialisme yang terbukti melahirkan penindasan atas nama pluralisme,” terangnya dalam siniar Cara Islam Merawat Kebinekaan yang ditayangkan kanal YouTube UIY Official, Jumat (19/12/2025).
Kapitalisme dan sosialisme itu, jelasnya, sudah terbukti menimbulkan keburukan bagi semua, bukan hanya umat Islam, tetapi juga orang-orang selain Islam.
Sistem Barat tersebut (kapitalisme dan sosialisme) justru menunjukkan kegagalan nyata dalam mengelola masyarakat majemuk. Berbagai kebijakan diskriminatif terhadap umat Islam di negara-negara Eropa disebutnya sebagai bukti runtuhnya klaim pluralisme sekuler.
“Di Prancis, Muslimah dilarang memakai burqa, di Swiss menara masjid tidak boleh dibangun,” ungkap UIY.
Menurutnya, fakta-fakta tersebut memperlihatkan perbedaan mendasar antara sistem buatan manusia dan syariah Islam dalam mengelola kehidupan masyarakat yang beragam.
“Fakta sejarah membuktikan non-Muslim hidup damai sejahtera di bawah Islam,” pungkasnya.
Menurut ajaran Islam, tegas UIY, kebinekaan atau pluralitas bukanlah ancaman, melainkan ketetapan Allah SWT yang melekat pada penciptaan manusia. Islam sejak awal mengakui keragaman sebagai sunatullah, bukan sebagai produk kompromi politik modern.
“Kebinekaan atau pluralitas itu satu sunatullah. Allah menciptakan manusia itu beragam-ragam, bersuku-suku, dan berbangsa-bangsa untuk saling mengenal,” jelasnya.
Ia menegaskan, Islam secara prinsip menolak segala bentuk superioritas ras, suku, bangsa, bahasa, maupun warna kulit. Standar kemuliaan manusia dalam Islam bukan identitas primordial, melainkan ketakwaan kepada Allah SWT.
“Tidak ada Arab lebih baik dari ajami (non-Arab) dan tidak ada ajami lebih baik dari Arab. Yang paling mulia adalah yang paling bertakwa,” tegas UIY.
UIY juga menekankan, Islam mengakui keberagaman agama dan secara tegas melarang pemaksaan keyakinan.
Negara dalam Islam, menurutnya, justru berkewajiban menjaga hak pemeluk agama lain untuk menjalankan ibadah sesuai dengan keyakinannya.
“Tidak boleh memaksa orang masuk Islam, menjaga hak mereka untuk beribadah, termasuk menjaga tempat ibadahnya,” ujarnya.
Namun demikian, ia mengkritik keras pandangan yang menjadikan pluralitas sebagai dalih untuk menolak penerapan syariah Islam dalam kehidupan publik.
Menurutnya, masyarakat yang majemuk tetap membutuhkan satu sistem aturan bersama yang adil dan menyeluruh.
“Keragaman itu tidak boleh menjadi penghalang penerapan syariah,” tegasnya.
UIY menjelaskan bahwa syariah Islam mengatur kehidupan bersama dalam bidang ekonomi, politik, sosial, dan budaya tanpa mengganggu pilihan agama, suku, maupun bangsa setiap individu yang hidup di dalam masyarakat.
“Syariah itu tidak mengganggu pilihan agama, tidak mengganggu suku dan bangsa,” pungkasnya.[] Zainard
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat