MediaUmat – Pengamat Media Sosial Rizqi Awal menduga bahwa secara eksplisit dan implisit rencana pemerintah untuk membatasi telepon video WhatsApp (VC WA) dan semacamnya adalah untuk mencari cuan semata.
“Tampaknya ini semata-mata pemerintah sedang butuh cuan ya, setelah keuangan negara yang sedang sukar-sukarnya, jadi menurut saya ini akal-akal semata, karena selama ini mereka membangun jaringan tapi tidak membangun software (perangkat lunak) yang dibutuhkan masyarakat,” ungkapnya kepada media-umat.com, Sabtu (19/7/2025).
Selama ini, sebut Rizqi, pemerintah tidak membangun software yang mendukung jaringan di Indonesia. Ketika ada pembatasan, maka Komdigi dengan para pemain kapital di Indonesia bisa melakukan kerja sama untuk membangun software yang dibutuhkan.
“Jadi, ini membuktikan bahwa pemerintah melakukan kapitalisasi kepada rakyat untuk oligarki di bidang telekomunikasi,” tuduhnya.
Mengingat, keinginan masyarakat untuk berhubungan satu sama lain itu cukup besar dan pembiayaannya lebih murah menggunakan VC WA dibanding pulsa, apalagi melihat ekonomi Indonesia yang tidak baik-baik saja.
Misalkan VC WA jadi dibatasi, menurut Rizqi, pemerintah wajib membangun perangkat-perangkat yang mumpuni dan lebih baik.
“Semisal kalau di Cina, mereka sudah mempersiapkan banyak perangkat agar ketika pemerintah Cina melarang penggunaan WA, Google dan semacamnya maka pemerintah Cina memberi penawaran akses ke sosial media yang dibentuk dan dibuat oleh pemerintah Cina,” tegas Rizqi membandingkan.
Namun, Rizqi merasa pesimis terhadap kepedulian pemerintah kepada masyarakat. Dengan keadaan saat ini, publik tidak bisa mengharapkan perangkat yang dibangun pemerintah akan lebih baik.
“Sementara di Indonesia tidak melakukan itu, jangankan membuat yang lebih baik, ketika ada aplikasi yang ada justru aplikasi ada banyak korupsi dalam proses pembuatannya,” ungkapnya.
Menurut Rizqi, Arab Saudi tidak bisa dijadikan patokan dalam regulasi pembatasan, karena keadaan di sana sangatlah beda, jika ingin membuat patokan, Indonesia harus meniru Cina.
“Kalau mau jadi patokan ya lihat Cina, itu apple to apple (sepadan) karena mereka membatasi ketergantungan kepada semua perangkat sosial masing-masing yang dibuat oleh kapitalis Barat. (Namun) Cina memberikan solusi atas permasalahan-permasalahan tersebut, itu yang menjadi titik poinnya,” pungkas Rizqi.[] Fatih Solahuddin
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat