MediaUmat – Peneliti dari Masyarakat Sosial Politik Indonesia (MSPI) Dr. Riyan, M.Ag. menyatakan selama institusi khilafah tidak ditegakkan, seluruh gagasan kebangkitan dan peradaban Islam hanya akan menjadi wacana kosong tanpa arah dan tanpa realisasi.
“Tanpa khilafah, peradaban Islam itu hanya wacana. Kita butuh kekuatan politik yang mampu menggerakkan nilai-nilai Islam menjadi nyata dalam kehidupan,” ujarnya dalam diskusi kelompok terfokus (focus group discussion/FGD) secara hibrida Membaca Geopolitik-Ekonomi Global: Tantangan dan Arah Baru Dunia Islam, Kamis (5/6/2025) di Bogor.
Apalagi, jelasnya, sejarah telah membuktikan, peradaban Islam mampu memimpin dunia selama berabad-abad, bukan karena keunggulan ekonomi, tetapi karena kekuatan sistem nilai dan kepemimpinan politik yang bersumber dari wahyu.
“Kita dulu punya struktur peradaban: ada pemikiran, ada kekuasaan, dan ada institusi umat. Itu semua sirna setelah Khilafah diruntuhkan,” ujarnya.
Menurutnya, sejak Khilafah Utsmaniyyah diruntuhkan pada 1924 oleh konspirasi kolonial Barat, umat Islam kehilangan institusi kepemimpinan yang menyatukan dan menerapkan syariah secara kaffah. Akibatnya, umat terpecah-belah, kehilangan arah, dan bergantung pada sistem Barat yang justru membawa kerusakan.
“Kita ini seperti anak peradaban yang hilang arah. Kita bangga pada Barat, malu pada Islam. Padahal Islam satu-satunya yang bisa menyelamatkan dunia dari krisis hari ini,” tandasnya.
Diamini Peserta FGD Lainnya
Pernyataan Riyan diamini pula para cendekiawan lainnya dalam FGD hibrida tersebut. Mereka sepakat, tegaknya peradaban Islam mutlak memerlukan sistem yang menegakkan syariah secara kaffah dan dipimpin oleh institusi khilafah.
Selain sebagai kewajiban, jelas Pengamat Hubungan Internasional Hasbi Aswar, Ph.D., secara faktual juga dunia tengah menyaksikan keruntuhan hegemoni Amerika Serikat dan kegagalan kapitalisme sebagai sistem global.
“Amerika sedang kehilangan kontrol. Eropa mulai mandiri dalam isu Palestina. Dunia Islam harus menjadi subjek perubahan, bukan objek konflik!” tegasnya.
Sedangkan Peneliti dari Forum Analisis dan Kajian Kebijakan untuk Transparansi Anggaran (FAKKTA) Muhammad Ishak, menyoroti kegagalan struktur perdagangan internasional dan dominasi dolar, serta mendorong pembentukan poros ekonomi Islam yang merdeka.
Menyambung pernyataan Ishak, Ekonom Pusat Analisis Kebijakan Strategis (PAKTA) Muhammad Hatta mengkritik sistem fiat money dan menyerukan sistem keuangan Islam berbasis dinar-dirham, bukan hanya kosmetik syariah.
“AS cetak uang, dunia kerja keras. Ketimpangan ini disengaja. Ekonomi Islam adalah sistem alternatif,” jelasnya.
Namun menurut cendekiawan Muslim lainnya Dr. Muhammad Salahudin, ekonomi Islam tidak akan berjalan tanpa struktur politik yang menerapkannya secara total.
“Semua konsep ekonomi, pendidikan, dan hukum Islam akan mandek jika tidak ada khilafah yang menopang dan menjalankannya secara kaffah,” ujarnya.
Adapun Pembina Himpunan Intelektual Muslim Indonesia (HILMI) Prof. Dr. Ing. Fahmi Amhar menegaskan perlunya roadmap keilmuan yang terstruktur untuk membangun peradaban. Tanpa struktur negara Islam, ilmu akan dipakai untuk memperkuat sistem sekuler.
“Kalau kita ingin mengarahkan umat pada perubahan, kita harus punya visi keilmuan yang tidak netral—harus ideologis,” ujarnya.
Cendekiawan lainnya Arif B. Iskandar menyoroti kegagalan umat membangun politik alternatif karena masih memakai lensa Barat.
“Kita hanya bereaksi. Kita belum bicara dari paradigma kita sendiri. Kita butuh institusi Islam—bukan hanya diskusi,” paparnya.
Sedangkan Staf Ahli Forum Kebijakan Energi Indonesia (Forkei) Lukman Noerochim, Ph.D. menunjukkan bahwa keunggulan teknologi Barat mulai runtuh. Namun umat Islam belum siap mengambil alih karena tidak memiliki struktur kekuasaan.
“Huawei lampaui Intel. AS tertinggal. Tapi dunia Islam masih jadi penonton,” katanya.
Andri Saputra, kandidat doktor dari Pangkalan Bun, menegaskan bahwa ketergantungan dunia Islam pada sistem Barat harus dihentikan dengan perubahan sistem.
“Kalau kita terus bergantung, tak akan ada kedaulatan. Sistem harus diganti,” tegasnya.
Menutup diskusi, Direktur Pusat Analisis Kebijakan Strategis (PAKTA) Dr. Erwin Permana menyatakan, Islam bukan hanya solusi spiritual, tapi sistem menyeluruh yang harus ditegakkan secara politik.
“Kapitalisme telah merusak dunia. Islam bukan cuma akhlak dan ibadah, tapi juga sistem pemerintahan,” pungkasnya.[] Zainard
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat