Strategi Keamanan Nasional AS dan Ketakutan terhadap Islam

Pekan lalu, Gedung Putih merilis dokumen “National Security Strategy, Strategi Keamanan Nasional” Amerika Serikat yang membahas masalah imigrasi dan dampaknya terhadap Eropa. Laporan tersebut menyatakan: “Dokumen strategi tersebut mencantumkan tantangan yang dihadapi Eropa, termasuk pelemahan kedaulatan nasional negara-negara Eropa oleh Uni Eropa dan penerapan kebijakan imigrasi yang tidak tepat, yang memengaruhi identitas hingga pada titik penghapusan. Imigrasi ditekankan sedemikian rupa sehingga digambarkan sebagai ancaman bagi benua tersebut, di mana dokumen strategi tersebut menyatakan secara harfiah: “Jika tren saat ini (terutama imigrasi) berlanjut, benua tersebut akan menjadi tidak dapat dikenali dalam waktu dua puluh tahun atau kurang.” (alquds.co.uk, 13/12/2025).

Pertama: Christopher Landau, Wakil Menteri Luar Negeri yang memimpin upaya untuk mempromosikan tujuan pemerintah di bidang imigrasi, menulis tak lama setelah dokumen itu dirilis: “Negara-negara besar Eropa adalah mitra kita dalam melindungi peradaban Barat yang kita warisi dari mereka, atau bukan. Tetapi kita tidak dapat berpura-pura menjadi mitra sementara negara-negara tersebut membiarkan birokrasi Brussel yang tidak dipilih, tidak demokratis, dan tidak representatif untuk mengejar kebijakan bunuh diri peradaban.” (aljazeera.net, 14/12/2025).

The Guardian melaporkan bahwa Strategi Keamanan Nasional AS, yang diumumkan pekan lalu, mengklaim bahwa imigrasi ke Eropa akan menyebabkan kehancuran budaya. Penulis berpendapat bahwa dokumen strategu tersebut, yang sebagian besar ditulis oleh Michael Anton, seorang ahli teori terkemuka dari gerakan “Make America Great Again (MAGA)”, menggambarkan imigrasi ke Eropa sebagai ancaman eksistensial yang mengarah pada kehancuran budaya dan mendefinisikan kembali prioritas kebijakan luar negeri AS menjauh dari kemitraan tradisional dengan Uni Eropa dan NATO.

Kedua: Tidak diragukan lagi bahwa isu imigrasi dan suaka telah menjadi perhatian terbesar dalam lingkaran pengambilan keputusan Eropa selama beberapa tahun terakhir, terutama karena benua Eropa memikul beban sebagai tujuan utama suaka dan imigrasi sejak akhir Perang Dunia II. Namun, tahun 2023 menjadi peringatan bagi para pejabat Uni Eropa dengan pengumuman bahwa itu adalah tahun terburuk dalam hal Uni Eropa menghadapi jumlah kasus imigran ilegal terbesar yang tiba di wilayahnya sejak tahun 2015.

Krisis 2015-2016, ketika hampir satu juta orang, sebagian besar dari Timur Tengah, memasuki Eropa, menyebabkan perdebatan yang semakin memanas di dalam negeri. Hal ini diperparah oleh bangkitnya partai-partai sayap kanan Eropa, yang memenangkan kursi signifikan dengan berfokus pada isu-isu imigrasi dan suaka. Dokumen strategi tersebut juga menuduh otoritas Eropa menindak gerakan-gerakan, khususnya menyebut partai-partai sayap kanan.

Di tingkat Eropa, perpecahan itu terlihat jelas dalam reaksi lembaga-lembaga Uni Eropa sendiri. Sementara Komisaris Eropa untuk Urusan Dalam Negeri (Commissioner for Home Affairs), Ylva Johansson, memuji Perjanjian Brussels, menggambarkannya sebagai momen bersejarah, Dewan Eropa untuk Pengungsi mengomentari cuitannya, dengan mengatakan: “Apa yang disepakati hanyalah pelemahan hak-hak orang yang mencari perlindungan.”

Isu imigrasi adalah isu yang sangat kompleks dan sangat sensitif bagi Eropa, sekaligus masalah hidup dan mati. Eropa adalah benua yang sudah sangat tua, sehingga berada di antara dua bahaya: kematian akibat kurangnya jumlah penduduk dan angka kelahiran, serta kebutuhan akan pasar tenaga kerja, perusahaan, dan sektor produksi, juga kekuatan militer dan kebutuhannya akan tentara serta naturalisasi, terutama setelah perang Ukraina.

“Jika Anda menutup pintu (bagi migran), Anda akan membayar harga ekonomi,” kata Jean-Christophe Dumont, seorang ahli migrasi di Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan yang berbasis di Paris.

Bahaya lain yang disebutkan dalam dokumen strategi tersebut adalah apa yang disebut “citra peradaban Eropa”, khususnya setelah kegagalan kebijakan integrasi di Eropa terkait Islam dan imigran dari negara-negara Muslim. Hal ini karena Islam adalah sistem dan pandangan hidup yang komprehensif yang bertentangan dengan kehidupan Barat dalam hal kepercayaan, sistem, dan gaya hidup. Christoph de Vries, anggota Persatuan Demokrat Kristen (CDU) di Bundestag (Parlemen Jerman) dan Sekretaris Negara untuk Dalam Negeri Federal, menggambarkan Islam politik sebagai ancaman yang serius dan signifikan. Hal ini terlihat jelas, misalnya, dalam demonstrasi di Berlin atau di jantung kota, Hamburg, yang secara terbuka menyerukan pembentukan Khilafah di Jerman. Ia mengatakan bahwa ide-ide Islamis “bertentangan dengan budaya demokrasi kita. Ruang-ruang sosial dilanggar, serta kebebasan individu, terutama perempuan dan anak perempuan, ditekan,” sesungguhnya Islam adalah sistem sosial yang “bertentangan dengan nilai-nilai fundamental kita,” sehingga negara harus terus-menerus menghadapinya di semua tingkatan. Ini adalah masalah strategi kemajuan ideologis dan “pengaruh yang ditargetkan dengan kedok kebebasan beragama.” (Pusat Studi Eropa).

Kesimpulannya, dokumen Strategi Keamanan Nasional AS ini bertujuan untuk menyajikan realitas yang suram bagi Eropa: entah dengan mengumumkan kehancurannya karena kebijakan reproduksi Barat dan hubungan antara pria dan wanita, atau ancaman peradaban dan ideologis karena serangan kaum Muslim atas Eropa. Lebih jauh lagi, masalah ini meluas bukan sekadar angka imigrasi, namun juga mencakup angka kelahiran orang Barat yang jauh lebih rendah dibandingkan kaum Muslim, ditambah dengan banyaknya warga Eropa yang masuk Islam, bahkan dengan jumlah yang sangat signifikan. Ketiga poin ini—imigrasi, angka kelahiran (reproduksi), dan masuknya ke dalam Islam—semakin diperumit oleh populasi Eropa yang menua. Masalah ini juga meluas melampaui lapangan kerja, ekonomi, dan pertahanan, yang kurang menjadi perhatian pemerintahan Amerika, yang sedang berperang dengan semua orang, terutama sekutunya, di mana Amerika berupaya menghancurkan Uni Eropa dan memecah apa yang tersisa dari kekuatan ekonomi Eropa.

Namun, kami mencatat bahwa dokumen strategi tersebut menyebutkan sisi perdaban Barat untuk Eropa. Padahal masalah krusialnya ada di sini, yaitu perang dan ketakutan terhadap Islam, bahwa pemerintahan Trump mengungkapkan wajah aslinya dalam perang melawan Islam dan ketakutan Anerika terhadapnnya. Oleh karena itu, pemerintah berupaya menunjukkan indikator berdasarkan penerjemahan ide dan usulan dokumen srategi tersebut ke dalam praktik, dengan mengarahkan kedutaan besar AS untuk mengumpulkan data tentang kejahatan yang dilakukan oleh imigran, mengintensifkan retorika resmi terhadap Uni Eropa, dan merumuskan kembali laporan hak asasi manusia sesuai dengan visi pemerintah. Oleh karena itu, pemerintahan Trump sejak masa jabatan sebelumnya telah memfokuskan perhatian pada bahaya imigrasi, terutama dari negara-negara Islam, karena hal itu membawa alternatif peradaban setelah Barat tidak lagi mempercayai peradabannya sendiri dan ketidakmampuan serta kesalahannya telah menjadi jelas bagi rakyatnya.

Di sini, Trump dan orang-orang di belakangnya memposisikan dirinya sebagai satu-satunya pemimpin dan ahli teori bagi wajah peradaban Barat. Allah SWT berfirman:

﴿وَقَدْ مَكَرُوا مَكْرَهُمْ وَعِنْدَ اللَّهِ مَكْرُهُمْ وَإِنْ كَانَ مَكْرُهُمْ لِتَزُولَ مِنْهُ الْجِبَالُ﴾

Sungguh, mereka telah membuat tipu daya padahal Allah (mengetahui dan akan membalas) tipu daya mereka. Sekali-kali tipu daya mereka tidak akan mampu melenyapkan gunung-gunung.” (TQS. Ibrahim [14] : 46).

Amerika Serikat merencanakan dan membuat tipu daya, dan tipu dayanya sangat keras, seperti yang telah digambarkan Allah dengan tepat: “akan mampu melenyapkan gunung-gunung.” Di sini, gunung-gunung melambangkan keteguhan, kekuatan, dan kestabilan. Tetapi rencana Barat akan menjadi bumerang bagi dirinya. Allah SWT berfirman:

﴿قَدْ مَكَرَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَأَتَى اللَّهُ بُنْيَانَهُمْ مِنَ الْقَوَاعِدِ فَخَرَّ عَلَيْهِمُ السَّقْفُ مِنْ فَوْقِهِمْ وَأَتَاهُمُ الْعَذَابُ مِنْ حَيْثُ لَا يَشْعُرُونَ﴾

Sungguh orang-orang sebelum mereka (kafir Makkah) telah mengadakan tipu daya, tetapi semua tipu daya itu dalam kekuasaan Allah. Dia mengetahui apa yang diusahakan oleh setiap orang. Orang-orang kafir akan mengetahui untuk siapakah tempat kesudahan (yang baik).” (TQS. Ar-Ra’d [13] : 42).

Namun, untuk mencapai hal itu juga membutuhkan penyususnan strategi dalam menanggapi dan mengungkap tipu daya orang-orang kafir, bahkan ini merupakan kewajiban umat Islam, terutama gerakan-gerakan politik, ulama dan para pemikirnya. [] Hasan Hamdan

Sumber: hizb-ut-tahrir.info, 17/12/2025.

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini: