Soal Krisis Iran, Hasbi Aswar: AS Ingin Rezim-Rezim Timteng Jinak

MediaUmat Terkait krisis yang terjadi di Iran, Pengamat Hubungan Internasional dari Geopolitical Institute Hasbi Aswar, Ph.D., menyatakan Amerika Serikat dan Israel ingin rezim-rezim di Timur Tengah adalah rezim yang jinak, lunak dan berkompromi untuk mengamankan kepentingan mereka.

“Itu kenapa Amerika Serikat termasuk juga Israel pada khususnya itu menginginkan rezim-rezim yang ada di Timur Tengah itu adalah rezim yang jinak, rezim yang lunak, rezim yang berkompromi dengan Amerika Serikat dan Israel sehingga kepentingan-kepentingan mereka di Timur Tengah khususnya dalam mengamankan akses minyak termasuk juga untuk menghadapi kelompok-kelompok yang mereka anggap sebagai ekstremis itu bisa mereka lakukan dengan mudah,” ujarnya dalam siniar Fokus: Krisis Iran, Ada Apa? di kanal YouTube UIY Official, Ahad (18/1/2026).

Di kawasan Timur Tengah, sebut Hasbi, Iran memiliki posisi yang penting. Selain memiliki kandungan minyak yang besar, Iran juga memiliki produksi gas yang sangat luar biasa. Di sisi lain, Iran juga selama ini mendukung kelompok-kelompok pejuang di Timur Tengah. Iran punya jejaring perlawanan di Yaman, kemudian di Lebanon, di Suriah, termasuk juga di Irak dan juga termasuk mendukung para pejuang Palestina. Sehingga aktor-aktor yang punya kepentingan di Timur Tengah itu pasti akan selalu menjadikan Iran sebagai target.

Memang, jelas Hasbi, Iran sebelum tahun 1979 punya hubungan dekat dengan AS dan Israel. Bahkan sudah membuat proyek pembangunan pipa untuk kerja sama minyak dengan Israel. Namun semua itu berhenti setelah revolusi Islam Iran pada tahun 1979, dan setelah itu hubungan antara Israel dan Iran menjadi memburuk, dari dulunya teman kemudian menjadi musuh. Termasuk juga dengan Amerika Serikat yang dulunya juga berteman kemudian menjadi musuh.

Akan tetapi, kata Hasbi, posisi Iran sampai hari ini itu masih sangat penting bagi Israel maupun bagi AS. Sebab Iran menguasai Selat Hormus yang merupakan jalur transportasi penting bagi minyak dari negara-negara Arab. Sehingga bagi Amerika dan Israel, apabila Iran berubah kembali wajahnya seperti sebelum tahun 1979 yang lebih ramah terhadap Amerika dan Israel, maka Israel dan Amerika Serikat pasti akan merasa senang. Karena selain bisa menguasai minyak Iran, juga tidak ada lagi penopang dari gerakan-gerakan perlawanan terhadap Israel di Timur Tengah, terutama Palestina.

“Sehingga ketika ada gejolak-gejolak internal di Iran, maka itu pasti akan menjadi peluang besar bagi Amerika Serikat maupun bagi Israel untuk ikut mengompor-kompori atau ikut memanas-manasi masyarakat Iran supaya terjadi perubahan politik,” pungkasnya.[] Agung Sumartono

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini: