Soal Ancaman ke Iran, Trump Tunjukkan Kebrutalan AS

MediaUmat Ancaman Presiden Donald Trump bakal ‘menghantam keras’ pemerintah Iran yang tengah dilanda gelombang protes warga menuntut perbaikan ekonomi, dinilai sebagai kebrutalan kebijakan politik luar negeri Amerika Serikat (AS).

“Ini menunjukkan kebrutalan kebijakan politik luar negeri Amerika,” ujar Direktur Forum on Islamic World Studies (FIWS) Farid Wadjdi kepada media-umat.com, Senin (6/1/2026).

Dengan kata lain, sebagai negara adidaya, AS selama ini merasa dirinya paling benar dan mampu melakukan apa saja demi kepentingannya, termasuk mengintervensi negara-negara lain.

Diketahui, kebijakan luar negeri AS sendiri juga mencakup kepentingan ekonomi maupun keamanan nasional, promosi nilai-nilai Amerika termasuk penyebaran demokrasi dan hak asasi manusia, hingga stabilitas regional dan pengaruh global dengan terus berusaha menjaga keseimbangan kekuasaan di berbagai kawasan kunci di dunia.

Karena itu, menurut Farid, kebrutalan ini dibangun atas dasar keserakahan tanpa memedulikan apa yang disebut oleh mereka sebagai demokrasi, maupun prinsip kedaulatan dari sebuah negara yang juga mereka junjung tinggi.

Celakanya, tambah Farid, PBB sebagai organisasi dunia yang sering digadang-gadang mampu menyelesaikan persoalan-persoalan internasional, ternyata ‘mandul’ dalam hal ini.

“PBB terbukti sekali lagi tidak bisa berbuat apa-apa ketika tindakan-tindakan negara-negara besar, termasuk Amerika, itu sebenarnya banyak melanggar hukum-hukum internasional,” terangnya, seraya menyinggung motif serangan sepihak AS ke Venezuela dan penangkapan Presiden Nicolas Maduro beberapa waktu lalu yang dikarenakan Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia.

Singkatnya, sementara tuduhan resmi AS berfokus pada kejahatan narkoba dan terorisme, konteks geopolitik dan pernyataan eksplisit dari pejabat AS mengenai cadangan minyak Venezuela telah memperkuat pandangan publik mengenai adanya motif ekonomi di balik tindakan tersebut.

Namun ibarat jauh panggang dari api, Farid tak heran karena di dalam Piagam PBB sendiri memiliki banyak ketentuan justru membatasi upaya intervensi yang menghambat penyelesaian perkara secara efektif, yang sebagian besar berkaitan dengan kedaulatan negara dan dinamika kekuasaan global.

Dikabarkan sebelumnya, Presiden Trump memperingatkan Iran akan “dihantam sangat keras” oleh AS, jika lebih banyak demonstran yang tewas selama unjuk rasa memprotes kesulitan ekonomi di negara tersebut.

“Kami mengawasinya dengan sangat cermat. Jika mereka (pemerintah Iran) mulai membunuh orang-orang seperti yang telah mereka lakukan di masa lalu, saya pikir mereka akan dihantam sangat keras oleh Amerika Serikat,” ucap Trump seperti dilansir AFP, Senin (5/1/2026).

Unjuk rasa yang kini marak di Iran, dimulai pada 28 Desember lalu di Grand Bazaar Teheran, pusat bisnis kecil lokal, yang kemudian secara bertahap menyebar ke berbagai wilayah lainnya, dengan para pemilik toko dan pedagang lokal meluapkan kemarahan atas kondisi ekonomi yang tidak stabil.

Bahkan protes yang awalnya dipicu oleh frustrasi atas inflasi yang meroket, kenaikan harga pangan, dan depresiasi parah rial Iran, belakangan diisukan berkembang menjadi gerakan yang lebih luas yang menuntut diakhirinya pemerintahan Republik Islam.

Pentingnya Khilafah Islam

Karena itu, Farid menekankan, untuk bisa mengimbangi arogansi AS, penting bagi seluruh umat Islam memperjuangkan tegaknya kembali Khilafah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah, sebuah konsep ideal tentang pemerintahan Islam yang merujuk pada bentuk negara ideal yang didasarkan pada ajaran Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya.

Artinya, sebut Farid, krisis di Iran, yang berakar dari isu-isu internal (ekonomi, sosial, politik), dipandang memiliki resonansi yang lebih luas dan mencerminkan kerapuhan di tingkat komunitas internasional Islam secara keseluruhan.

Artinya pula, krisis tersebut tidak bisa dilepaskan dari ketiadaan sebuah institusi negara kuat dan representatif untuk umat Islam secara global. “Demikian, (Khilafah) akan memperkuat negeri-negeri Islam, dan membuat negara-negara imperialis itu tidak berbuat seenaknya terhadap kaum Muslim,” pungkasnya.[] Zainul Krian

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini: