MediaUmat – Merespons pemerintah Australia yang melarang anak usia di bawah 16 tahun menggunakan media sosial, Direktur Siyasah Institute Iwan Januar menyatakan sudah saatnya di Indonesia ada regulasi untuk pemakaian gawai dan media sosial.
“Jadi, sudah saatnya ada regulasi untuk pemakaian gawai dan media sosial. Kalau tidak, dampak dari bahaya itu akan dirasakan di masa mendatang,” ujarnya kepada media-umat.com, Kamis (28/11/2025).
Iwan menegaskan, sudah saatnya pemerintah membuat regulasi untuk dua hal. Pertama, pemakaian gawai di kalangan anak-anak dan remaja.
Ia melihat, penggunaan gawai yang berlebihan pada remaja dan anak-anak sudah banyak menimbulkan persoalan kesehatan fisik maupun mental. Mulai dari adiksi atau kecanduan, rendahnya konsentrasi belajar, menurunnya kemampuan berpikir terutama daya ingat, miskin literasi, dan buruknya regulasi emosi.
Secara fisik, beber Iwan, pemakaian gawai yang berlebihan juga menimbukan sejumlah masalah seperti radang persendian leher atau tech neck syndrome akibat keseringan merunduk, gangguan penglihatan, obesitas sampai menurunnya kesehatan akibat kurang tidur.
Kedua, pengawasan dan pembatasan media sosial khususnya untuk anak-anak dan remaja. Menurut Iwan, pembatasan pemakaian medsos di level anak-anak dan remaja, memang sudah saatnya meskipun terbilang terlambat.
“Harus diakui ada dampak positif medsos, tapi tidak sepadan dengan sejumlah bahaya yang bisa menimpa anak-anak,” sebutnya.
Iwan menilai, medsos bagi anak hari ini makin tidak ramah, sebab terdapat berbagai persoalan seperti cyber bullying (perundungan siber), konten pornografi, judol, grooming (manipulasi bertahap) pada anak, pornografi anak dan remaja, sampai human trafficking (perdagangan anak).
“Belum lagi paparan yang bersifat ideologis dan mengancam akidah anak. Mulai dari konten tahayul, syirik, sampai paham liberalisme, sekulerisme, agnostik dan ateis semua bisa diakses oleh anak dan remaja,” bebernya.
Iwan mengungkapkan, kelompok usia anak dan remaja paling rentan jadi korban itu semua. Sebab secara kesadaran sosial, mereka masih rendah dan lemah. Apalagi bila orang tua bertipe permisif atau cuek dengan perkembangan anak, atau terjadi disharmonis dalam keluarga alias anak alami broken home. “Semakin rentan anak dan remaja jadi korban,” pungkasnya.[] Agung Sumartono
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat