Pada hari Rabu, 26/11/2025, Mahkamah Kasasi menolak banding Nicolas Sarkozy dalam kasus yang disebut “kasus Bygmalion”. Pada bulan September tahun ini, Sarkozy juga dinyatakan bersalah karena membiayai kampanye pemilu 2007 dengan uang dari diktator Libya Muammar Gaddafi (https://www.youtube.com/watch?v=UTBzJLWG1fI).
Pada 18 November 2025, Presiden AS Donald Trump menyambut Pangeran Muhammad bin Salman dengan meriah di Gedung Putih. Para wartawan bertanya tentang pembunuhan dan mutilasi jurnalis Amerika keturunan Saudi, Jamal Khashoggi. Melihat itu, Trump langsung menegur jurnalis ABC yang menanyakan hal ini (https://www.bbc.com/russian/articles/c0mxdkjzpvgo).
**** **** ****
Banyak orang mengklaim bahwa AS, Inggris, Prancis, dan negara-negara Barat lainnya konon ingin menghapuskan kediktatoran dan membawa kebebasan serta demokrasi ke negeri-negeri Islam.
Untuk membantah klaim palsu ini, perlu dicatat bahwa Barat sebenarnya tidak ingin demokrasi menyebar di negeri-negeri Islam. Selama beberapa dekade, negeri-negeri Islam berada di bawah tekanan kediktatoran, ketika situasi menjadi tidak terkendali dan kaum Muslim hampir lepas darinya, maka negara-negara adidaya segera melancarkan kudeta untuk mendukung rezim-rezim diktator yang loyal kepada mereka.
Contoh yang jelas dalam hal ini adalah Front Penyelamatan Islam (FIS) di Aljazair pada awal 1990-an, yang hampir mengamankan mayoritas konstitusional. Namun, tentara, yang menganggap hal ini sebagai ancaman bagi rezim, melancarkan kudeta, menenggelamkan aspirasi kaum Muslim Aljazair dalam lautan darah. Musim Semi Arab juga dengan jelas menunjukkan tekad negara-negara besar untuk mempertahankan rezim-rezim diktator dengan cara apa pun.
Misalnya, situasi penggulingan presiden Mesir yang terpilih secara demokratis, Muhammad Mursi, dalam kudeta militer, yang kemudian dicopot dari jabatannya dan dijatuhi hukuman penjara seumur hidup, mengungkap banyak hal. Apa yang telah terjadi di Suriah selama lebih dari 10 tahun adalah contoh lain. Kaum Muslim Suriah yang memberontak terhadap rezim Basyar al-Asad, sekutu AS, membahayakan hegemoni Amerika di kawasan tersebut. Inilah sebabnya Obama berulang kali melanggar batas merah yang telah ia tetapkan sendiri terkait rezim Asad, karena jatuhnya rezim Suriah akan membawa kelompok-kelompok Islamis ke tampuk kekuasaan, yang berpotensi mengarah pada berdirinya Khilafah. Baru setelah memastikan kepentingan mereka di Suriah terpelihara, mereka membiarkan rezim Asad jatuh, yang mengakibatkan pengalihan kekuasaan kepada Ahmad al-Syara’, yang loyal kepada Turki, dan karenanya loyal kepada Amerika.
Selama puluhan tahun, kekuatan kolonial menjarah sumber daya negeri-negeri Islam tanpa mengakui sifat diktator para penguasanya. Namun, ketika Musim Semi Arab meletus, dan menjadi jelas bahwa banyak penguasa tidak akan bertahan, para pejabat Eropa dan Amerika mulai menuduh mantan teman-teman mereka, yang pernah berjabat tangan erat dengan mereka, sebagai diktator, memutuskan hubungan dengan mereka, dan mengakui oposisi sebagai otoritas yang sah di negeri-negeri tertentu.
Semua ini dengan jelas menegaskan bahwa tidak ada seorang pun yang menginginkan kebebasan dan demokrasi bagi negeri-negeri Islam, karena musuh-musuh kita tahu betul bahwa jika kaum Muslim diizinkan menyelenggarakan pemilihan umum yang bebas, mereka akan segera mendapatkan kembali hak mereka untuk menunjuk pemimpin dan hidup sesuai dengan sistem pemerintahan Islam. Oleh karena itu, Amerika dan sekutunya secara terbuka dan terang-terangan mendukung para diktator, seperti yang terjadi ketika Trump, pada masa jabatan pertamanya, secara terbuka menyebut pemimpin kudeta Mesir, Sisi, sebagai diktator favoritnya. Dan hari ini, ia dengan gigih membela Muhammad bin Salman dari serangan jurnalis Amerika, seolah-olah ia adalah pengacaranya yang patuh.
Namun, terlepas dari segala upaya penjajah Eropa, apa yang terjadi di negeri-negeri Islam sedang menuju kesimpulan logisnya, yaitu kemenangan gemilang Islam. Tanda-tandanya antara lain berakhirnya era penguasa seperti Abdun Nashir, yang mencemooh aturan berpakaian Islam bagi perempuan Muslim dan menanamkan gagasan nasionalisme Arab di hati kaum Muslim. Kini, era sementara telah dimulai bagi mereka yang disebut “Islamis moderat tanpa Islam”, yang, sambil terus menerapkan sekularisme, mempraktikkan unsur-unsur Islam tertentu dengan tujuan menyesatkan kaum Muslim.
Era berakhirnya tirani di negeri-negeri Muslim semakin dekat, dan kaum Muslim akan merebut kembali hak mereka untuk hidup sesuai hukum Islam serta warisan intelektual dan sejarah mereka. Hal ini akan mengembalikan kejayaan umat Islam, kemajuan ekonomi dan ilmu pengetahuan, serta menjadikannya mercusuar keadilan dan pembangunan di tengah tatanan dunia sekuler yang korup.
﴿فَسَيُنْغِضُونَ إِلَيْكَ رُءُوسَهُمْ وَيَقُولُونَ مَتَىٰ هُوَ قُلْ عَسَىٰ أَنْ يَكُونَ قَرِيباً﴾
“Mereka akan menggeleng-gelengkan kepalanya kepadamu dan berkata, ‘Kapan itu (akan terjadi)?’ Katakanlah, ‘Barangkali waktunya sudah dekat’.” (TQS. Al-Isrā’ [17] : 51). [] Fadl Amzayev – Kepala Kantor Media Hizbut Tahrir di Ukraina
Sumber: hizb-ut-tahrir.info, 2/12/2025.
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat